Suatu Pagi di Dermaga ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 09 Mei 2016

Suatu Pagi di Dermaga


”RANDU pergi,“ ujar Ratna kepada Lintang setengah berbisik, seperti takut ucapannya terdengar orang lain.

”Apa?“

Lintang terlonjak sekan tak percaya ucapan sahabatnya itu.

“Kau bisa menyusulnya sekarang di ujung desa, sebelum sampan itu menjemputnya. Aku dengar mereka akan berangkat siang ini, dan Randu tak bisa berbuat apa-apa saat mereka menyeretnya,“ lanjut sahabatnya itu sambil meletakkan telunjuk di atas bibir dengan pandangan menyapu sekeliling dengan tatapan khawatir. Lintang merapikan rambut panjang hitam yang sedikit ikal dan acak-acakan karena baru bangun tidur. Mengangkat ke atas lalu mengikatnya dengan karet gelang.

”Tolong bilang sama Amak kalau aku berangkat duluan.“

Ia kemudian berlari meninggalkan Ratna, lalu tak lama balik lagi dan berkata, ”jangan bilang aku menemuinya ya.“

Ratna hanya terbengong saja melihat tingkah sahabatnya itu sambil geleng-geleng kepala. Ia tahu Lintang dan Randu dekat sejak lama, bahkan sejak mereka masih kecil. Menginjak usia remaja, kedekatna mereka bukan lagi antara dua orang sahabat kecil yang lugu seperti dulu, ada keterikatan batin seperti sepasang kekasih yang seakan enggan terpisahkan. Kehadiran Ratna yang dulunya sahabat tiga sekawan, kini seperti hanya penghias saja di antara mereka. Ratna tak menghiraukan itu, kalaupun ia tahu Lintang dan Randu kini sepasang kekasih.

Lintang memercepat laju sepedanya yang hampir saja menyenggol sepeda dagangan Gusro di jembatan gantung. Tapi Lintang tak peduli. Ia hanya meneriakkan kata maaf sepintas tanpa menoleh yang membuat Gusro geleng-geleng kepala.

Ia baru mencapai ujung Desa Kumprit Sijambi Datuk Bandar, ketika matanya menyapu dermaga sungai luas itu. Menyisir tiap sudutnya, kalau-kalau ada sosok tinggi kurus dengan rambut gondrong hampir sebahu yang mengisi hari-harinya selama ini. Dadanya sedikit sesak, mungkin karena napasnya yang enggan keluar akibat tertahan di tenggorokan, atau mungkin juga himpitan perasaan yang ta bisa ia gambarkan saat ini. Apakah itu marah, kesal, sedih, rindu, tapi yang pasti bukan perasaan bahagia yang kerap dirasakan saat memandang kekasih gondrongnya itu sedang tersenyum, dan memamerkan lesung pipit di pipi kirinya ketika mereka bersua. Masih celingukan, ketika tiba-tiba saja bahunya dikejutkan tepukan ringan. Sedikit terlonjak, Lintang melotot pada pemilik tangan kekar dengan otot dan urat-urat menonjol dari lengan legam itu.

”Nak apa ke sini Pipit Kecil?“ Randu berkata seolah suaranya adalah angin. Setelah menyipit, mata indah Lintang yang berbulu panjang dan lentik menatap tajam Randu.

”Masih bertanya setelah ingin meninggalkanku tanpa pamit, maksudnya apa hah?“ sergah Lintang sengit.

Randu hanya berdiri mematung sesaat, hanya sesaat. Sedetik kemudian tangannya mulai terangkat meraih jari-jemari Lintang, lalu menyelipkan sesuatu di baliknya.

”Aku tahu kau akan ke sini, segera simpan dan buka nanti di benteng (sebutan untuk reruntuhan bangunan tempat mereka biasa bermain sejak kecil). Aku akan menyuratimu selanjutnya. Sekarang pulanglah Pipit Kecil, jangan sampai kita dipersulit lagi karena jumpa di sini.“ Randu berkata dengan suara sedikit bergetar, antara menahan rasa rindu dan resah karena ingin berpisah dalam kurun waktu yang entah.

”Kau janji?“ tanya Lintang dengan bendungan yang nyaris tumpah, perasaanya kacau.

”Tentu saja Lintang. Sekarang pergilah sebelum mereka melihatmu,“ Randu berusaha meyakinkan.

Tak lama Lintang segera memutar balik sepedanya dan menyimpan lipatan kertas berwarna putih yang diberikan Randu ke tangannya tadi, ke saku roknya, dan mulai mendayung sepedanya menjauhi dermaga. Tak sampai sepuluh meter tiba-tiba saja dia menghentikan sepeda, lalu menoleh ke belakang. Lintang mendapati Randu yang masih berdiri mematung dengan tatapan seakan dunia sudah meremukkan jantungnya. Tidak jauh berbeda dengan perasaannya saat ini. Lintang menatap mata itu sesaat, sebelumk embali memutar tubuh dan melanjutkan mendayung kembali sepedanya. Ada tetas yang jatuh dari bening mata indahnya, ada rasa yang menyeruak seakan menghimpit dadanya, ada isak tertahan yang memacu semangat melarikan sepedanya menuju benteng. Harus saat ini, aku takkan bisa menunggu lebih lama, pikiran menerawang penasaran membuncah dari ketas putih di saku roknya.

***

BERHARI-HARI, berminggu-minggu Lintang menunggu dan menunggu, surat dari Randu tak kunjung ada. Bahkan hitungan kini jatuh pada bulan, berbulan-bulan. Lintang mengumpulkan sobekan kalender China yang dibundel jadi satu di tiap hitungan bulannya. Bundelan yang diikat pakai karet gelang itu kini sudah berjumlah 12, dan tinggal dua lembar lagi kertas itu akan tersobek seluruhnya. Namun harapan dan semangat Lintang pada janji yang terikrar di surat Randu tak pernah mati. Tak ada kata yang bisa melunturkan bahkan ucapan Ratna sekali pun yang menyuruhnya berhenti berharap tentang janji yang tak jelas itu. Ratna juga mengingatkannya akan ketidakmungkinan mereka bersatu. Tapi Lintang tak peduli, yang ia peduli saat ini janjinya dan janji Randu yang akan segera bertemu di benteng dua hari lagi.

Pagi hari ketika fajar baru saja menelisik masuk di sela-sela pepohonan, Lintang sudah terlihat rapi dan cantik dengan dandanan sederhana yang dikenakannya. Bajunya wangi, tak sia-sia semalam ia menyelipkan bunga melati di antara baju yang akan dikenakannya pagi ini. Rambut ikal panjangnya yang legam terlihat dikuncir tinggi, ujungnya sudah rata karena kemarin ia meminta Ratna memotong ujung-ujungnya yang panjangnya tidak sama. Setelah merasa puas dengan penampilannya dengan mematut-matut diri di cermin, Lintang tersenyum lebar. Hatinya berbunga-bunga, ia akan bertemu kekasihnya hari ini. Tak peduli Randu akan datang jam berapa, Lintang tetap akan pergi ke benteng dan menunggu di sana sampai benar-benar bertemu kekasihnya itu.

Ia mengayuh sepedanya dengan semangat berapi-api, seakan tenaganya tak pernah habis dan selalu menyala. Sesampai di benteng, senyum tak pernah habis tersungging di bibirnya. Lintang masih membayangkan yang akan dikatakannya nanti ketika bertemu Randu. Ia mondar mandir sambil matanya sesekali melirik ke arah jalanan. Tapi yang ditunggu belum juga kelihatan. Semenit dua menit, sejam dua jam, hingga sampai matahari condong ke barat Randu tak datang juga. Bajunya mulai lusuh, senyum pun sudah berganti sungut. Ketika yakin Randu takkan datang, akhirnya Lintang pulang dengan gontai mengayuh sepedanya.

***

TIGA tahun sudah sejak kepergian Randu yang berkabar berita itu, masih tetap mengokohkan hati Lintang tak berpaling kepada siapa pun. Meski Ratna berulangkali mengingatkan. Setiap bulan mulai purnama, Lintang tak pernah lupa menyelipkan secarik kertas berisi puisi yang ditulis untuk kekasihnya itu di antara reruntuhan bebatuan di benteng. Puisi-pusi itu berisi ungkapan perasaan kerinduan, rasa sayang, harapan serta impian-impian Lintang yang dibangunnya dari kesetiaan selama penantian. Kadang ia ke dermaga menunggu kalau-kalau kapal yang berlabuh di sana membawa Randu pulang. Tapi harapannya masih belum sama dengan kenyataan.

Satu hari di pagi yang ranum, nyanyian kecil dari bibir mungil Lintang bersenandung. Entah kenapa hari ini wajahnya terlihat sedikit ceria. Ia sudah berencana ke dermaga selepas menulis satu puisi lagi tadi malam. Kembali Lintang mengayuh sepedanya.

Sampai di dermaga, Lintang berjalan mendekati keramaian. Sebuah kapal baru saja merapat. Lintang mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap sosok yang ditunggu muncul di sana. Tak lama yang diharapkan Lintang menjadi kenyataan. Ia sangat mengenal wajah itu, sungguh tak asing baginya. Hanya saja rambutnya sudah tak lagi gondrong seperti dulu. Lintang baru akan berlari mendekati ketika tiba-tiba saja ada seorang wanita bergelayut manja di lengan lelaki itu. Randu bersama siapa? Pikirnya. Siapa wanita itu?

Lintang memaku di tempatnya berdiri, langkahnya terhenti. Matanya tak lepas memandang sepasang insan yang terlihat sangat bahagia. Darah Lintang mulai mendidih, tangannya mengepal, bibirnya mengatup kaku. Entah dengan kekuatan apa tiba-tiba Lintang memiliki keberanian mendekati sepasang sejoli itu.

”Randu,“ panggil Lintang.

Sontak kedua orang itu menoleh ke arah Lintang. Si lelaki langsung tersenyum menyambut, sedang si wanita hanya menatap dengan kening mengernyit bingung.

”Lintang, apa kabarnya?“ tanya Randu dengan gaya bicara yang sudah jauh berubah.

”Oh ya kenalkan ini calon tunanganku, kami akan segera bertunangan dalam waktu dekat ini,“ lanjutnya.

Lintang tak menyahut, jantungnya serasa dibelah-belah, pendengarannya seakan terbakar. Jangankan balas menjabat tangan wanita yang dikenalkan Randu padanya, menoleh ke arahnya pun tidak. Tanpa berkata-kata lagi ia langsung berbalik, mengambil sepeda dan mengayuhnya secepat kilat meninggalkan kekasih yang sudah membunuh jiwanya.

Hari ini ia tidak menangis. Matanya sudah kering. Kering oleh dendam yang perlahan mulai tumbuh dan bakal menjamur di hatinya. [] (k)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Khairani Piliang
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" Minggu I, 8 Mei 2016

Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi