Si Pincang ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 26 April 2016

Si Pincang


BEGITULAH, setibanya di alun-alun kota, Si Pincang pergi ke toko kering di perempatan. Firasatnya mengatakan, hari itu, dia hanya perlu berkeliling ke lima toko, memutar searah jarum jam, memandangi Alun-alun kota yang air mancurnya selalu kering, tamannya pucat, tanahnya tandus dimakan kemarau, taman baca mungilnya dipakai berpacaran setiap lepas tengah malam, dan omelan istrinya tadi malam bisa sekali lagi teredam--persis seperti bunyi weker di bawah bantal. Ia tahu dengan jelas bahwa misinya, seingkali, memerlukan pengorbanan duniawi. Ia ingat nama-nama besar pada masa lalu: yang menggembala ternak dan yang dibunuh di bawha pohon, yang dilarungkan di sungai dan yang dimakan ikan paus. Setiap Si Pincang punya jalan dan ia akan menemukan jalannya sendiri. Dan, ia memang menemukannya.

BERTAHUN-TAHUN yang lalu, ia masih tidur di dalam rumah seharga Rp 800 juta,di sebuah perumahan mewah yang dekat dengan pusat bermain pseudo natural--yang menawarkan bagumu sensasi ketegangan dan adrenaline--yang tersembunyi berkilometer dari kemacetan jalan provinsi, dan dijaga secara berlapis-lapis oleh satpam yang tak pernah tidur. Sebuah rumah berkamar dua, berkamar mandi, berhalaman kecil, dengan sofa dan televisi dan rak buku dan karpet. Turki, dapur dan perlengkapannya yang modern, dua unit sepeda motor yang diparkir begitu saja di halaman depan. Si Pincang pergi kuliah pada pagi hari, minum teh di halaman belakang sambil membaca buku pada sore hari, melanjutkan proyek software pada malam hari: mencoreti dinding kaca, membuka-buka buku, menggambar grafik, berdiskusi hebat dengan patner-nya yang terkantuk-kantuk.

Engkau mungkin, sebagaimana aku, bertanya kenapa tiba-tiba lelaki ini bisa memiliki begitu banyak lalu kehilangan tak kalah banyaknya. Izinkan aku bercerita agar runut ke belakang: Si Pincang adalah seorang lelaki pendek kurus berkulit pucat dengan suara parau dan kacamata bulat, masuk ke fakultas Fisika dan nyaris dikeluarkan karena nilai yang pas-pasan. Otaknya yang bak siput diperparah dengan kebiasaan kami begadang setiap malam, menghabiskan berbungkus-bungkus rokok, membaca komik, menonton film. Menjelang ujian akhir semester II, Si Pincang dengan sengaja menyewa 24 voume komik Naruto, tak belajar sedikit pun. Aku, dengan melankolia yang memalukan, mesti menulis puisi dan kata-kata perpisahan karena nilai Si Pincang anjlok dan dia akan dikeluarkan.

Namun, setiap Si Pincang memang punya jalan dan ia menemukan jalan kembali ke fakultas.

Ia jatuh cinta kepada seorang kakak kelas, yang jenjang kakinya, montok dadanya, lebar pinggulnya, ketat pakaiannya, yang dua bulan kemudian menjadi seorang panjang roknya, menutup sleuruh badannya dengan kerudung, dan minimalis dandanannya. Putus dari sana, Si Pincang jadian dengan sahabat sang mantan yang juga jenjang kakinya, montok dadanya, lebar pinggulnya, rok selutut kesukaannya. Satu bulan sebelum putus, gadis itu jadi rajin salat, anak-anak Rahis pergaulannya.

Si Pincang menjadi "si pincang" dalam kehidupannya, dalam gembala yang mengekor ke mana ia menuju. Dengan cara itulah dia melupakan keberadaanku.

**
KESENDIRIAN, bagaimanapun adalah bentang jarak. Ia merentangkan kita, bahkan dari kita sendiri. Momentum itulah yang mengubah Si Pincang. Ia merenungi apa yang ia lakukan selama ini, kebiasaan-kebiasaannya selama berbagi kos denganku. 

Keesokan harinya, ia menelefon ibunya (pengacara kenamaan di Sulawesi) dan ayahnya ( seorang fotografer berbakat), suatu pembicaraan yang berakhir dengan rumah delapan ratus juta itu. Ia berhenti merokok, berhenti begadang, mengganti bacaan dengan buku-buku how to dan bisnis, pindah ke rumahnya setelah sewa kos habis, dan merekrut patner untuk membangun software yang nantinya akan mempertemukan investor dengan tenaga ahli.

Sesekali, ia mengundangku ke rumahnya. Kami minum teh bersama, berdiskusi di meja makan, menonton TV. "Tiba-tiba aku merasa tersesat, amat tersesat, Kawan," keluhnya berderai air mata. Si Pincang pergi ke kamarnya tepat pukul 9 dan aku sendirian tidak bisa tidur di tengah rumah yang sunyi senyap. Dengan kantuk yang berat, aku mendapati ia bangun pukul 4, salat malam, membaca buku, salat Subuh, dan langsung membersihkan rumah dan memasak.

Tiga bulan kemudian, ketika Si Pincang duduk di halaman belakang sambil membaca buku--dengan spidol terselip di antara jemarinya--seseorang--atau sesuatu--memeluknya dari belakang, merengkuh begitu kuat hingga muka lelaki itu memucat, nyaris kehabisan napas. Ketika aku datang keesokan harinya, ia menyeduh teh manis dan mengajakku berbicara serius di ruang tamu. "Aku tahu Engkau akan menganggapku gila," ujarnya, wajahnya pucat pasi, keningnya berkeringat. "Aku sudah memikirkannya lama dan aku tidak pinya alasan untuk tidak memercayaimu--hanya memercayaimu--ya," lanjutnya menimbang-nimbang, ragu sendiri, "Apakah benar dugaanku, Aku bisa memercayaimu?"

"Tentu."

"Bahkan jika apa yang Aku ucapkan mengganggumu?"

"Bahwa dia, misalnya, gay?

"Bukan," jawabnya, seperti membaca pikiranku. "Ini jauh melampaui segala pradugamu."

Kami bersitatap beberapa waktu, sama-sama terdiam. Dia menghela nafas panjang. "Aku pernah bilang bahwa aku merasa sedang dipersiapkan untuk sesuatu," katanya. "Nah," lanjutnya dengan senyum merekah, "Sesuatu itu telah datang."

**
"GILA!" teriakku, menyumpah-serapah. Namun, Si Pincang bergeming. Dengan gaya seorang bijak, ia menjelaskan kepadaku bahwa tidak apa-apa untuk menjadi terkejut. Tuhan "merevisi" kehendak-Nya ihwal nabi terakhir. Kekacauan telah sedemikian memuncak sehingga seseorang harus "diutus" untuk meluruskan moral. Ia mengingatkanku bagaimana perubahan dua mantannya semenjak berpacaran dengannya dan bahwa ia kini tercerahkan dan menemukan jalan, dan bahwa... "Aku berharao engkau adalah Abu Bakar-ku."

Aku pulang tanpa mengucapkan selamat tinggal. Aku bahkan tidak pernah menemuinya. Itu tidak sulit karena, rupanya, Si Pincang tidak merasa perlu untuk mengikuti perkuliahan. Kendati kalut dan kesal, aku tetap memasang telinga. Suatu Minggu sore, aku bertemu Dani, lalu menanyakan kabar kawanku itu. Dia menjawab, "Dia bilang ingin melakukan sedikit perubahan dalam software itu."

"Seperti?"

"Dia merasa bisnis tidak lagi relevan ketimbang isu Kebenaran--aku tidak tahu apa maksud kebenaran itu. Dia tetap akan membayarku, katanya, bahkan rumah itu dia jaminkan."

"Aku tidak mengerti."

"Dia menganalogikan: software kami itu tidak akan lagi mempertemukan investor dengan tenaga ahli, tetapi seorang 'si pincang' dengan 'umat-umatnya' yang tersesat," jawabnya sambil tergelak.

"Masya Allah."

"Kau tahu dia tidak serius kan?"

Aku mengunjunginya sore itu juga, berharap ia menghentikan ulahnya. "Engkau akan dihakimi massa. Aku tak peduli pada semua fantasimu, tetapi tolong, kalau kau.."

"Ada nabi-nabi yang dibunuh, ada nabi-nabi yang dikejar raja zalim, yang dilempar ke kobaran api. Kenapa aku harus takut?"

"Tapi..."

"Dengar, Kau boleh tidak memercayaiku--belum memercayaiku, Aku yakin pasti akan ada waktunya--tapi lihatlah ini," dia menyorongkan satu map berisi berkas-berkas, "Dosen, politikus, pengusaha, prorgammer, dokter... mereka-mereka yang tercerahkan dan berbaiat."

"Tuhanku!"

"Ide-ide yang kutawarkan berdasarkan wahyu--berdasarkan wahyu yang datang kepadaku, Kawanku--tidak menyalahi agama mana pun: aku adalah penyempurna, aku adalah kebaikan itu sendiri!"

Astaghfirullah!"

"Manusia telah terlalu terpecah--yang satu menyerang yang lain, yang satu membunuh yang lain--karena kita dipimpin dalam pola kepemimpinan yang terpecah-belah. Aku adalah pemimpin, dan Aku ditugaskan menyatukan umat manusia dalam satu kepemimpinan tunggal."

"Kau gila."

"Bank-bank, kau lihat, sebagai bagian dari liberalisasi yang memabukkan dan membunuh ini, telah mencederai kemanusiaan, memiskinkan manusia, memangsa saudara-saudara kita yang kelaparan oleh sistem bunga yang mencekik itu--Aku akan membubarkan semuanya dan menggantinya dengan satu sistem tunggal, di mana setiap orang bisa makan roti miliknya tanpa cemas akan hari esok."

**
KETIKA software itu telah selesai dan ia mulai menggunakannya sebagai sarana penyeruan, banyak orang datang kepadanya sebagaimana banyak pula golongan yang mencerca dan melaknatnya. TV-TV menyiarkannya berulang-ulang dalam headline news, dalam diskusi pada jam prime time, dalam acara gosip. Akun-akun bodong memberitakannya dengan berbagai kepentingan: pro dan anti, bergantung pangsa pasar dan pemasok iklan. MUI angkat bicara. FPI berdemonstrasi di hadapan kantor presiden dan kepolisian.

"Bubarkan aliran sesat! Bunuh nabi palsu!"

"Pateni!"

"Allahu Akbar!"

Aku berkunjung ke rumahnya--yang kali ini dijaga ketat oleh sekumpulan pemuda dengan kain hitam tersemat di lengan kanan--dan setelah diinterogasi, aku diizinkan masuk. Sang Si Pincang rupanya sedang sakit, dirawat oleh dokter yang pasti adalah salah seorang pengikutnya yang setia. Setelah hanya tinggal kami berdua, aku bilang bahwa dia harus lebih banyak istirahat, teratur makan dan minum, dan mengabarinya kalau-kalau ia butuh pertolongan.

"Kau hendak membawaku ke rumah sakit jiwa, tetapi Aku katakan padamu, Aku masih mengharapkanmu menjadi Abu Bakar-ku."

Aku memngingatkannya pada John Nash, ilmuwan kesukaan kami, bagaimana ia larut dalam kegilaan dan bagaimana ia berjuang untuk sembuh.

"Jika saja aku tidak mengenalmu dengan baik, Kawanku," ujarnya.

"Aku akan menganggapmu sedang menghinaku dan aku bisa mendoakan kutukan untukmu dan keluargamu."

Polisi menangkapnya tiga hari kemudian setelah terjadi kerusuhan besar. Demi mendengar itu, kendati sibuk mengurusi skripsi dan sidang, aku tetap menyempatkan diri menjenguknya di penjara. "Aku punya kenalan seorang psikiater," ujarku.

Dia mendengus. "Ada padaku beban duniawi yang harus segera kutanggalkan agar Aku dapat terbang ke mana wahyu menuntunku."

"Diamlah."

"Sertifikat rumah dan motor dan segala yang kupunya Aku hibahkan kepadamu."

"Tidak boleh."

"Umatku yang seorang notaris telah mengaturnya."

"Tidak mungkin."

"Yang demikian agar Aku bisa menyucikan perjuanganku--menjadi Isa, seperti Yesus."

Air mataku tergenang. "Apa orangtuamu tahu?"

Si Pincang terdiam. "Aku masih berdoa agar mereka mengikutiku, tapi doaku belum dikabulkan."

Aku memalingkan muka, menahan sedu sedan. "Aku tahu hatimu lembut, Kawanku," ujarnya. "Ini cobaan. Tapi tenanglah. Tadi malam, Jibril datang kepadaku dan mengatakan kabar gembira tentangmu."

Memalingkan wajah, aku bergegas meninggalkannya. Kian lama kian tak tahan. Betapa telah jauh lelaki itu kehilangan jalan.

**
SEJAK saat itu, aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang Si Pincang. Sertifikat rumah dan segalanyakukirimkan kepada orangtuanya di Sulawesi. Konon, ibunya bergegas menemuinya di penjara, mengeluarkannya dengan sejumlah tebbusan, membawanya ke rumah sakit jiwa di Eropa, emngasingkannya di sana selama dua tahun ketika tiba-tiba lelaki itu lenyap pada suatu musim panas di Budapest.

Setelah lulus dengan tidak memuaskan dan wisuda satu bulan kemudian, aku diterima menjadi tim riset kehutanan di Riau selama dua bulan, tempat aku bertemu seorang Jepang yang membantuku bekerja di negeri Sakura itu selama 5 tahun, menikah dan memiliki anak, menyisihkan sebagian penghasilan untuk modal usaha yang dijalankan adikku di Indonesia.

September tahun itu, aku pulang. Pada Senin pagi, ketika aku pergi mengecek toko buku yang dikelola adikku itu. Ia menyambutku dnegan hangat lalu memperkenalkanku kepada seluruh karyawan. "Kau mengelolanya dengan baik," ujarku. Aku berjalan mengamati setiap buku di rak, terpaku pada satu buku biografi Steve Jobs, buku yang persis sama yang berada di sudut terhormat rak buku milik Si Pincang.

"Pak," seorang karyawna membangunkan lamunanku sambil  menyodorkan proposal. Aku melihat proposal itu lalu mengangkat pandnag dan terpaku pada sesosok lelaki yang terpincang-pincang, berdiri di pintu toko. Ia mengenakan baju koko usang, sarung belel, dan peci yang seperti dijilat kucing. Bahunya separuh bungkuk. Di kulit wajahnya yang sepucat mayat, terdapat beberapa luka bakar.

"Sudah bertahun-tahun meminta sumbangan, tetapi masjidnya tidak kelar-kelar," gerutu si karyawan.

"O ya?" jawabku, sembari merogoh saku. "Biar aku saja yang berikan." Aku berjalan ke arah si peminta sumbangan. Mengerutkan kening, aku memompa seluruh kesadaranku, ingatanku, pada kenangan fotografis yang samar-samar mengutuh: tubuhnya yang kurus mungil, bekas luka di leher, rambut tipis, suara parau yang pelan. Ah, ya Tuhan! Tidak mungkin.

"Pincang?"

Lelaki itu terkejut--terperanjat, menghentikan racauannya. Ia menengadahkan pandang. Terbata-bata. Merebut proposal dari tanganku dan terpincang-pincang menjauh. 

Tetapi, setiap Si Pincang memang punya jalan dan Si Pincang menemukan jalannya sendiri.***



Irfan L Sar, mahasiswa MA Philosophy of Education UCL London, pengurus Komite Sastra Cianjur, anggota Komunitas Sastra Cianjur, sukarelawan TIK Cianjur, sekjen Majelis Syuro Darul Falah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irfan L Sar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 24 April 2016



Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi