Perempuan Limited Edition (14) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 25 April 2016

Perempuan Limited Edition (14)


"CARI es di mana?" tanya Tika ogah-ogahan karena merasa lebih tertarik batik daripada membasahi kerongkongannya. 

"Di atas ada foodcourt," jawab Nadia masih dengan menggandeng tangan Tika menuju lantai atas.

"Pegangin dulu tasku Mi, aku pesen dulu," kata Nadia pada Radmi setelah mendapat tempat duduk. 

Setelah menemukan minuman es cendol favoritnya, Nadia kembali ke tempat duduk.

"Bagus sekali batik yang kopel tadi," kata Tika masih ke batik otaknya.

"Hehehe...," jawab Nadia. sekenanya, karena Nadia kurang paham soal batik.

Sementara itu Radmi melihat sosok orang mirip Rivan berjarak enam meja di depannya. Radmi segera memberitahu Nadia. 

"Ibu, bukannya itu Oom Rivan?" teriak Radmi.

Nadia kaget dan segera menengok ke arah yang ditunjukkan Radmi. Benar, di sebelah sana ada Rivan bersama dua anak kecil cowok cewek dan seorang wanita memakai Hijab. Rivan terlihat sangat segar dan bahagia.

"Rivan," gumam Nadia.

Beberapa detik jantungnya terasa berhenti. Kemudian Nadia memejamkan kedua matanya sambil menarik napas panjang dan terasa detak jantungnya berjalan normal kembali.

Hanya sebatas itu, tidak ada gejolak apapun di hatinya lagi. Datar dan terasa tak ada getaran sama sekali. Nadia merasa heran mendapati ini semua. Ke mana rasa yang dulu pernah ada yang telah membekukan hatinya? Secepat kilat Nadia memberontak untuk menemukan jawaban pertanyaan hatinya? Hanya satu yang bisa ditemukan: ia rindu sosok Rivan yang dulu, bukan yang seperti dilihatnya barusan. Nadia menggelengkan kepalanya tanda heran dengan dirinya sendiri.

Berapa tahun dia tidak bertemu? Sehingga sosoknya sangat berubah. Itu pasti istri dan anak-anaknya katanya dalam hati.

"Kenapa Dhe?" tanya Tika melihat Nadia menggelengkan kepala dan Nadia menjadi sadar.

"Ssst, itu yang namanya Rivan," jawab Nadia sambil memberi kode di sebelah mana Rivan duduk.

"Haah? Kok bisa ada di sini? Bukannya dia di Manado?"

"Mungkin lagi liburan," jawab Nadia sambil mengangkat pundaknya.

"Olala, dunia ternyata sempit ya. Bisa-bisanya ketemu di sini," kata Tika lagi yang sedikit banyak tahu ceritanya tentang Rivan, walaupun tidak pernah tahu orangnya.

"Aku samperin dulu ya Tik, dia nggak tahu kalau aku ada di sini."

"Ada istrinya, kamu sudah bisa menata hatimu?" tanya Tika mengkhawatirkan Nadia.

"Tenang Tik, aku sudah tidak ada getar lagi. Cuma kaget aja tadi saat Radmi ngasih tahu," ujar Nadia sambil mengangkat alisnya.

Tika hanya geleng-geleng kepala melihat Nadia yang sudah dikenalnya lama semenjak satu kos saat sama-sama masih kuliah. Tika sangat tahu kalau Nadia sangat alergi jika harus berhubungan dengan suami orang apapun alasannya.

"Hai Oom," sapa Nadia tetap memanggil Oom seperti dulu menirukan Adrian semasa kecil. Yang disapa menoleh kaget.

"Mama?!" Rivan membelalakkan matanya dan segera menutup mulutnya sambil melihat istrinya. Mungkin merasa tidak enak karena kelepasan dengan memanggil mama dan segera mengulangi.

"Nadia? Kenapa bisa di sini? Kamu masih menetap di Yogya?" tanyanya sambil memersilakan duduk dan mengenalkan istri beserta anaknya.

"Aku yang mestinya tanya kenapa kamu bisa di sini. Kalau aku kan tetap masih cinta Yogya dari dulu," jawab Nadia santai tanpa adanya rasa canggung atau kikuk sama sekali.

"Ya ya benar mestinya kamu yang tanya itu," jawab Rivan sambil ketawa.

"Gimana kabar Adrian sudah kelas berapa sekarang?"

"Sudah kuliah malah Oom."

"Oh ya? Di mana?"

"UGM teknik sipil."

"Hebat anak itu." Rivan manggut-manggut entah apa yang ada dalam hatinya.

Nadia merasa justru Rivan yang terasa kikuk dan canggung. Mungkin karena ada istrinya atau apa, Nadia tak tahu. Setelah berbasa-basi, Nadia segera pamit ke mejanya.

"Gimana?" tanya Tika.

"Biasa aja tuh, aku sendiri juga heran. Mungkin tidak seperti Rivan dulu yang rambutnya panjang kali ya."

"Aduuh Dea, kamu ini aneh. Masak gara-gara rambut aja bisa langsung ilang rasa kamu?" protes Tika.

"Emang kenyataannya begitu mau diapain? Lagian udah jadi suami orang."

"Kalau itu aku bisa ngerti tapi kalau gara-gara rambut? Nggak masuk akal deh," kata Tika.

Nadia hanya mengangkat pundaknya dan segera menghabiskan minumannya.  ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 24 April 2016
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi