Hikayat Para Blandong - Sebuah Peristiwa - Lukisan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 04 April 2016

Hikayat Para Blandong - Sebuah Peristiwa - Lukisan


Hikayat Para Blandong

humus gambut itu telah memahatkan jejak-jejak
telapak-telapak kaki telanjang para lelaki
pundak-pundaknya bertato hitam
berkulit merah semerah daun jati
memanggul kapak di bahu

legenda itu menyebutnya pewaris rama parasu

siulnya melingkari malam merambahi sulur-sulur
matanya bersekutu kunang-kunang menguak
pekatnya malam
sehitam letek kopi yang diteguknya saban pagi
bergegas dari batas ke rimbun sembunyi dari
tatap mata burung
berebut sangkar di dahan atau ranting

engkau yang menjulang langit adalah perem
puanku, di perutmu kupahat jari-jari

konon mereka mewarisi kutukan sejak kelahiran
segala rimba
menetak batang demi batang tak terbatas
bilangan
tiap tetap terakhir membuat darah lelaki menyu
ngai luap-luap
giliran siapa kutebas penggal?

saat batang terakhir berkabarlah sang nasib:
├Čkejemuan itulah sang pemenangnya
mencampakkan engkau dalam liang kubur waktu
di dalamnya tak ada siang dan malam, namun
membuat
matamu perih dan kabur! :


Sebuah Peristiwa

kun fayakun;
peristiwa itu menjadi sebuah tanda tanya
cuaca meleleh jadi sepotong es krim
gaun perempuan-perempuan itu copot sendiri
celana dalam para lelaki mlorot tiba-tiba

mereka pun jadi gemetar
bertukar gaun dengan celana dalam
maka terjadilah:
mereka sibuk saling jilati luka sendiri!

Lukisan (1) 

: pelukis susetya

garis itu rahasia hasrat yang meleleh-leleh
kau biarkan meluap menjadi beratus sungai
warna
kelenjar syahwat yang meletup-letup mendesak
waktu

gairah apa lagi ini, begitu penuh tenung pesona?

hasrat itu masih juga meleleh-leleh
jadi tukang sihir memantrai malam

lukisan itu masih saja menyimpan birahi


Lukisan (2) 

dingin itu kau warnakan
di tubuh-tubuh pucat perempuan
berparfum bunga kenanga

atas nama: pesona
senja kau kabarkan
sebagai rambut perawan purba
menunggu dentang lonceng pernikahan

tubuh-tubuh pucat itu
lengkap air mata
tengadah pada ubur-ubur sunyi
jendela waktu yang lalai
rapuh di makan ngengat
elan terbenam di muara utara


Lukisan (3) 

warna di kanvas itu cermin yang dahulu
memantulkan wajah siang yang lama sirna
dalam ingatan

warna di kanvas itu adalah sihir langit di kelam
malam
namun, bulan telah sungsang terbenam di kali
langit adalah gelap yang mengekal
memaksa kita jadi brutus
khianat yang takut berkaca di cermin sendiri



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 3 April 2016
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi