Ingat Nenek - Tepian Jejak - Pemakaman - Ijazah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ingat Nenek - Tepian Jejak - Pemakaman - Ijazah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:52 Rating: 4,5

Ingat Nenek - Tepian Jejak - Pemakaman - Ijazah

Ingat Nenek 

Bila muadzin mengumandangkan merdu
di kota kelahiran ini
aku teringat pada nenek
yang kisut dan ringkih dengan tuberkulosis di dada
wajah nan selalu pucat itu, selalu dihias senyum
memasangkanku baju seraya melumuri dengan
nasehat
sudah kulupa detailnya, kuingat intinya: jadilah anak
baik dan pendoa
karena untuk orang lemah seperti kami, doa adalah
segalanya

nenek menjanda kala masih muda
menolak semua pinangan walau bertahan itu sukar
berjualan sayur di pasar tua murahan
itulah nenekku tersirat di lagu Iwan Fals berjudul Ibu
berjalan kaki menempuh ribuan kilometer
kehidupan
setia pada nasib: baik atau buruk
meski tak pasti apakah berbalas anak berbakti
dari nenek kami belajar, dan yakin, surga benar-
benar di telapak kaki Ibu

Tepian Jejak 

kita telah melukis di pasir pantai yang sama
berikrar dengan lidah masing-masing
pepohon nyiur dan buih pesisir jadi saksi
tentang darah-darah yang bakal tumpah
dan rindu tak tergapai
angkasa setia memayung
merapal pujian pengobar semangat
kau bilang padaku: menyerah itu termasuk pilihan
tapi kita sepakat tak mengambilnya
mati, katamu, selalu lebih mulia dari segalanya
pernahkah mereka membaca kitab-kitab kuno?
yang rutin kau senandungkan ayat-ayat magisnya
kala subuh dan magrib, tatkala mentari menyalak
dan bulan gagah
dengan peluru di kantong kau bercerita sambil
menerangkan mata
sumpah itu harus ditagih
perempuan-perempuan menggemaskan tak jauh dari
kemah tak pernah menarik perhatianmu
kita terlalu sibuk bercumbu dengan angin dan
bintang
sedangkan nyawa generasi dipertaruhkan
dan nyanyian syahdu sudah tak laku
wahai, jejak kecil di tepian sekadar sejarah

Pemakaman 

kami menulis pilu pada sebongkah batu
yang disebut-sebut terlontar dari langit
oleh kekuatan super tak terdefinisi
lalu tangis itu tumpah--tangis yang sebelumnya tak
pernah turun
di tanah beku kau mendesah rindu
untuk negeri sunyi dan kuburan leluhur di pinggir kota
pada akhirnya semua akan dimakamkan, katamu
dan tawa hanyalah warna yang pasti pudar
mereka berbaju hitam dan mengibarkan bendera
kuning
dengan gaya yang entah disesap dari mana
hitam, apakah kau ingin liang lahatmu nanti sepekat
baju mereka, teman?
kutunggu suratmu dengan perasaan absurd, dan
kenangan

Ijazah 

kampus itu masih sepi saat dua orang datang dan
berbincang
tentang masa depan di ujung tinta pada kertas ijazah
bening lalu kusam, dan fotokopi, serta stempel legalitas
selalu ada yang diperjuangkan
meski kadang tak kasat mata
semilir menyapu, dedaun kering gugur di halaman:
sejuk tapi kotor
tugas kuliah adalah saksi tentang jalan hidup
pada setiap tapak ada jejak yang suatu saat akan
ditertawakan
bukankah nafas dan hari-hari hanyalah canda masa
lalu?
di kampus yang sepi mereka berpisah
bertemu lagi, berpisah lagi, sampai masa depan datang
lalu mengoyak semua selamanya



Rio F Rachman, lahir di Kotawaringin Timur (Sampit), 21 Februari 1988. Penulis adalah alumnus S-2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Buku kumpulan esainya berjudul Menyikapi Perang Informasi.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rio F Rachman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 5 Juni 2016

0 Response to "Ingat Nenek - Tepian Jejak - Pemakaman - Ijazah "