Ros | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ros Reviewed by Desi Puspitasari on 09:54 Rating: 4,5

Ros

Satu

Saat aku berumur lima tahun, Ma bilang, “Ayahmu sudah meninggal dunia. Pneumonia.” Dan ketika aku berusia dua puluh delapan, Ma berkata: “Aku dulu berbohong. Sebenarnya ayahmu masih hidup. Segar bugar dan bekerja tidak jauh dari tempat kerjamu.”

Untuk sejenak mulutku tak dapat mengatup. Aku terkejut. Sangat terkejut. Bagaimana bisa Ma bertindak sedemikian kejam terhadap anak perempuan satu-satunya? Ma membohongiku selama dua puluh tiga tahun dan dengan cara yang sungguh tak dapat ditolerir: mengarang cerita yang menyebutkan bahwa Pa sudah mati karena pneumonia padahal masih hidup dan kondisinya segar bugar. Bekerja di sebuah hotel bintang lima sebagai seorang Resident Manager.

Sore itu aku dan Ma ketemuan di sebuah kedai teh. Ma yang menelepon minta bertemu. Setelah tiba dan memesan menu ia terlihat tidak tenang. Green tea latte yang dipesannya diseruput gelisah. Aku membiarkannya sampai ia bisa menguasai diri. Kalau Ma sampai bertingkah gugup dengan sedikit berlebihan seperti itu, biasanya ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.

Setelah menarik napas dan mengembuskannya berkali-kali, ia mendongak menatapku. Matanya mengerjap-ngerjap. 

“Ros,” ia mengulangi memanggil namaku hingga lima atau enam kali. Sendok kecil teh terpelanting jatuh ke atas meja karena tangan Ma yang gemetar. Ia kemudian meletakkannya di piring kecil dan menahan tangannya supaya tak lagi ceroboh. 

“Ros, kau ingat aku punya janji?”

Janji apa, ya? Aku mencoba mengingat.

“Kalau kau sudah berumur 28 tahun, aku akan memberitahukan sesuatu.”
Oh, ya. Aku ingat. Setiap aku bertanya, Ma selalu mengulangi jawaban yang sama. “Percayalah. Ia meninggal karena sakit keras.”

Aku sudah hendak percaya begitu saja. Tapi, kemudian Ma menambahkan, “Aku akan memberitahumu sesuatu, tapi tidak sekarang.”

“Mengapa?” tanyaku waktu itu.

“Menunggu kau sudah cukup dewasa. Cukup bijak untuk menerima kenyataan hidup.”

Menyikapi kenyataan hidup dengan bijak? Dengan pikiran bocahku, aku tidak begitu memahami alasan Ma.

“Aku tidak tahu, Ros.” Ma menggeleng sedih. “Ya, pokoknya kelak aku sakan menceritakan semuanya setelah kau berumur 28 tahun saja.” 

Ma kemudian mengabaikanku dengan pura-pura sibuk mencari ceret untuk merebus air.

“Kamu mau cerita apa, Ma?” Tidak tahu mengapa, tiba-tiba perasaanku menjadi deg-degan. Hidupku selama ini lurus-lurus saja. Berjalan sebagaimana mestinya. Ma akan mengatakan sesuatu rahasia yang ditahan sampai 23 tahun pasti perihalnya bukan sesuatu yang main-main. Aku meraih tisu untuk meredakan keringat yang perlahan membasahi telapak tangan.

Ma mendesah lagi. Ia hendak menyesap tehnya namun sadar kalau ternyata sudah habis. Ia menggeleng, mengerjap, lalu menatapku. 

“Ayahmu masih hidup.”

Aku tak langsung bisa memahami kalimat Ma.

“Aku pernah bilang kalau ayahmu telah meninggal dunia karena sakit keras, bukan?”

Aku mengangguk.

“Sebenarnya tidak. Laki-laki itu masih hidup. Segar bugar. Ia bekerja sebagai seorang Resident Manager di SQUARE Hotel.”

Aku tahu di mana letak SQUARE Hotel! Tak jauh dari tempatku bekerja. Astaga…, aku bengong dalam waktu yang lumayan lama. Susah payah mencoba mencerna kalimat Ma. Ayahku masih hidup dan kami berada di lokasi kerja yang tak berjauhan!

Kemudian kata ma masih dengan suara bergetar dan hidung mampet, "Aku tidak sanggup mengatakannya."

“Tapi mengapa, Ma?” tanyaku setelah berhasil menguasai kekagetan. Namun begitu suaraku masih terdengar seperti orang tercekik. “Mengapa Ma harus berbohong macam-macam untuk menutupi kenyataan bahwa sebenarnya Pa masih hidup?”

"Mengapa Ma harus berbohong?" tanyaku lagi. 

“Karena kau masih terlalu kecil waktu itu.” Mulut Ma mulai bergetar. 

Ah, aku merasa ia pasti masih menyimpan cerita yang tidak kalah mengagetkan ketimbang yang dikatakannya barusan.

“Aku…,” Ma mulai mengisak. Buru-buru ia meraih sapu tangan yang disimpan dalam tas kecilnya yang disimpan di atas meja. Air matanya diusapnya perlahan. Kemudian kata Ma masih dengan suara bergetar dan hidung mampet, “Aku tidak sanggup mengatakannya.”

Duuuh…, hatiku semakin kebat-kebit. Apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa sampai Ma berkata demikian? Apakah Pa…, aku tidak bisa mengira-ngira apa yang sedang terjadi dengan Pa. Sama sekali tidak ada bayangan mengenai kemungkinan rahasia apa yang disimpan Ma mengenai Pa.

“Ros,” panggil Ma. “Apa kau marah dan membenciku karena hal ini?”

Aku tidak tahu. Seharusnya aku marah dan membenci Ma. Aku punya hak untuk itu. Sebuah kebohongan yang digelontorkan dan disimpan dengan begitu lama. Setelah diceritakan pun tak begitu lengkap adanya. Tapi, aku mencoba berpikir waras. Ma melakukan ini pasti karena alasan besar dan kuat.

“Ros.” Suaranya terdengar begitu memelas.

“Ya, Ma.” Aku mengeleng mengusir pikiran dan terkaan yang tidak-tidak. “Tidak, aku tidak marah. Hanya kaget saja, Ma.”

“Ya, ya. Aku mengerti.” 

Ma mengusap lagi air matanya.

Dalam perjalanan pulang kembali ke rumah, aku menyempatkan mampir supermarket. Memborong berbatang-batang cokelat. Menurut artikel sebuah majalah yang pernah aku baca, kandungan teobromin cokelat mampu menenangkan pikiran yang frustasi. Kurasa aku memerlukannya.

***

Dibutuhkan Florist untuk hotel bintang lima SQUARE
-  Maksimal 30 tahun
-  Memiliki pengetahuan tentang berbagai macam bunga
-  Memiliki daya imajinasi, terampil merangkai bunga
-  Kreatif, menyukai tantangan
-  Ramah dan sopan


Aku melingkari jenis-jenis lowongan pekerjaan yang sedang dicari hotel tempat Pa bekerja. Ada tiga sebenarnya. Selain florist mereka juga mencari Assistant Chief Concierge dan juga Front Desk Agent. Sesungguhnya aku tak memiliki pengalaman belajar dan kerja apapun yang ada hubungannya dengan perhotelan. Aku mengambil kuliah di jurusan sastra, dan berakhir dalam pekerjaan sebagai teller bank.

Aku menimbang-nimbang lagi pilihan pekerjaan yang sudah kuberi tanda. Memang pekerjaanku sebagai teller  bank tak jauh berbeda dengan job description front desk di hotel. Tapi aku kira mengurusi kamar hotel tentu harus memiliki kemampuan khusus. Hal itu membuatku tak berminat memilihnya. Sebaiknya aku mengambil kesempatan melamar pekerjaan sebagai seorang florist. Dengan pertimbangan lebih karena sifat pekerjaan itu cenderung mengarah kepada pekerjaan yang feminim. Mengurus bunga itu pekerjaan perempuan, bukan? Dan sepertinya menjadi seorang florist bukanlah pekerjaan rumit dan akan mudah saja dipelajari.

Aku pun menulis surat lamaran. Bila diterima bekerja sebagai florist, aku akan resign dari pekerjaan lamaku. Keinginanku paling kuat kali ini hanya satu; mencari tahu dan bertemu Pa.

Entahlah, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau sudah bertemu laki-laki itu. Barangkali bertanya, mengapa kau tega meninggalkan aku dan Ma, Pa? Atau barangkali menanyakan mengapa Ma sampai tega membohongiku? Atau malah mungkin aku tak bisa berkata apa-apa karena bibirku bergetar menahan haru dan langsung memeluknya. Jantungku berdebar setiap kali memikirkan berbagai kemungkinan yang akan muncul.

Bila Ma tak mau memberiku keterangan, aku akan mencarinya sendiri.

***

Aku telah salah duga! Mengurus bunga ternyata bukan pekerjaan yang gampang! Menjadi seorang florist tidak ada hubungannya dengan apakah ia perempuan atau laki-laki. Perempuan memang akan sangat senang bila diberi bunga. Tapi mengenai hubungannya dengan mengurus perkebunan, cara memotong tangkai, mengangkut puluhan ember berisi bunga pesanan, kemudian merangkainya, menentukan letak bagian hotel yang mana saja yang harus diberi sentuhan bunga, dan juga cara merawat bunga dengan metode touch up (astaga, banyak sekali yang harus aku pelajari!), sama sekali tak ada hubungannya dengan jenis kelamin. 

Pada saat interview, aku berkata terus terang bahwa aku sama sekali tak memiliki pengetahuan mengenai bunga. Room Division Manager bilang semuanya bisa dipelajari. Kemudian, ia mengamatiku dari balik kacamatanya yang sedikit melorot.

“Rosa sp—nama latin dari tanaman mawar. Rosa canina, rosa spinosissima, rosa alba adalah jenis tanaman mawar dari daratan Eropa. Rosa californica, rosa cinnamomea salah dua jenis mawar dari Amerika Serikat. Rosa-rose-ros. Yang ingin kukatakan adalah…, kau punya nama yang ada hubungannya dengan bunga, Ros, tapi sama sekali tak memiliki pengetahuan sedikit pun mengenai hal tersebut.”

Room Division Manager  itu melanjutkan bahwa ia hanya ingin berkomentar. Apa yang dibilangnya itu jangan dimasukkan ke dalam hati.

Aku diterima. Namun karena di pekerjaan lamaku ada peraturan  one month notice, yaitu menginformasikan sebulan sebelum masa resign, maka aku baru bisa bergabung di hotel satu bulan berikutnya. Hal tersebut tidak menjadi masalah oleh yang mewawancaraiku. Ia mengerti betul mengenai hal tersebut.

Sebagai pegawai hotel, terlebih bekerja sebagai pengurus bunga, aku baru tahu bahwa kami juga memiliki peraturan yang tak kalah rumit dengan pekerja kantoran di bidang lain. Berangkat tepat waktu dan bekerja dengan penuh tanggung jawab adalah hal yang diterapkan pada semua jenis pekerjaan. Tapi, di sini aku memiliki tanggung jawab lebih.

Aku akanjelaskan mulai dari cara kami berbusana dan berdandan. Sebagaimana pekerja hotel pada umumnya, kami harus tampil tapi dan selalu menjaga kebersihan. Jika pegawai pria tak boleh memelihara cambang dan kumis, maka pegawai perempuan sepertiku juga tak bisa seenaknya mengecat rambut warna-warni supaya terlihat keren. Kami juga tak diizinkan mengenakan kuteks atau mewarnai kuku. Sedangkan sepatu, kaus kaki, dan stocking juga harus berwarna hitam. 

Yang sedikit membedakan profesi florist dengan bagian lain di hotel adalah kelengkapan pakaian kami yang berupa apron alias celemek. Setiap jelang akhir pekan, kami wajib mengenakan celana panjang untuk alasan praktis. Kami memiliki jadwal rutin mengangkat pun mengganti secara rutin beberapa rangkaian bunga yang dipajang pada bagian public area: lobi, restoran, dan beberapa outlet lain.

Merawat bunga pun memiliki beberapa kiat khusus. Selain ruangan florist tak boleh bersuhu panas, beberapa jenis yang belum dirangkai terlebih dulu harus disimpan dalam freezer atau lemari khusus yang bersuhu dingin di bawah 10 derajat celcius. Dedaunan harus dimasukkan ke dalam ember berisi air—aku harus memastikan pangkal tangkainya benar-benar terendam. 

Air di dalam ember secara rutin harus diganti maksimal 3 hari sekali. Oasis, gabus sebagai media tancap dalam merangkai bunga, apabila belum digunkan harus disimpan dan dijauhkan dari air.

“Bingung?”tanya Bu Virda sembari memerhatikan raut mukaku.

“Pusing,” kujawab jujur apa adanya.

Perempuan paro baya itu tertawa.

Perihal merangkai bunga juga memiliki berbagai macam gaya dan model. Disesuaikan dengan area pun menurut tren yang sedang banyak digemari. Misalnya saja gaya Eropa memiliki kecenderungan mengeksplorasi secara mixed berbagai jenis bunga dalam satu rangkaiannya. Ada pula ikebana yang merupakan gaya minimalis berasal dari Jepang.

Penempatan bunga membutuhkan trik khusus yang juga memadukan dengan pengetahuan design interior. Aku juga harus memperhatikan jadwal penggantian bunga yang tiap bagian taksama waktunya. Misalnya untuk rangkaian di meja restoran harus diganti 5 hari sekali. Sementara rangkaian bunga di meja resepsionis baru akan diganti 6 hari sekali. Jadwal yang tidak sama juga berlaku untuk bagian rest room dan juga di dalam kamar-kamar hotel.

Bekerja sebagai florist ternyata tak hanya sebatas melayani keperluan hotel. Lebih dari itu, aku juga harus menjaga ruang display di flower shop atau toko bunga. Melayani para tamu yang menginginkan bunga dengan berbagai macam permintaan rangkaian. Kadangkala juga menjadi konsultan—dengan sabar harus menerangkan nama-nama bunga dan jenis daun: carnation, gerbera, amarantus, cymbidium, lily, chrysantenum, anthorium, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan jenis rangkaian bunga, apakah itu hand bouquet, apa itu loose, macam mana pula garlant, dan lain sebagainya.

“Pusing, Ros?”tanya Bu Virda sembari tertawa setiap kali usai menjelaskan tentang berbagai pengetahuan itu.

Semua ini adalah hal dan pengetahuan baru yang sama sekali asing buatku. Aku berusaha mempelajarinya dengan sabar dan tekun penuh konsentrasi. Beberapa kali aku melakukan kesalahan. Juga kikuk dalam bertindak. Pekerjaan yang membutuhkan kegesitan ini sangat berbeda dengan yang aku lakukan sebelumnya; hanya duduk, menyapa ramah nasabah, dan mengurusi uang dalam tabungan mereka.

***


Saat itu aku sedang mendorong troli yang berisi vas berisi krisan kuning masuk ke dalam ballroom hotel. Ruangan berkapasitas besar yang bisa menampung banyak orang itu disewa untuk acara rapat sebuah instansi kantor. Aku bertugas meletakkan vas berisi bunga di setiap meja bundar di dalam ruangan. Seharusnya aku bersama teman, tapi ia masih ada sedikit urusan. Aku disuruh duluan, ia akan menyusul kemudian.

Aku meletakkan vas bunga satu persatu dengan sebelumnya mengelap bagian luarnya menggunakan kain. Supaya tak ada sepercik air pun yang membasahi taplak meja. Ketika aku sudah menjalankan setengah tugas, temanku datang terburu-buru sambil meminta maaf. Kami kemudian berdua bergegas menyelesaikan tugas.

Ketika aku hendak mendorong troli keluar, seorang laki-laki paruh baya dalam setelan jas resmi masuk ke dalam ruangan. Wajahnya bersih, lumayan tampan, dan terlihat sedikit berwibawa. Badannya agak tambun karena hidup yang makmur. Ia masuk dengan berbicara serius pada bapak-bapak tamu yang berjalan di sebelahnya.

Temanku menahan supaya aku tak segera keluar untuk memberi jalan pada laki-laki tersebut. Ia berbisik, laki-laki yang barusan masuk tersebut adalah RM hotel. Aku menoleh ke arah temanku cepat. Lalu, menoleh kembali ke arah laki-laki itu. 

“Siapa namanya?” tanyaku balas berbisik. 

Saat mendengar namanya disebut, yakinlah aku, laki-laki bertampang penuh wibawa tersebut adalah Pa—ayahku!


Dua

“Kau tertarik pada pak RM, Ros?” tanya Bu Virda, Florist Manager, atasanku. Ia mengajukan pertanyaan itu barangkali karena aku terkesan terlalu bersemangat mencari informasi mengenai Pa.

“Tidak,” sangkalku. 

Aku tidak berdusta. Aku tidak tertarik pada Pa yang ada hubungnnya dengan romansa. Aku tertarik padanya karena ia… adalah Pa—ayahku yang sudah lama sekali tak bertemu. Yang kusangka sudah meninggal dunia karena Ma berbohong padaku.

“Kau harus menelan pil pahit kekecewaan, Ros,” tanggap teman yang lain.

Jantungku langsung berdebar tak keruan. Pil pahit kekecewaan yang bagaimana? Kekecewaan macam apa? Bahwa Pa sudah menikah lagi dan bahagia dengan keluarga barunya? Atau apa? Aku sebisa mungkin berusaha tetap bersikap tenang dan biasa saja.

“Ya. Pak RM tak akan mungkin tertarik padamu. Meski kau itu cantik seperti bidadari atau seksi seperti model majalah dewasa.”

“Aku dengar mereka sudah menikah, ya?” tanggap seorang teman yang lain. 

Saat itu kami sedang berkumpul makan siang sehingga obrolan ini tak bisa dilakukan hanya dengan bertatap muka berdua antara aku dengan bosku. Seharusnya aku bisa mencari waktu saat kami sedang berdua, sehingga tak perlu ada tanggapan atau komentar teman-teman yang lain. Tapi kami tak memiliki banyak waktu luang.

“Gosipnya, sih, begituu….”

“Di Belanda, eh?” seseorang yang lain bertanya dengan nada kurang yakin.

“Sepertinya iya,” tanggap yang lain lagi. “Tapi ada yang bilang itu hanya sekadar rumor.”

“Kalau sudah cinta, jalanan seterjal apapun pasti akan ditempuh.”

Aku tak mengerti teman-temanku ini bicara apa. Apakah pasangan Pa yang baru adalah seorang perempuan tua berwajah mirip nenek lampir? Atau mungkin alien? Atau apa? Mengapa terlontar kalimat ‘jalanan terjal mengenai cinta’?

“Pak RM adalah seorang…,” Bu Virda merendahkan volume suaranya. Ia mendekatkan bibirnya di telingaku. Lalu, bisiknya melanjutkan, “adalah seorang… gay.” (bersambung)


Desi Puspitasari. Novel terbarunya JOGJA JELANG SENJA (Grasindo, 2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Kartini" edisi 2426 12 - 26 Mei 2016

0 Response to "Ros"