Luka di Mata Nikita ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 26 April 2016

Luka di Mata Nikita


NIKITA Renjani, nama gadis pendiam itu. Gadis yang rautnya sering terlihat murung, cuek, dan membuat teman-teman SMA-nya enggan mengajak ngobrol. Ah, mana ada teman yang sudi mengajak ngobrol dengan sosok pendiam dan menarik diri dari pergaulan seperti Nikita? Namun, tidak denganku. Ah, mungkin hanya aku teman terdekatnya selama ini. Meski aku sadar jika ia tak pernah tahu bahwa sebenarnya aku sangat peduli padanya.

***

HARI minggu menjadi hari yang paling ditunggu Nikita. Hanya pada hari tersebut rautnya terlihat sumringah. Sebenarnya tk hanya Nikita. Aku pun demikian. Selalu menunggu datangnya hari Minggu. Karena di hari itu aku bisa melihat ia tersenyum dan melihat matanya bersinar. Wajahnya yang putih bersih makin terlihat cantik jika sedang tersenyum. Ya, Nikita memang gadis cantik tapi sejak tiga tahun terakhir ini ia jarang tersenyum. 

Seperti minggu ini. Raut Nikita terlihat sumringah. Telah sepuluh menit ia berdiri di depan salah satu toko yang tutup di Jalan Margo Utomo. Di sana ia janjian bertemu seseorang. Berkali ia memandangi wajahku yang tak henti berdetak melingkari pergelangan tangannya. Tak sabar ia ingin segera bertemu seseorang yang ia rindukan.

"Niki." Sebuah suara lelaki memanggil dari arah samping, membuyarkan kegelisahan Nikita. Suara yang sangat karib di telinganya. Seketika, ia memutar kepala dan langsung tersenyum cerah menyambut kedatangan lelaki itu.

Sementara tanpa ia sadari, beberapa meter di ujung sana, sepasang amta tengah mengawasi tajam dirinya dan lelaki yang kemudian dipeluk Nikita dengan sangat erat. 

***

"MASA sih?" Nadia sangat terkejut mendengar cerita Nola, teman sebangkunya. 

"Iya, kemarin aku lihat... dengan mata kepalaku sendiri!" Nola buru-buru memelankan volume suaranya karena orang yang tengah dibicarakan sedang masuk kelas. 

"Pantas selama ini ia nggak mau bergaul dengan kita-kita, ternyata...." Sindir Nadia sambil melirik ke arah Nikita yang tengah bersiap duduk di bangkunya, tepat di depan meja Nola dan Nadia.

"Ternyata... jadi simpanan Om Om, hihihi...," sahut Nola dengan suara sedikit dikeraskan, membuat Nikita melirik sekilas ke belakang. Namun ia segara mengabaikan. bukan sekali ini saja kedua teman yang duduk tepat di belakangnya itu menggunjing tentangnya. Dan ia tak pernah ambil pusing. 

Namun tidak denganku. Aku langsung meradang acap mendengar Nola dan Nadia menggunjing perilaku Nikita yang misterius. Terlebih hari ini, dengan begitu kejamnya Nola dan Nadia menyebar fitnah dan kemungkinan sebentar lagi akan menyebar luas ke teman-temannya. Ah, seharusnya Nola tak lekas menyimpulkan saat melihat kejadian kemarin di depan toko itu.

Duh, rasanya ingin sekali kutampar mulut Nola dan Nadia. Kalau perlu kujambak-jambak rambutnya. Namun, apalah dayaku. Aku hanya sebuah jam tangan mungil warna hitam yang selalu setia menyertai ke mana pun Nikita pergi. Percakapan Nola dan Nadia yang masih sibuk menggunjing Nikita baru berhenti ketika Bu Ida, guru wali kelas ini, masuk ke dalam kelas. 

***

"EH, itu kan lelaki yang kemarin," Nola menghentikan langkah spontan seraya menajamkan pandangannya. Nadia yang berjalan bersisian ikut berhenti dan memandang Nola dengan dahi mengerut.

"Lelaki? Siapa sih, La?"

":Yang aku ceritain barusan, lelaki yang bersama Nikita kemarin." 

"What?

Pandangan Nadia langsung melebar dan langsung mengikuti arah pandang Nola yang tengah menatap penuh selidik ke arah lelaki di ujung jalan.

***

"PAPA!" seru Nikita.

Lelaki yang tengah duduk di bangku kayu di depan warung ujung jalan itu menoleh dan tersenyum. Nikita segera menyalami tangan lelaki itu dan mencium punggung telapak tangannya.

"Udah nungguin lama, Pa?"

"Ah, nggak juga, baru beberapa menit, kok."

Kemarin papa berjanji mau menjemput NIkita sepulang sekolah. Papa mau mengajak Nikita membezuk eyang kakung atau ayahnya papa yang tengah terbaring di rumah sakit. Sudah sepekan ini eyang dirawat di sana karena terserang stroke.

Nola dan Nadia yang diam-diam tengah menguping di samping tembok warung, mendadak kaget bukan main dan spontan saling pandang dengan dahi mengerut.

"Papanya Niki tuh, La," bisik Nadia dengan raut menyalahkan Nola. Nola hanya nyengir sementara jauh di dasar lubuk hati merasa sangat bersalah karena terlalu cepat menyimpulkan apa yang ia lihat kemarin.


***

"MAAF, Pa, Niki nggak bisa lama-lama, takut Mama curiga kalau Niki kesorean sampai rumah."

Papa mengangguk, tersenyum memaklumi. Ah, tentah sampai kapan ia dan Nikita bisa selalu bersama-sama tanpa sembunyi-sembunyi seperti hari ini. Sejak bercerai dari mama tiga tahun silam, hak asuh Nikita jatuh di tangan mama. Sayangnya mama melarang papa bertemu dengan putri semata wayangnya itu. Inilah yang membuat papa merasa sangat kecewa dan akhirnya memilih untuk bertemu dengan NIkita tiap akhir pekan secara diam-diam. 

Ah, tak hanya papa yang kecewa. Dulu Nikita adalah gadis riang dan supel, tapi sejak papa dan mama bercerai dengan berdalih (katanya) sudah tak ada kecocokan lagi di antara mereka, ia berubah menjadi sosok gadis pendiam, tertutup, dan selalu tampak murung.

Sebagai satu-satunya teman yang selalu setia melingkari pergelangan tangannya, aku hanya bisa berdoa semoga kelak Nikita mampu bangkit dari kesedihan ini. Ah, andai aku bisa berubah wujud menjadi manusia, tentu aku akan setia menghibur luka hati Nikita yang selalu terpancar di kedua bola matanya yang indah tapi selalu berkabut mendung itu. [] Puring Kebumen, 6 April 2016

Sam Edy Yuswanto Purwosari RT 1 RW 3 Puring Kebumen 54383 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 1 Mei 2016
Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi