TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Tuesday, 31 May 2016

Batu

INI waktunya, Mas!" jerit istrinya. Segera ia matikan rokok di jepitan jarinya. Ia tatap istrinya terkulai di kursi makan yang menghadap ke dapur. Matanya terbelalak, menahan mulas di perut. Darah di selangkangnya seperti sungai yang menjalur dari hulu. Dada lelaki itu bertalu-talu melihat perempuan dengan perut sebesar durian montong menjerit menahan nyeri yang menancap di sela-sela pahanya. Ia segera berlari keluar dari pintu.

GERIMIS menghantam tubuhnya. Lumpur membuat larinya berhati-hati seperti kupu-kupu yang terbang ketika angin meluruhkan dedaunan. Mengantarjan kehidupannya yang usai setelah sekian lama berpegangan pada ranting yang kulitnya seperti tanah yanng kering. Malam ini, ia berharap Ma Indok berada di rumah, dengan remang cempor yang masih menyala.

Di persimpangan jalan, dekat kebun singkong Pak Sodin, ia tergelincir. Tangannya terkilir karena menahan tubuhnya yang menghantam pagar bambu. Dilihatnya, paku menancap ke sikunya. Rasanya nyeri tak ia hiraukan. Ia berdiri, lalu melanjutkan larinya meski pincang. Perih menemaninya di sepanjang jalan basah dengan gerimis yang tak henti sejak sore, sebelum ibu-ibu berangkat mengaji ke masjid.

Lampu cempor di gubuk itu masih menyala. Darah banjir di lengan kanannya. Ma Inok segera membuka pintu yang ia ketuk tak henti sesampainya di sana. Mereka berdua bergegas menuju rumah Sarman --lelaki itu-- yang istrinya sedang menahan jabang bayi yang sudah meronta ingin keluar dari tubuh ibunya.

Tak ada lagi jeritan di rumah Sarman. Angin menggoyangkan tirai penutup jendela. Gerimis sudah tak selebat sebelumnya. Awan bepergian menunjukkan bintang-bintang yang lebat di langit yang luas. Ma Inok berdiri seperti patung. Sarman menangis sambil menghadap tanah melihat istrinya terpejam dengan batu penuh darah yang dililit ari-ari di bawah selangkangannya.

**
HAMPIR dua bulan, kemarau mengantar gersang di kampung itu. Ikan-ikan menggelepar-gelepar di bibir sungai yang retak-retak. Bau anyir seperti nyamuk di kamar ketika gelap. Angin semakin menjadikannya hidup di sela-sela ruang dan keringat di tubuh para pemecah batu.

Di dekat sungai yang hampir kering itu, Sarman dan para pemecah batu sedang melinting tembakau di bawah pohon kelapa yang sudah lama tak berbuah. Mereka melepas lelah setelah tubuh ditimpa runtuhan panas matahari dan kerongkongan mereka seperti sungai di balik punggung mereka. "Sudah kubilang, Si Jarwa itu tak akan memberi kita hasil yang setimpal!" lirih Durmin sambil mengisap tembakau.

Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Hanya gemerisik daun bambu yang menguning diasah waktu. Sarman menatap awan yang berarak perlahan menuju barat. Sesekali menutupi matahari yang sepanjang hari seakan tak suka kepada mereka. Bibir Sarman sedikit tersenyum melihat awan berbentuk kepala bayi. Pasalnya, sang istri sekarang sedang mengandung calon anaknya yang tinggal menunggu matang. Istrinya saban hari ngidam singkong rebus yang dimasak setengah matang. RAsa senang berkembang di dada Sarman karena ini buah keringatnya selama setahun menikah. Dikaruniai anak yang sekarang sedang ia nanti. Setelah ini, ia bisa menyumpal mulut mertuanya yang selalu meminta cucu di gendongan mereka.

"Kita harus cari lagi tumpukan batu! Di sini, yang tersisa tinggal tanah dan pasir yang kering," ujar Itim.

"Betul, Tim. Ke mana kita cari lagi lahan makan kita?" Darno menyulut tembakaunya yang baru selesai dilinting.

"Mungkin Ujang Darman bisa membantu kita." Angin menggerus pasir berputar di hadapan mereka.

"Aku tak sudi bekerja di kaki Si Darman lagi! Sudah cukup ia semena-mena memperlakukan kita seperti kerbau sawah," jelas Sarman. "Akan kupecahkan batu di dekat pohon bambu itu."

Semua orang di sana terkejut mendengar Sarman yang akan memecahkan batu besar keramat di dekat pohon bambu itu. Kabarnya, batu besar itu ditunggu jin berbadan gelap dan besar. Banyak cerita warga yang melihat jin duduk di sana. Terakhir, anak Ustaz Ahmad mati mendadak gara-gara kencing di batu besar itu saat menunggu layangan putus bersama kawan-kawannya. Warga kampung percaya, batu besar itu bukan sembarang batu. Bentuknya seperti perahu terbalik dengan sudut yang sama di sisi kanan kirinya. Sekarang, Sarman ingin memecahkan batu itu.

Dulu, pernah ada orang yang ingin memecahkan batu itu dengan palu. Dia lelaki sombong yang tinggal di kampung sebelah. Ketika memukulkan palunya dengan keras, palu itu memantul dan menghantam kepalanya sampai pecah, menghamburkan jeroan kepalanya dan darah muncrat ke segala arah menghujani rerumputan liar di sana.

"Jangan gegabah, Man. Batu itu bukan sembarang batu!"

"Lebih baik kumati ditelan jin penunggu batu itu dari[ada harus manut kepada setan Darman yang mengekangmu dengan upah sebiji jagung."

Para pemecah batu lebih memilih bungkam dan pulang dengan hati tenang. Bukan pilihan baik mendebat Sarman yang kepalanya sekeras batu kali yang saban hari dipukuli air dan riaknya yang tak pernah usai. Itim melihat mata Sarman yang sama sekali tak berselubung ketakutan sedikit pun.

Sore itu, Sarman --dengan palu dan beberapa paku besar yang disimpan di dalam karung yang terkulai di pundak kanannya-- menuju batu besar keramat dekat pohon bambu. Angin menderu menggoyangkan daun pohon pisang yang setengahnya menguning ditelan kemarau. Namun, kali ini lain, awan gelap yang berkumpul di langit seperti kerbau-kerbau yang digiring penggembala ke tengah padang luas. Menandakan kemarau akan segera mati bersama tanah yang retak-retak.

Sarman membuka pakaian. Ia bersiap membenamkan paku-paku besar itu ke urat batu besar itu. Guntur mulai berdentuman. Hujan turun satu persatu membentur punggung Sarman yang telanjang. Otot-otot tubuhnya dibentuk pengalaman yang subur saban waktu. Kulitnya yang gelap, membuat tubuhnya semakin terlihat kuat dengan urat-urat seperti kawat yang menjalur membentuk polanya.

Ia mulai bekerja. Hujan membantu pekerjaannya. Angin menderu kuat, pohon-pohon goyah, batangnay beterbangan menghantam segala yang menghadangnya. Sarman tetap memukulkan palunya ke batu besar itu. Tak sedikit pun ketakutan muncul di dalma dirinya. Dengan pukulan dan teriakan keras, ia benamkan palunya ke batu besar itu. Guntur menyertai teriakan dan gemuruh terbelahnya batu itu. Kilat menyambar. Sarman berhasil menaklukkan batu besar keramat itu. Ia tertawa puas. Tak terjadi apa pun padanya. Ia pulang dengan puas. Esok ua akan menjual batu itu dan takkan membagikan hasilnya kepada kawan-kawannya.

**
MALAM hampir larut. Bulan nampak di sela-se;a dedaunan pohon bambu. Suara tonggeret dan jangkrik mengindahkan kesunyian malam. Gerimis menambah dingin semakin dingin. Di lawang rumag, sesosok lelaki hitam berbadan gempal menatap istri Sarman yang sedang tidur di ranjang dengan perut yang semakin membesar.***

Mufidz At-thoriq Syarifudin, tinggal di Tasikmalaya. Buku kumpulan cerpen pertamanya "Bapak Kucing" (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mufidz At-thoriq Syarifudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 29 Mei 2016

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home