Lelucon Sarah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Lelucon Sarah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:06 Rating: 4,5

Lelucon Sarah

TIDAK akan ada rindu yang menguak gerbang-gerbang kematian. Sungguh tidak ada yang merindu kematian. Dan tampaknya Tuhan punya rencana lain. Pagi ini masih menyisakan beberapa tetes air pada pucuk-pucuk daun pisang. Ibu-ibu rumah tangga yang asyik memilah terong dan menawar dua tiga ikan asin pun terhenti sejenak.

Bukankah itu terlalu cepat? Belum kering tanah Pak Karmo dan Bu Hj Rustri, juga kedua tetangga lainnya yang maish menyisakan duka lara. Tidak ada yang banyak komnetra dan beralih pada seplastik tahu dan sayur mayur lainnya.

Sebenarnya ada gerak-gerik seseorang. Bahkan untuk menebaknya semua orang tahu otak Yu Inem. Wanita paruh bayaberumur lima puluhan lebih. Ia meletakkan belanjanya di antara galon-galon air yang kosong.

"Tiap hari tidaka da hentinya berita duka. Dengar-dengar sih karena over dosis juga suka mabuk. Memang zaman sekarang, uh miris." Yu Inem membuka pembicaraan. Apalagi kalu bukan membicarakan hal yang tidak perlu, seperti menggosip.

"Yang namanya mati, Yu, mana kita tahu? Kalau soal begituan jangan ambil pusing, kan masih dengar-dengar belum tentu benar," ucap Sarah kemudian.

"Eh, memang benar kan, semasa hidupnya urakan. Suka keluar malam-malam sama teman-teman yang kurang jelas."

"Ah, Yu Inem, sudahlah kasihan ngomongin orang yang meninggal. Bukannya pamali? Ngomong-ngomong kapan nyusul?"

Sungguh tak percaya kata-kata itu muncul dari mulut Sarah. Memang semua tahu lelucon-lelucon Sarah. Tapi dia lupa siapa yang diajaknya bercanda.

"Apa Sar? Maksudmu apa? Hah? Jadi kamu mendoakan saya? Bangsat! Kamu memang bangsat! Jangan buru-buru Sar, nyari amal dulu yang banyak. Bangsat kamu! Hati-hati kalau bicara!"

Banyak yang mengira Yu Inem marah betul tapi tawanya mengundang persepsi ini hanya lelucon. Ya... Sarah memang pintar guyon. Selepas ia memplesetkan kalimatnya.

"Ya ampun Yu Inem, kan belum selesai ngomongnya. Maksudnya kapan nyusul ke Mekah, naik haji?"

"Dasar! Hati-hati kalau bicara," gerutu Yu Inem yang terkadang ia menyelipinya dengan tawa.

***
SARAH mengambil teleponnya yang berdering. Ibu Sarah memberi kabar Yu Inem baru saja datang ke rumah. Ia hanya menganggap pertemuan Yu Inem adalah hal biasa. Ya.. ia mencari mangsa untuk mendengarkan ocehannya sendiri. Sarah tidka membalas pesan.

Telepon Sarah berdering lagi. Yu Inem datang langsung marah. Bahkan membangsat-bangsatkan Sarah lagi. Sarah mulai khawatir. Ia memutuskan pulang.

Baru saja keluar dari pagar kantornya yang terletak tak jauh dari rumah Sarah. Berita tentang pelabrakan berita itu telah menyebar pada tiap tempat. Tentang Sarah dan Yu Inem. Wanita paruh baya itu masih mempersalahkan lelucon. Ia anggap Sarah bertindak kurang sopan.

"Jangan dipikirkan, Bu. Seperti tidak tahu saja Yu Inem. Sarah hanya bercanda. Toh sudah minta maaf. Anggap saja Yu Inem sedang tidak ada bahan gosip. Biarkan Sarah jadi topiknya." Sarah mencoba menenangkan.

Sarah menghela napas kemudian melempar pandang ke arah ibunya. Sarah mulai khawatir, ia akan menemui Yu Inem lagi nanti siang untuk meminta maaf.

"Lain kali jangan bergurau Yu Inem. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan orang itu. Ibu tidak terima anaknya dibangsat-bangsatkan seperti itu."

"Ya, Bu, sudah jangan dipikirkan. Nanti juga beritanya layu lagi."

***
"YU Inem! Yu Inem masuk rumah sakit!"

Lagi. Berita menyebar. Memang tak sulit untuk mendapatkan berita. Banyak mulut yang siap merekam perbincangan. Hari ini rencananyasemua ibu-ibu pengajian akan menjenguk.

Sarah kembali khawatir tentang perkataannya yang membuat Yu Inem sakit. Mungkin kata kematianterngiang-ngiang dalam pikirannya hingga ia jatuh sakit. Ia membawa rangkaian bunga indah sebagai bentuk permintaan maaf semoga Yu Inem cepat sembuh, ia juga membawa beberapa bingkisan ada buah-buahan juga.

Salah seorang membuka gagang pintu. Terlihat Yu Inem terdampar lemah. Hanya pada anak  bungsu yang menemaninya. Mungkin anak sulungnya masih marah. Ya.... sebulan yang lalu terdengar pertengkaran hebat di rumah Yu Inem. Anak sulungnya berontak akibat fitnah yang dibuat ibunya sendiri tentang istrinya. Sarah pikir memang keterlaluan sekali. Meskipun anaknya tahu orang-orang tidak akan menghiraukanocehan ibunya. Tapi, ia memutuskan untuk tinggal di kontrakan kecil.

Sarah berada di belakang rombongan. Ia menunggu giliran bersalaman dengan Yu Inem.

"Yu, semoga cepat sembuh. Ini ada beberapa bingkisan dan bunga."

"Kamu lagi!"

Sarah terlonjak kaget bentakan Yu Inem.

"Ya maaf kalau Sarah ada salah. Tentang perkataan itu...."

"Sar, aku belum mati. Mengapa kau bawakan bunga? Kamu memang mendoakan aku mati? Hah? Dasar! Bangsat! Keluar kamu! Keluar!"

Di ruangan itu menjadi panas, semua panik. Mereka kira Sarah tak bersalah. Sarah berniat meminta maaf dan menjenguk Yu Inem. Itu saja. Orang sakit dibawakan bunga bukan berarti mendoakan mati. Ah, memang pikiran Yu Inem kolot. Ada yang menenangkan Yu Inem, juga ada yang membawa Sarah keluar dari kamar.

Sarah semakin merasa bersalah. Ia takut berita Yu Inem mengusirnya terdengar di telinga ibunya.

***
PAGI begitu tenang tanpa Yu Inem. Beberapa hari ini tidak ada aberita-berita baru. Kecuali tentang pengusiran Sarah. Meskipun memang benar dan fakta tidak ada orang seheboh Yu Inem.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Kembali terdengar.

Semua berprasangka buruk tentang Yu Inem. Benarkah? Akibat lelucon Sarah tiga hari yang lalu membuat Yu Inem meninggal.

Semua membuka telinga lebar-lebar dan mencoba hening. Suaranya tak begitu jelas.

"Telah meninggal Ibunda Sarah tadi pagi jam tujuh."

"Ibu Sarah, Ibu Sarah yang meninggal."

Berita pengusiran Sarah sudah terdengar ibunya. Hingga ia jatuh sakit memikirkan anaknya: Sarah. Tekanan darah naik membuat stroke-nya kembali kambuh. 


Lisa Pramita. Sidomukti RT 001/001 Jemur, Kebumen.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lisa Pramita
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 Juni 2016

0 Response to "Lelucon Sarah"