Serpihan Kertas Awi ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 10 Mei 2016

Serpihan Kertas Awi


AWI mengamati potongan-potongan kertas yang telah ia gunting. Ia tidak hendak membuat sesuatu apa pun, kerajinan tangan atau semacamnya. Ia hanya ingin meluapkan empsinya dengan menghancurkan sesuatu. Kalau melempar kaca rumah seseorang dengan batu, risikonya terlalu besar.

SETELAH terdiam sejenak, seperti menimbang-nimbang sesuatu, Awi menaruh potongan kecil-kecil kertas tersebut di atas telapak tangannya lalu ia tiup dengan sekuat helaan napasnya. Buyar semua serpihan kertas. Ia merasa amarahnya juga sudah buyar dan lenyap bersamaan dengan terbangnya potongan kecil-kecil kertas tersebut. Saat berkaca di cermin kamar anaknya, warna wajah Awi memang sudah tak lagi merah.

Namun, yang lenyap hanyalah amarahnya, bukan masalahnya. Itu pun hanya lenyap sementara. DUa jam kemudian, ketika menonton siara televisi yang menayangkan berita korupsi seorang menteri, darah di dalam tubuh Awi kembali bergejolak. "Pejabat itu memang bangsat!" Awi tidak sedang memaki menteri yang menjadi tersangka korupsi. Ia sedang memaki lurah di desanya.

***
Sudah selama sebelas tahun Awi berjualan mi ayam dan bakso di tanah kosong di samping kantor kelurahan. Tapi, sejak tadi pagi, ia tidak bisa berjualan di sana lagi karena area berjualannya telah dipalang oleh petugas kantor kelurahan. Potongan kayu-kayu dan rantai dipasang mengelilingi area seluas tiga kali sepuluh meter  itu. Meja-meja kayu yang biasa disimpan di situ telah berpindah ke lokasi pembuangan sampah di pojok kantor kelurahan. Tidak hanya Awi yang tidak bisa berjualan lagi di sana, tapi juga empat pedagang lainnya. Tukang nasi uduk yang juga menyediakan nasi kuning, tukang gorengan, tukang batagor dan siomay, serta penjaja minuman botol dan kaleng yang juga menjual rokok.

Sepekan sebelumnya. Awi memang sudah menerima surat pemberitahuan dari pak lurah bahwa ia dan kawan-kawannya harus segera memindahkan barang-barang dagangan mereka dari tanah samping kelurahan. Soalnya, di lokasi itu, akan segera dibangun sebuah kantin khusus kelurahan.

Awalnya, Awi dan kawan-kawan memiliki harapan lebih. "Jadi, pak lurah akan mendirikan bangunan khusus untuk kami berjualan?" Maklum, di antara mereka berlima tidak ada yang bisa membaca huruf.

"Bukan untuk kalian," jawab si penyampai surat dengan datar. "Kantin itu akan ditempati oleh adik sepupu pak lurah yang memiliki rumah makan prasmanan di seberang terminal dan belakang pasar. Dia akan membuka kantin cabang barunya di sini."

Awi merasa kesal dengan jawaban petugas kelurahan yang membawa surat tersebut.

""Kami tidak akan pindah! Sudah sebelas tahun saya berjualan di sini. Mak Siti bahkan sudah menjual nasi uduknya sejak empat belas tahun lalu. Kami sudah lebih dulu berada di sini sebelum Pak Hariyono menjadi lurah. Kenapa harus mengusir orang-orang lama karena kehadiran orang baru?"

Pengantar surat itu paham atas keberatan Awi dan pedagang lainnya, tapi ia hanya melaksanakan tugas. Tugas menyampaikan surat pemberitahuan yang pahit tersebut kepada  mereka. Dalam surat itu, dikatakan bahwa Awi dan pedagang lainnya diberi waktu sepekan untuk merelokasi barang-barang dagangan mereka. Kalau sepekan kemudian barang dagangan mereka belum juga dipindahkan, petugas kelurahanlah yang akan menindaknya.

Isi surat tersebut benar-benar dilakoni pada Senin pagi tadi. Pagi hari, ketika Awi  mendorong gerobak mi ayamnya menuju samping kantor kelurahan yang bersebelahan dengan puskesmas dan sebuah gedung SMP negeri, kakinya berhenti melangkah di tengah jalan. Dari jauh, ia sudah dapat melihat dengan jelas bahwa area tempat biasa ia berjualan telah dipalang oleh kayu dan gerendelan rantai besi. Awi meninggalkan gerobak jualannya di pinggir jalan lalu melangkah dengan kesal hingga ke depan kantor kelurahan. Awi berteriak-teriak meluapkan emosinya. Selama hampir satu jam, tak ada satu pun orang kelurahan yang menanggapi teriakannya. Semua pegawai hanya melirik ke luar jendela dan pintu lalu kembali ke meja mereka masing-masing berpura-pura tidak mendengar teriakan Awi. Mereka iba terhadap Awi dan pedagang lainnya yang selama sekian tahun sudah menjadi langganan makan mereka. Tapi, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Berpura-pura tidak tahu adalah sikap yang paling aman ketimbang ikut larut ke dalam konflik orang lain.

Pas Pur, Baadrun, dan Kodir juga ikut berteriak di samping Awi ketika mereka tiba di depan kantor kelurahan. Mak Siti tidak ikut berteriak, tetapi ia tidak bisa menahan dirinya menangis tersedu-sedu hingga terduduk lemah di atas aspal jalanan. Dua petugas penjaga keamanan akhirnya menghampiri kelima pedagang tersebut demi menenangkan hati mereka. Keributan tidak akan menyelesaikan masalah, kata mereka. Tapi diam dan pasrah menerima begitu saja juga tidak akan menghilangkan masalah, pikir Awi.

"Pak lurah sedang tidak ada di kantor. Percuma teriakanmu, Wi." kata salah seorang petugas keamanan tersebut.

"Kamu tahu kan Wan, saya sudah lama berjualan di sini. Apalagi Mak Siti. Masa seenaknya saja pak lurah mengusir kami?!"

Iwan, nama petugas keamanan yang sudah akrab dengan Awi itu, mengangguk. "Itu meja-meja kayu kalian dipindah ke pojok situ. Tidak ada yang rusak. Sebaiknya kalian ambil dulu sebelum diangkut truk sampah."

***
SENIN siang ini, Awi pulang ke rumah tanpa membawa sepeser pun uang hasil berdagang. Ia yang biasanya baru pulang sehabis Asar atau menjelang Maghrib, sudah berada di rumah kembali sebelum Zuhur. Kondisi gerobaknya masih penuh dengan mi dan bakso serta ayam-ayam suwirnya. Kursi-kursi plastik warna biru masih terikat di samping gerobak dengan cantik. Untuk hari ini, kursi-kursi cantik itu belum sempat diturunkan dan diduduki pembeli.

"Kok jam segini sudah pulang, Pak?" Di depan pintu ruah, istrinya heran melihat wajah Awi yang murung dan isi gerobak jualannya yang masih utuh.

"Pak lurahh sialan!" Teriakan Awi mengagetkan istrinya.

Awi masuk ke dalam kamarnya dan istrinya mengikuti ia dari belakang. Awi pindah ke kamar anaknya. Istrinya paham, Awi tidak ingin diganggu dan ditanya-tanya lebih banyak. Di kamar anaknya itu, Awi merobek-robek kertas dari buku tulis kosong milik anaknya. Ia potong-potong kertas-kertas itu lebih kecil, dan sangat kecil, dengan gunting. Cabikan gigi-gigi gunting bekerja membuka menutup secara amat kasar dan cepat. Tenaga dari tangan Awi lah yang menggerakkannya.

Awi memiliki dua orang anak. Keduanya perempuan. Yang besar sudah kelas enam SD, sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional; yang kecil masih berusia empat tahun. Kertas-kertas dari buku milik putri sulungnya itulah yang menjadi pelampiasan emosi Awi. Senin lalu, Awi juga pernah meluapkan emosinya dengan merobek-robek kertas surat pemberitahuan dari pak lurah di depan seorang petugas kelurahan yang mengantarkan surat tersebut. Petugas itu bergeming dan tidak merasa tersinggung karena itu bukanlah urusannya. Itu adalah masalah para pedagang dengan pak lurah. Ia sebagai pegawai rendahan di kantor kelurahan, merasa tidak berhak dan tidak perlu terlibat dalam konflik antara dua pihak tersebut.

Lima menit setelah Awi meneriakkan umpatan terhadap pejabat dan lantas mematikan televisinya, putri sulungnya mengucapkan salam manis dari depan pintu rumah. "Assalamu'alaikum!" Indah, putri sulung Awi, baru saja pulang dari sekolah. Ia menghampiri Awi dan mencium tangannya. Setiap berangkat dan pulang sekolah, Indah tak pernah alpa mencium tangan orangtuanya yang berada di rumah.

"Tumben Bapak sudah pulang. Biasanya kan Bapak sampai di rumah belakangan. Bahkan sampai Maghrib."

Awi hanya tersenyum menanggapi perkataan putri sulungnya tersebut. Memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Terasa masam, bahkan pahit dalam hati kecilnya.

"Ibu di mana, Pak?"

"Sedang ke warung sama Dewi."

"Oh iya, Pak, Indah tadi dapat saran dari Bu Guru. Saran Bu Guru seusai dengan keinginan Indah juga. Setelah lulus ujian nasional nanti, Indah akan memilih SMP yang dekat kantor kelurahan itu. Biar bisa dekat sama Bapak. Bisa bantu-bantu Bapak juga pas jam istirahat dan sepulang sekolah. Indah tidak perlu mengeluarkan uang untuk jajan di tempat lain. Pas kan, Pak?"

Awi menatap haru wajah putri dua belas tahunnya yang sudah bisa berpikiran sedemikian dewasa itu. Tapi, ia sendiri justru merasa ragu akan mampu membiayai pendidikan putrinya itu hingga jenjang sekolah yang lebih tinggi. Lokasi berjualan di samping kantor kelurahan adalah lokasi yang memberikan penghasilan paling besar dibandingkan dengan lokasi-lokasi berjualan lain yang pernah Alwi diami sebelumnya, termasuk berjualan keliling. Dari hasil berjualan di lokasi itu, ia bisa membangun kamar baru di rumahnya untuk Indah, membawa istrinya ke bidan untuk melahirkan Dewi, membeli televisi, dan membayar utang-utangnya dari sejumlah rentenir.

Sebelum berjualan di samping kantor kelurahan itu, napas Awi selalu kembang kempis menghitung persediaan beras sehari-hari. Bahkan, dulu, Indah hampir tak selamat dilahirkan karena Awi tak mampu membawa istrinya ke bidan. Seorang dukun kampung datang terlambat ke rumah Awi karena menolak naik kendaraan. Dukun beranak itu tetap memilih berjalan kaki meski sudah diberitahu bahwa air ketuban istri Awi telah pecah. Untunglah, masih ada sisa tenaga di dalam tubuh istri Awi yang sempat pingsan kelelahan setelah disadarkan oleh datangnya sang dukun beranak.

Alwi mengangguk. "Iya, pas!" terasa getir ucapan itu.

Mereka berdua melakukan "tos" dengan kedua telapak tangan kanan mereka yang saling menepuk.

Indah berlalu ke dalam kamarnya. Awi termenung di depan televisi, memikirkan nasib esok hari.

Dari dalam kamar Indah, terdengar teriakan kecil. "Pak, tadi Dewi masuk-masuk ke kamar Indah ya? Kok kamar Indah jadi berantakan banget gini sih? Serpihan kertas ada di mana-mana..."

Awi menghela napas mendengar teriakan putrinya. Ia bingung harus menjawab apa.***


Utomo Priyambodo, peserta workshop cerpen Kompas 2015. Pernah meraih juara III lomba menulis cerpen profetik mahasiswa se-Indonesia 2013 dan juara naskah adaptasi film kompetisi nasional dialog muda 2015. Naskah itu dieksekusi oleh sutradara Sammaria Simanjuntak menjadi film pendek berjudul "Misteri Anu Jatuh."


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Utomo Priyambodo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 8 Mei 2016

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi