Elegi Musim - Cahaya yang Dipetik Tuhan dari Dada Malaikat - Pada Pelukan Rembulan - Kelahiran Puan Hasanah - Kembali ke Peraduan Tuhan - Secangkir Kopi Tiam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Elegi Musim - Cahaya yang Dipetik Tuhan dari Dada Malaikat - Pada Pelukan Rembulan - Kelahiran Puan Hasanah - Kembali ke Peraduan Tuhan - Secangkir Kopi Tiam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:16 Rating: 4,5

Elegi Musim - Cahaya yang Dipetik Tuhan dari Dada Malaikat - Pada Pelukan Rembulan - Kelahiran Puan Hasanah - Kembali ke Peraduan Tuhan - Secangkir Kopi Tiam

Elegi Musim

Selepas gumpalan putih serupa kapas lesap dengan jejak waktu
yang membekas dalam gurat kaki yang amat lekat, pancaroba
masih menanti giliran sebagai petani ulung yang meraba nasib
jutaan benih dari liang tanah.
"Seumpama musim yang silih berganti, kita pun pasti mati.
Sebagai khalifah yang memeluk bumi dalam curam kehidupan
yang entah berapa lama. Kukenang ladang panjang, padang ger-
sang, batang pinang, dan segala yang melintang"
Jika hujan akan turun membasahi semesta, kubuka hektar sawah
dan ladang-ladang sama rata. Menimbun mimpi-mimpi tuk meng-
hasilkan masa depan yang lebih matang.
Serupa akar yang tertanam dalam tanah yang dibasahi oleh air
mata, saling mengikat satu sama lain, menidih bibit-bibit ubi, hing-
ga membentuk tunas-tunas yang unggul dalam persaingan hidup
ini.
langit mulai pudar menanti semi yang tak pernah singgah di hati
para petani. Mungkin jarak mereka terpaut jauh hingga merobek
cakrawala dengan memintal segenap musim.

Sumbar, 2016

Cahaya yang Dipetik Tuhan dari Dada Malaikat

Dengan kemelut hidup yang tiada habisnya, aku tahu banyak hal
yang berkecamuk di dadamu meski tak pernah kau akui itu
Selalu terlihat kuat dengan senyum sumringah di bibir tipis yang
merekat di raut wajahmu yang kian pucat
Binar matamu, cahaya terang yang dipetik Tuhan dari dada
malaikat sebagai suar kasih yang tak redup
Tak apa sesekali menangis, menyalahkan hidup yang kian sadis
Tak apa sesekali terlihat rapuh, mencurahkan semua perasaan
yang mulai luruh
Memeluk gelebah yang tak mampu ditinggal rebah, merubuhkan
segala ragu dalam kehidupan yang pagu
ingin sekali kuhadiahi engkau dengan suksesku agar kelak mam-
pu mengecup hatimu yang gundah gulana, kembalikan senyum
paling indah yang pernah ada
Percayalah, suatu saat nanti hujan badai akan reda
Menyisakan pelangi di atas langit semesta

Pekanbaru, 2016

Pada Pelukan Rembulan

Ia duduk tunduk di bangku taman tanpa tanam
Pada pelukan rembulan dengan iringan nyanyian biduan
Di kesunyian malam yang teramat temaram
Ia menghisap sebatang rokok bali yang entah ke berapa kali
Sembari mendongak ke langit-langit, ratapi nasib yang amat rumit
Napasnya tersengal jengal serupa ayam yang hendak dipenggal
Ada sekelebat ingatan yang membuatnya resah pun gelisah
Mungkin juga ingin marah sebab perawan direnggut pasrah
Membuatnya luruh pada bulir-bulir peluh

Dengan tatapan sendu di balik candu
Perlahan ia mulai berdiri, namun masih kaku nan jua kelu
Sekadar berdiri, bukan ingin berlari
Atau melangkahkan kaki-kaki mungilnya lagi
Jika aku lelaki, sudah semestinya aku mengerti yang ia hendaki
Sandaran bahu yang mampu meredakan hati pilu
Memeluk tubuh yang mungkin sedikit rubuh
Di sisa perjalanan hidup menjelang subuh.

Pekanbaru, 2016


Kelahiran Puan Hasanah

Kau tahu, malam ini sepertinya Tuhan akan menurunkan hujan
dan mempertemukan kita kembali
Pada sela peringatan kelahiranmu yang ke-21
Sehingga memberikan kita pelajaran penting, bahwa kedua hal
tersebut merupakan anugerah yang harus disyukuri
Pun Tuhan sepertinya sengaja menurunkan hujan agar aku bisa
lebih lama berbincang denganmu
Mengenai kabarmu, kegiatanamu, keluargamu, kucing peliharaan-
mu, atau apapun yang berkaitan tentangmu
Seperti halnya hujan, hari lahirmu pun merupakan sebuah
anugerah dan sumber kebahagiaan. Maka berbahagialah dengan
apa yang engkau miliki sekarang.
Aku hanya bisa mengatakan, selamat hari lahir tuk puan yang
pernah membuatku tersipu malu semasa dahulu. Semoga en-
gkau diberi umur panjang dan bahagia selalu di umurmu yang tak
terbilang muda lagi. Sama seperti halnya aku yang berkepala dua
ini.
Terima kasih sudah meluangkan waktu berhargamu tuk pria yang
tak seberapa ini. Kuharap, engkau tak jemu saat bersua
denganku tandi, esok, ataupun lusa nanti.

Dumai, 2016


Kembali ke Peraduan Tuhan

Embun pagi masih saja melekat di pelupuk mata
menggambarkan sebuncah asa dengan guratan luka
Sembari menyesap kopi pahit di sudut meja
dan melumat remah-remah roti basi sisa malam tadi
Lamunanku buyar pata tubuh kecil yang menggeliat gelisah

Di sudut ruang yang remang itu
tumbuh sulur-sulur liar menjulang
Semampunya menarik jemari jiwa yang melebur tenang
Ketika tangan tak sanggung membelai bayang
Kuaminkan panjang lantun doa-doa riang
Dijawab oleh rintik hujan yang melompat hilang
Kakinya yang kecil tak berdaya bergelayut di dahan rindang
Mengingatkan pada masa kecilku yang tak terpandang
Bahkan hingga kini dan sesudahnya

Aku hanya sebuah kursi abu-abu yang berdebu
Tak lagi biru sejak usiaku dimakan waktu
Tinggal ragaku yang serupa kembang sepatu
Rapuh berguguran sepanjang musim salju
Andai kuhidup lebih lama,
tumbuh selalu asaku tuk kembali ke peraduan Tuhan

Dumai, 2016

Secangkir Kopi Tiam

Secangkir kopi tiam sudah cukup menghapus kenang
Dengan petromaks yang menerangi sudut meja paling belakang
Menyekat pada dinding-dinding kerumunan

Sekelebat angin malam berhembus seketika para pejalan lalu
lalang
Selalu ada yang datang dan pulang
Bunyi knalpot dan suara jangkrik terdengar sayup-sayup
Bahkan telah hilang seiring larutnya malam

Puan, singgahlah sejenak di angkringan pinggir jalan
Temani aku di kesunyian yang teramat dalam
pesan apa saja yang kau pinta sampai telentang kenyang
Sembari bercengkerama ria dikelilingi kunang-kunang

Pekanbaru, 2016

N Mulya Jamil: lahir di Dumai, 21 Juli 1995. Mahasiswa Universitas Islam Riau, jurusan bahasa Inggris. Bergiat di Malam Puisi Pekanbaru, Gerakan Komunitas Sastra Riau, Media Mahasiswi Aklamasi, dan Competer. Alamat Jalan Kayu Putih Perum, Kampung melati Blok F4 Kecamatan Tampan Kelurahan Simpang Baru Pekanbaru Riau. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya N Mulya Jamil
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 22 Mei 2016

0 Response to "Elegi Musim - Cahaya yang Dipetik Tuhan dari Dada Malaikat - Pada Pelukan Rembulan - Kelahiran Puan Hasanah - Kembali ke Peraduan Tuhan - Secangkir Kopi Tiam"