Perempuan Limited Edition (11) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 04 April 2016

Perempuan Limited Edition (11)


SEMENTARA itu mobil sudah memasuki halaman rumah sakit yang dituju, setelah bersibuk-sibuk mengurus segalanya, Nadia kembali masuk mobil. Tarikan napas panjang Nadia membuat Oscar melirik ke samping.

"Harus digip, Os," kata Nadia dan pandangannya tetap ke depan.

"Kamu tetap seperti dulu Dhea, perhatian terhadap orang lain."

Nadia hanya tersenyum tipis.

"Keluarga tidka mampu, dulu pernah bantu aku saat genteng rumahku ada yang epcah. Orangnya baik tapi sayang musibah tak pernah kita tahu kapan datangnya," ujar nadia.

"Bersyukur dia punya ettangga sepertimu Dhea," jawab Oscar dan lagi-lagi nadia hanya menarik sudut bibirnya.

"Istrinya kebingungan untuk membayar rumah sakit dan selanjutnya jika suaminya belum pulih, dia mau makan apa ceritanya tadi."

"Lalu?"

"Aku juga bingung sebenarnya, namun tadi sudah aku tenangkan bahwa aku akan membayar biaya rumah sakitnya dan dia akan mencicilnya dengan ikut membantu aku mencuci pakaian dan bersih-bersih rumah katanya," jelas Nadia.

"Baguslah kalau dia mau mencicil dengan bekerja begitu, jadi tidak hanya memanfaatkan kebaikanmu."

"Pikiranmu kok jelek ama sih?"

"Aduh Dhea berapa orang sih yang pernah kamu bantu yang akhirnya menghilang tanpa tanggung jawab?" Oscar seolah mengingatkan.

"Ya kebetulan saja orang-orang itu memang mentalnya aji mumpung. Tapi mudahan saja yang ini tidak demikian."

"Dulu kamu juga selalu  begitu jawabannya! Ingat dengan pemulung yang menipu kamu waktu itu?" kata Oscar dan Nadia tertawa.

"Iya, asem orang itu membodohi aku!" kata Nadia masih dengan tawanya.

"Kadang orang baik itu cenderung dibodohin orang karena akan dimanfaatkan."

"Ah kamu ini, masak orang harus jadi jahat sih?" protes Nadia.

"Bukan harus jadi jahat, tapi kamu ini over Dhea jika menolong orang. Kamu ini hanya hidup dengan anakmu satu tapi yang kamu pikirin kayak punya anak sekabupaten."

Nadia tertawa lepas. Lupa jika kedatangan Oscar kali ini untuk membahas hubungannya dengan Rivan.

***
"KAK Oscar belum berani menyampaikan apa-apa ke Papa. Namun Kakakku yang lain tidak setuju," kata Rivan menjelaskan.

Nadia hanya menarik napas panjang, memainkan kuku tangannya sambil otaknya berjalan-jalan entah ke dunia mana. Ia sendiri tidak berani komunikasi lagi dengan papanya Rivan sejak Nadia mempunyai  hubungan istimewa dengan Rivan. Padahal dulu, saat bersama Oscar, Nadia sering bicara di telepon. Bahkan ketika bertemu lagi dengan Oscar dan Rivan, sering membantu Nadia di rumah, Nadia mulai akrab kembali dan papa Rivan bilang:

"Ya udah gak papa, meskipun batal jadi menantu, sekarang papa punya anak satu lagi di Yogya selain Rivan."

Begitu yang disampaikan ke Nadia saat mengetahui anak bungsunya menjadi dekat dengan Nadia. Mungkin orangtua Rivan tak pernah berpikir sedikitpun bahwa anak bungsunya akan menggantikan posisi Oscar anak pertamanya. Apalagi Rivan terpaut usia lumayan dengan Nadia.

"Pokoknya Papa titip Rivan ya, Dhea." Begitu pesannya ke Nadia setiap habis bicara dan hendak menutup telepon.

Sekarang justru Rivan yang menjaga anaknya. Kegelisahan Nadia semakin nampak mengingat  pesan-pesan itu. Apa kata papa jika sampai tahu nanti? Apakah dirinya tidak dibilang pagar makan tanaman?

"Apa sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini Van," usul Nadia setelah otaknya lelah mengambil jalan yang harus ditempuh.

"Apa?" kata Rivan sambil menautkan alisnya yang tebal. Nadia diam, menunduk lagi dan semakin nampak kegelisahannya.

"Mmeang Mama bisa? Kita pernah coba bukan di awal-awal perasaan kita nyambung?" Rivan mengingatkan.

Nadia menarik napas panjang sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya sambil berkata pelan.

"Aku nggak tahu Van."

"Gimana kalau kita keluar dari Yogya dan pindah di mana kita tidak mengenal siapa pun dan hanya mengenal lingkungan baru dan kita menikah di sana?"

"Aku nggak setuju Van!" Suara Nadia terdengar tegas.

"Jadi harus gimana?"

"Kamu nggak mikir kuliah kamu?"

"Ya maksudku setelah aku lulus."

"Papa kamu menginginkan kamu melanjutkan S2 van."

"Aku tidak akan melanjutkan jika Mama setuju usulku."

"Jangan Van, aku tetap tidak enak dengan Papamu. Papamu selalu mengingatkan aku untuk support kamu, mana mungkin justru aku sendiri yang mematahkan?" Suara Nadia meninggi saat mengucapkan kalimat terakhir.

"Jadi gimana?" Rivan mulai kesal.

"Kita coba usulku tadi."

"Kita pisah?" tanya Rivan bukan pelan lagi suaranya.

"Kita coba Van."

Rivan menggeleng-geleng kepala.

"Orang kok sukanya coba-coba nasib."

"Tidak ada jalan lain Van, dan mungkin kamu bisa cari pacar lagi," ucap Nadia tak memedulikan perasaannya saat mengatakan Rivan agar cari pacar lagi.

"Sudah gila apa Mama ini!" Rivan marah.

"Bukan gila Van. Tapi terpaksa."

"Apa Mama memang sudah tidak mencintai aku lagi sebenarnya?" Rivan memojokkan Nadia.

Dan rasa sakit menjalar ke tubuhnya dan langsung menembus ulu hati. Mengatakan untuk berpisah saja Nadia sudah menekan perasaannya sedemikian rupa, lalu menyuruhnya mencari pacar, itu sudah merobek hatinya sendiri, sekarang Rivan berpikiran bahwa dia tidak mencintainya lagi. Begitu menyakitkan kata-kata itu di telinganya hingga menjalar ke tubuhnya. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono
. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 3 April 2016
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi