Laki-Laki Perkasa - Gelombang di Pulau Merah - Pada Selat Bali - Menuju Denpasar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Laki-Laki Perkasa - Gelombang di Pulau Merah - Pada Selat Bali - Menuju Denpasar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Laki-Laki Perkasa - Gelombang di Pulau Merah - Pada Selat Bali - Menuju Denpasar

Laki-Laki Perkasa

Ini bukan cerita biasa
ketika laki-laki jarang berduka
bercengkerama mesra bersama keluarganya
tatkala dua tumpuk belerang menyapanya tiap pagi

dipikul dengan pundak kiri
dan sesekali bergantian dengan yang kanan
aku tak tahu mereka akan ke mana di petang hari
menuju apotek atau membuat obat sendiri
dengan belerang Gunung Ijen yang tak pernah mati

dan perempaun-perempuan itu mulai menyapa
ketika lembar-lembar rupiah di depan mata
menghapus dan mengusap hamparan asap keringat keka-
sihnya
dari gelombang panas setiap siang tiba

tak ada sahutan dari anak-anaknya
karena mereka punya acara sendiri
menggembala kuda dan kambing di lereng-lereng gunung
dan menjahit anak sungai yang jatuh dari puncak

menuju rumah-rumah dan persawahan terasering penduduk
di dua kabupaten beda etnis itu
lantas kau dekati dia dengan hati dingin
kemudian menjadi batu-bau cadas yang tersrak di
punggung sungai

September 2015


Gelombang di Pulau Merah

Warna-warni kulit manusia itu
berlari dan berjalan santai menggapai mimpi
dari rumah mereka yang tak pernah kumengerti
membawa kail berputar dan panjang

dan menggendong bantalan selancar dari kota
warna-warni papan selancar di punggungnya
anak istrinya mengintil di belakang
lain itu ada yang bujang dengan semangat juang

mencangkuli gelombang dengan tangannya yang kokoh
lalu menghadap ke selatan
seperti memanggil Sang Dewi
meminta ditemani dalam panjatan gelombang yang
makin deras

sedangkan istri-istri mereka tiduran di payung warna-warni
dan anak-anak mereka bermain pasir pantai
keramahan ini terus mengental
menyapa sore, siang, dan pagi

dengan gelombang yang sangat dicintainya
warna-warni gerak tangan mereka
ketika sore makin terasa, lalu menghadap ke tenggara

di Pantai Plengkung yang kabarnya melanglang buana
pulang dari Bali menuju daratan Jawa
tangan-tangan mereka masih terus rindu
pada gelombang Alas Purwo dan tak pernah sekalipun mengeluh

Oktober 2015


Pada Selat Bali

Inilah yang tak pernah sepi di hati
aku menuduhmu sangat kejam
tak ada lagi yang mengunggulimu
dalam kekejaman laut sempit di negeri ini

jembatan emas telah kuberikan padamu
semua tak tertandingi dari mimpi-mimpi
bahwa pertemuan itu erotis yang dramatis
antara laut Jawa dengan Samudera Hindia

tempatmu berpadu kasih
lalu melahirkan kapal-kapal kecil
sesekali kapal besar atau KRI beristirahat di sini
bahkan kapal perang asing pernah rindu,
lalu memelukmu dengan mesra

atau kapal pesiar yang mencoba memberi kabar
ketika lagu pop Bali dan pop Using saling sapa
di atas fery yang tak pernah sepi
maka kaulah saksi ahli segala mimpi

dari puluhan fery pun telah kau nodai
hingga tertidur dalam dasar batinmu
meliuk menumpuk hingga batuk-batuk
dari tahun ke tahun pengembaraanmu

November 2015


Menuju Denpasar

Ini adalah pelayaranmu terakhir
katamu dengan suara lirih seperti prosa lirik
lalu kulambai dua tanganku padamu
ketika nama Denpasar Moon kau ucapkan

karena kau pasti akan berjumpa
dalam suatu tempat pergaulan antar suku dunia di sana
dari pagi hingga pagi lagi
atau pergaulan budaya yang dirangkul unggul

oleh ISI dan Udayana dalam bangku-bangku perguruan
tinggi
membaca dunia dalam tanda suka dan duka
di atas gedung dan pencakar yang lupa aku jumlahnya
sungguh kau akan terpana dan ragu pulang lagi

melewati Selat Bali yang terus menyapamu
lalu menggarami para penyelam tradisional
di sekitar fery yang terus mendayung dengan kaki kataknya
dari pagi hingga malam
dan lelah pun kau makin tak kenal

November 2015


Yanto Garuda, nama pena Suyanto. Lahir di Banyuwangi tahun 1968. Antologi puisinya Kupatan di bulan Sawal (2015) dan telah menelurkan tujuh buku teori sastra. Guru sastra di SMPN 1 Genteng Banyuwangi itu kini sedang menempuh pendidikan S-3 di Universitas Sebelas Maret Solo. 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yanto Garuda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu, 22 Mei 2016

0 Response to "Laki-Laki Perkasa - Gelombang di Pulau Merah - Pada Selat Bali - Menuju Denpasar"