Anjuran Lurah Siran | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Anjuran Lurah Siran Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:30 Rating: 4,5

Anjuran Lurah Siran

"JADI begini Pak, Bu, maaf sebelumnya. Mengingat kita sekarang ada di bulan puasa, bulan suci bagi kita umat muslim, saya sebagai kepala dusun bermaksud mengajak warga bersama-sama menjaga kesucian bulan ini."

Lurah Siran membuka pertemuan di balai desa malam itu dengan nada yang sedikit gemetar. Orang-orang yang duduk berbaris di hadapannya, yang semuanya adalah warganya sekaligus para pemilik warung itu, sebagian mengangguk-angguk seakan tersadar, paham dan mengerti apa yang baru saja diucapkan lurah mereka.

Tapi ada juga yang merutuk kesal. "Paling, ujung-ujungnya kita diminta tutup," keluh Mbok Surti yang duduk di barisan paling belakang.

Ia menggumam sambil menoleh ke sampingnya, seakan meminta persetujuan pada rekannya. Di sana ada Suminah, perempuan paruh baya yang kelihatan masih cantik. Namun, Suminah hanya diam sambil tetap memandang dua orang yang duduk di depan.

"Sebenarnya saya sama sekali tak bermaksud semena-mena atau mengusik kebebasan Bapak Ibu semua. Namun, sebagai dusun yang paling besar dan banyak penduduknya di Kecamatan Wongkang, pantasnya kita memberi contoh yang baik pada dusun-dusun lain di sekitar kita," tambah lurah Siran lagi.

"Apa jadinya jika dusun kita ini jadi bahan gunjingan warga dusun sekitar, bukankah kita yang malu sendiri? Benar begitu kan Pak Ustaz?" Lurah Siran menoleh ke seseorang berpeci putih dan berbaju koko di sampingnya.

Ustaz Sholeh yang sejak tadi duduk tenang dan lebih sering menunduk kini mengangkat kepalanya, menghadap ke para warga dan tersenyum.

"Iya, Bapak Ibu semua. Benar apa yang dikatakan pak Lurah. Beberapa hari yang lalu, saya bahkan sempat mendengar, ada suara-suara kurang enak dari pembicaraan warga tetanngga dusun. Katanya, dusun kita ini besar, penduduknya banyak, maju, tapi di bulan puasa begini kok warung-warung masih banyak yang buka. Tak memberi contoh yang baik, katanya. jadi alangkah baiknya jika kita berbenah sekarang."

Para pemilik warung saling pandang. Seperti kebingungan harus bagaimana menyikapi anjuran dua tokoh masyarakat itu. Di satu sisi, sebagai umat muslim sendiri, mereka memang ingin berhenti membuka warung untuk menghormati bulan puasa ini. Namun, di sisi lain, sebagian dari mereka hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan makanan di warung untuk bertahan hidup. Banyak yang merasa keberatan jika harus menutup warung selama bulan Ramadan.

Beberapa hari di awal bulan puasa ini, satu dua pedagang memang sudah menutup warung siang hari, dan baru buka menjelang buka puasa tiba. Namun, warung yang masih buka jumlahnya masih banyak. Karena itu, Dusun Sukosuko sebagai dusun besar dan maju yang terletak di pusat kecamatan, mulai dipandang miring oleh warga dari dusun-dusun lain yang kebetulan lewat atau singgah di kecamatan. Dusun Sukosuko memang terletak di pusat Kecamatan Wongkang. Sehingga ramai dikunjungi warga dari dusun-dusun sekitar yang memiliki keperluan.

Ustaz Sholeh, tokoh masyarakat yang pada pemilihan kepala desa setahun lalu menjadi salah satu tim sukses Lurah Siran, merasa perlu membicarakan hal itu kepada lurah kebanggaannya itu. Paling tidak, agar Lurah Siran, selaku kepala dusun bisa memberikan anjuran kepada warganya, terutama para pedagang makanan atau pemilik warung di pinggir-pinggir jalan itu.

"Tapi, mohon maaf Pak Ustaz. Kalau tutup warung, saya dapat duit dari mana buat bekal Lebaran anak istri nanti? Usaha saya satu-satunya ya warung itu," protes seorang bapak yang duduk paling depan. Segera diikuti suara geremengan dan anggukan kepala dari para pedagang yang lain, seakan mereka baru saja mendengar suatu pernyataan yang mewakili perasaan mereka semua.

Lurah Siran dan Ustaz Sholeh saling pandang sejenak, kemudian keduanya tersenyum tipis, seolah baru saja mendengar protes anak kecil yang lugu.

"Kan masih bisa buka malam harinya Pak," kata Lurah Siran kemudian. Ustaz Sholeh mangut-mangut menyetujui usul sang lurah.

"Kalau cuma buka malam hari, pendapatan jadi berkurang drastis Pak," kata bapak yang tadi melancarkan protes. Agaknya ia begitu khawatir jika harus menutup warungnya di pagi dan siang hari selama sebulan penuh. Pada hari-hari biasa saja, pendapatannya dari warung tak seberapa.

Lurah Siran menoleh ke arah Ustaz Sholeh, berharap rekannya membantu  memberikan penjelasan.

"Rezeki setiap orang sudah ada yang mengatur Pak. Jadi jangan khawatir pendapatan akan berkurang atau tidak cukup. Berapa pun, pasti tetap mencukupi kebutuhan Bapak dan keluarga, Allah yang menjamin!" Ustaz Sholeh berucap dengan  ramah, namun cukup tegas dan meyakinkan. Pedagang yang tadi berprotes pun terdiam. Tak bisa berkata apa-apa lagi.

"Jadi, saya mohon Bapak Ibu semuanya, para pemilik warung yang ada di dusun ini, untuk menutup warung sementara pada sampai siang hari selama bulan suci ini. Menjelang waktu buka puasa, ya sekitar pukul lima sore bisa mulai buka sampai fajar, waktu sahur tiba," jelas Lurah Siran dengan ramah setelah melihat para warga di hadapannya sudah mulai tenang.

Beberapa pedagang menampakkan raut wajah kecewa, terutama mereka yang sudah biasa membuka warung di bulan puasa. Mereka sebenarnya telah berusaha menghormati bulan suci ini dengan memasang tirai di pintu saat membuka warung di pagi hari, atau dengan membuka pintu sebelah saja jika pintunya sepasang. Cara itu mereka anggap sudah cukup untuk menghormati orang-orang yang berpuasa karena mereka tak membuka warung dengan blak-blakan sebagaimana bulan-bulan biasa. Yang puasa ya selamat puasa, yang ingin makan ya mangga masuk aja, begitulah kira-kira yang ada di pikiran para pemilik warung yang melakukan cara itu.

Namun, malam itu mereka diminta Lurah Siran untuk benar-benar menutup warung mereka saat pagi dan siang hari. Sore hari menjelang Maghrib baru bisa mulai dibuka. Bagi mereka yang sudah biasa menutup warung di bulan puasa, hal ini tentu bukan menjadi masalah. Namun bagi mereka yang sudah biasa tetap buka, ini tak mudah dilakukan. Ada perasaan mengganjal yang seakan sulit untuk diikhlaskan.

Malam kian larut. Para pedagang yang dikumpulkan Lurah Siran di balai desa sudah membubarkan diri beberapa saat yang lalu. Namun, di barisan kursi paling belakang, tepatnya di pojokan, masih ada seseorang yang duduk bergeming dan tak kunjung bangkit untuk pulang.

Dia Suminah. Janda muda cantik itu matanya menatap lurus tajam ke depan. Ke arah Lurah Siran yang masih tampak asyik berbincang dengan Ustaz Sholeh sambil sesekali mengembuskan asap rokoknya. Suminah tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar bersama para pemilik warung yang lain. Tentang anjuran Lurah Siran untuk menutup warung. Padahal, Suminah tahu sendiri, Lurah Siran tak pernah puasa karena setiap pagi selalu sarapan dan ngopi di warungnya. (k)

Al-Mahfud; lahir di Pati, 9 Maret 1992

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Al-Mahfud
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 Juni 2016


0 Response to "Anjuran Lurah Siran"