Lidah - Makam - Wali | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Lidah - Makam - Wali Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:32 Rating: 4,5

Lidah - Makam - Wali

Lidah

berderik di lekuk
sebuah tikaman
memisahkan isim dari inti

sebagai tersisih
dirinya, daya julur tak terukur
bahasa
berpendar ke penjuru

akan terasah
akan terjaga
miliknya

lisan itu
kata yang kerap ragu-ragu

2016

Makam

sebelum tak ada
yang terkubur
di makam

sering ia impikan
hutan fosfor
tidur dalam rimbun
lembing-lembing mata panah

melesat dalam gugus centaurus
galaksi, sebuah transit
ruh-ruh, taifun-taifun

di gerbang
gamang memandang
mata maut biru yang gemilang
dan malaikat menanti

lonceng kematian
saat konstelasi bintang-bintang tercipta dari
getah randu dan cahaya

2016

Wali 

tiga cabang
tiga liang
ke arah kiblat

sebelum takbir
takdir mengait
yang patah dari yang pahit

kisar pelingsir
syeh guas dengan dua pengiring
tiba di mataram

di tanjung
dingin resap ke batang
terserap urat-urat daun

datuk laut berdiri
menangkis kabut
menyurut surut

doa-doa terucap
berdengung seperti surga
dari dalam gua

tak ada nabi setelah madinah
anak yatim yang bersisian
luput sebagai imam

di makam di mana mula
sebuah agama
dan rekaat

penebus-penebus yang diutus
berkata tentang nubuat

tentang apa-apa yang ingin kita ingkari

2016

Irma Agryanti, lahir di Mataram, Lombok. Sedang menyusun buku puisinya yang kedua setelah Requiem Ingatan (2013). Bergiat di Komunitas Akarpohon.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irma Agryanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 18 Juni 2016


0 Response to "Lidah - Makam - Wali "