Secangkir Kopi untuk Senja yang Hilang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 02 Mei 2016

Secangkir Kopi untuk Senja yang Hilang


KITA bukan pemilik keabadian. Sesuatu yang datang kepada kita senantiasa dibatasi oleh waktu. Pada saatnya nanti, yang datang tadi akan pergi meninggalkan kita. Yang tertinggal dari semua itu tiada lain hanyalah sehimpun kenangan yang mengisi alam pikiran. Kita akan menikmatinya itu dengan memutar ulang waktu kembali kepada masa sebelumnya. Begitulah, hidup pasti terus berlayar mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh Sang Pemiliknya.

Setelah menunggu sekian lama, aku akhirnya kembali lagi ke kota ini. Rumah-rumah di spenajang yang kulewati masih sama seperti dahulu, tidak terlalu banyak berubah. Sebuah sekolah yang sering kulintasi di depannya kini kusam dindingnya. Waktu telah menggerogoti perlahan-lahan sampai tidak ada satu pun yang menyadari. Jalanan yang menuju arah gang kosku di sana-sini dipenuhi lubang, baik besar maupun kecil. Ah, lalu-lalang truk besar dengan muatan berat pastilah penyebab utama mengapa demikian.

Pelan-pelan, mobil rental yang mengantarku memasuki mulut gang. Nah, rumah pertama sebelah kiri merupakan warung makan yang kuutangi kalau kiriman dari rumah mandek. Kuturuni sedikit kaca mobil untuk memastikan keberadaannya. Beberapa motor terlihat diparkir di samping pekarangannya. Hanya ada dua atau tiga gerombol orang sedang ngobrol-ngobrol sambil minum kopi.

Mobil berhenti. Kuraih tas ransel sebelahku lantas keluar menuju warung makan tadi. Sekilas ada yang melirikl ke arahku. Kuanggukkan kepala, tersenyum sambil terus melangkah ke bagian dalam rumah yang juga dipakai untuk para pelanggan.

"Kopi segelas, Pak." Aku duduk tepat di depan bapak pemilik warung. Sebagian besar rambutnya sudah mulai memutih. Kulitnya pun tidak terlihat kencang seperti dahulu. Usia merebut kegagahan fisik yang dimiliki darinyaa.

"Maaf, kamu Dodi ya?" tanyanya sambil meletakkan kopi di depan mejaku. Kutatap wajahnya beberapa saat kemudian tersenyum menganggukkan kepala.

"Iya, Pak" Aku berdisi menyalaminya. "Bagaimana kabar Bapak?"

"Alkhamdulillah sehat. Oalah Mas... Mas, Bapak sudah curiga sejak kamu turun dari mobil tadi. Sudah hampir empat tahunan ya tidak kelihatan lagi, mas?"

Lagi-lagi, aku hanya tersenyum. Pak Pardi, sosok di depanku ini memang cukup kukenal baik. Selain sebagai pelanggan tetapnya, dahulu masa kuliah aku sering memakai tempatnya untuk mengadakan diskusi atau menjamu teman yang datang dari kota lain.

"Sudah menikah, Mas?" tanya Pak Pardi dari tempat duduknya yang difungsikan sebagai ruang kasir.

"Belum, Pak," aku menggelengkan kepala.

"Gadis mana itu, pacarmu dulu?"

Aku menghela napas kemudian menyeruput kopi yang kutuang di atas piring kecil, wadah gelas kopi.

"Aku kemari untuk menemuinya, Pak."

"Wuadoh, repot ini. Jauh-jauh untuk gadis pujaannya. Cinta sejati rupanya ya, Mas?"

"Cinta sejati terlalu tinggi untuk laki-laki seperti aku, Pak," kataku sambil tersenyum kecut.

"Ya, jangan merendah begitu, Mas."

"Kenyataannya memang demikian, Pak."

"Lho, katamu tadi ingin menemuinya. Apalagi namanya kalau bukan cinta sejati? Empat tahun masih setia menjaga hati bukan waktu yang pendek untuk sebuah hubungan, Mas."

"Bapak percaya di dunia ini ada yang namanya cinta sejati?"

"Menurutmu, Mas?" kali ini Pak Pardi berpindah ke tempat aku duduk. Aku menggelengkan kepala.

"Sejak aku memutuskan datang ke sini, dari dalam hati muncul semacam keraguan. Apakah harapanku selama ini bisa tercapai?"

"Mas, usaha itu wajib hukumnya dilakukan untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Dia tidak akan terwujud jika tidak dibarengi dengan kesabaran. Itu kunci utamanya."

"Aku tahu, Pak. Hanya saja, di sini apakah aku bisa bertemu dengannya atau tidak, itu yang membuat aku diterpa keraguan."

"Mas tahu, usaha Bapak yang masih kamu lihat sampai hari ini? Sampai kamu kembali setelah bertahun-tahun lamanya pulang kampung? Dua kunci tadi yang Bapak sebutkan  itulah alasannya. Nah, kunci-kunci tersebut berlaku pula dalam urusan seperti yang sedang kamu hadapi sekarang, Mas."

"Persoalannya, aku tidak tahu mencarinya di mana."

"Sambangi rumahnya."

"Aku tidak berani, Pak."

"Lantas, untuk apa kamu jauh-jauh kemari kalau hanya membawa kepengecutanmu saja?"

Aku diam. Seribu satu macam mengecamuk di dalam pikiran.

"Pak." Aku menatap gelas kopi di depanku. "Aku kemari hanya ingin melihat wajahnya saja. Entah, empat tahun ternyata tidak lantas membuatku mudah melupakannya. Malah, kerinduan yang kian memuncak memenuhi seluruh ruang hidupku. Aku hanya ingin melihat wajahnya. Itu saja. Tidak lebih."

"Hidup ini kadang tanpa kita sadari telah membeberkan rahasia-rahasia yang tidak kita ketahui sebelumnya. Kamu kemari hanya ingin  melihat wajahnya. Padahal dari lubuk hatimu sendiri, kamu justru berharap lebih dari sekadar itu. Ada tabir rahasia yang sedang coba kamu singkap tentang diri dan hidupmu. Mesti kamu sendiri tidak menyadarinya."

"Mungkin aku terlalu egois, Pak. Memaksakan keadaan tanpa berpikir lebih jernih sebab akibat yang akan terjadi nanti."

"Sifat egois itu tidak selamanya negatif, Mas. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada cara lain selain mengambil cara ini untuk membuktikan sejauh mana kamu bisa mempertahankan komitmen yang telah kamu ikrarkan sebelumnya."

"Tapi apakah harus seperti ini, Pak."

"Yang bisa menjawabnya hanya kamu sendiri, Mas."

Kualihkan pandanganku ke jalan. Ada beberapa kendaraan roda dua melintasi jalan gang itu. Beban hidupku seolah bertambah berat.

"Boleh saya bertanya, Pak?"

"Silakan."

"Bapak pernah melihatnya di sini?" Pak Pardi diam sejenak. Ditatapnya aku yang kelelahan, meski sejak tadi telah berusaha menutupinya dengan terus-terusan menyunggingkan senyum.

"Dia akan terus kemari, Mas."

"Apakah dia sendiri?" tanyaku penasaran menunggu jawaban. Pak Pardi hanya mengangguk. "Hari ini, apakah dia juga akan kemari?"  Dicondongkan mukanya ke arahku sambil menatap lekat mataku.

"Apakah kamu siap untuk menemuinya?" tanya Pak Pardi menyelidik. Aku ragu. Tiba-tiba saja, ada perasaan lain yang muncul. Apakah aku siap?

"Katakan kalau kamu siap dan memang kamu harus siap." Aku terkejut bingung. Bahkan lantaran perkataan Pak Pardi barusan. Tapi, tepat di belakangku, telah berdiri sesosok perempuan yang selama ini telah membuatku bertahan untuk menunggunya. Senja menurunkan gerimisnya tanpa bisa dicegah.

"Ressy..."  -k

Kedungdowo-Cengkok, 26 Maret 2016

Muksin Kota: lahir di Nagekeo Flores NTT. Bergiat di Komunitas Literasi Bangsal J Kediri.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muksin Kota
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 1 Mei 2016


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi