Akhir Sebuah Kisah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Akhir Sebuah Kisah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:01 Rating: 4,5

Akhir Sebuah Kisah

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Aku memegang pipi kiriku perkahan, kurasakan sakit dan panas yang menjalar. Lebih dari itu, aku kaget dan hatiku tersentak sakit. Aku memandang ke arahnya. Matanya terlihat sangat garang memandangku.

"Jangan sok baik kepadaku!" katanya ketus setengah menjerit. "Aku sangat membencimu." Ia lalu berpaling dan pergi meninggalkanku.

Air mata mulai deras menghujani wajahku. Sebuah kotak makan penuh dengan isinya tumpah berceceran di lantai. Sambil menghapus air mataku aku memunguti makanan itu. Makanan yang kubuat sejak sebelum Subuh tadi, telah berhamburan tercecer di lantai. Aku membuatnya untuk adikku, tapi sepertinya ia tak menginginkannya.

Aku tahu, adikku, Reina, sangat membenciku. Tapi, aku bisa mengerti kebenciannya itu. Aku anak haram ayah reina dan ibuku, yang selama ini disembunyikan. Setelah ibuku meninggal dua tahun yang lalu, aku diadopsi menjadi anak sahnya. Ibu Reina yang mendnegar tentangku menjadi depresi dan akhirnya bunuh diri. Aku yakin Reina dan ibunya begitu tersakiti. Karena akulah, ibu kandungnya meninggal. Aku bertanggungjawab atas penderitaan yang dialami ibunya, dan juga Reina sendiri.

"Ada apa?" Aku dikagetkan dengan suara di belakangku. Ternyata ayah.

Aku segera menghapus air mata yang masih menggenang di mataku, dan berbalik dengan senyuman kecil di wajahku.

"Tidak ada apa-apa, Ayah. Aku hanya menjatuhkan makananku."

Dari raut muka ayah, sepertinya ia tahu aku berbohong. Ia mungkin juga bisa mengira yang barusan terjadi. Karena hal speerti itu bukan pertama kalinya terjadi. Ia segera turun ke lantai bawah dan memanggil Reina. Reina menatapku dengan garang.

"Reina, sudah berapa kali Ayah bilang. Wulan itu kakak kamu, nggak seharusnya kamu bersikap seperti itu kepadanya," kata ayah dengan nada cukup keras.

Reina yang sedang makan pun berhenti.

"Ia tak lebih dari seorang pembunuh," katanya singkat namun sangat menyakitkan.

"Reina!" bentak ayah kepadanya.

"Ayah, sudah, tidak apa-apa," kataku sambil memegang lengan ayah untuk menenangkannya.

Reina pun membanting sendok dan garpunya di piring. Ia berdiri dari kursi dengan kasar dan menggendong ranselnya. Segera ia keluar dari rumah dengan membanting pintu depan dengan keras.

***
HARI sudah gelap. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh lebih lima menit. Reina belum juga pulang dari sekolah. Ayah dan Kak Dino, anak pertama ayah yang berusia 22 tahun sangat cemas. Tentu saja aku juga mengkhawatirkannya.

"Wulan, apa kamu tadi nggak ketemu Reina di sekolah?" tanya Kak Dino cemas.

"Tidak, Kak. Tadi saat pulang aku juga tidak melihatnya."

Sekolah sudah tutup sejak Maghrib tadi, seharusnya ia sudah pulang. Aku juga sudah menghubungi teman-teman dekatnya. Tapi tidak ada yang tahu di mana reina. Handphone-nya pun tidak aktif. Ia juga tidak memberi tahu orang rumah.

Aku memandangi foto ibuku yang ada di layar handphone-ku. Dalam hati aku berdoa, semoga Tuhan melindungi Reina. Jangan terjadi hal buruk padanya. 

Aku ingat, Reina pernah duduk sendirian di taman dekat sekolah. Mungkin dia di sana. Aku bergegas pergi. Aku berjalan cepat menuju taman itu. Dan benar, dari kejauhan aku melihat Reina sedang duduk sendirian di ayunan taman itu.

Aku berlari menghampirinya.

"Reina," teriakku.

Saat melihat wajahku ia segera bangun dan beranjak pergi.

"Tunggu!" aku berhasil menggapai lengannya dan membuatnya berhenti.

Ia menatapku tajam.

"Apa maumu?"

Aku berusaha mengatur napas.

"Ini sudah malam, kamu mau ke mana?" Ayo pulang."

Ia berusaha melepaskan genggamanku.

"Apa pedulimu?! Nggak usah pura-pura khawatir padaku. Lagian nggak ada yang peduli denganku." Ia berhasil melepas cengkraman tanganku.

Reina berjalan cepat menyeberangi jalan raya. Ia tak memerhatikan sekelilingnya. Dari arah kanannya, sebuah truk melaju kencang sambil membunyikan klakson. Reina yang kaget pun membeku di tempat, sedangkan truk itu semakin dekat. Dari jauh aku mendengar suara Kak Dino dan ayah memanggil kami berdua. Aku berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga. Truk itu sudah ada di hadapan mata kami berdua. Dengan cepat aku melompat dan menarik Reina ke pinggir jalan. Tubuhku melayang, aku menatap ke arah Reina yang terduduk kaku, Kak Dino dan ayah juga ada di sana, agak jauh di belakang Reina. Aku tersenyum ke arah mereka.

Syukurlah, adikku tidak apa-apa. Reina, Kak Dino, Ayah, terima kasih, karena kalian, aku mengerti rasanya memiliki seorang adik, kakak, dan ayah, kataku dalam hati.

Tubuhku terjatuh ke tanah. Cairan merah terciprat ke muka Reina. Tak lama tubuhku juga digenangi cairan berwarna merah itu. Tanganku, kakiku, kepalaku, aku tak bisa merasakannya. Aku tak bisa lagi merasakan apa pun. Samar, aku melihat senyum ibuku. Ia menggapai tanganku dan memelukku.

Setelah beberapa saat terdengar suara ambulan datang. Mereka menggotongku masuk ke dalam ambulan dan membawaku ke rumah sakit. Sayang, mereka terlambat. Aku telah dijemput, dan jiwaku telah dibawa pergi oleh ibuku. Yang tersisa hanyalah sebuah raga yang hancur dan tak bernyawa. 

Nur Chorimah Bayu Tri Purnaningsih. Sleman, 22 November 1997. Alamat Gesikan 02 RT 04 RW 04 Sidomoyo Godean Sleman. Yogyakarta. Mahasiswa Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia UNY

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nur Chorimah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 15 Mei 2016


0 Response to "Akhir Sebuah Kisah"