Mei dan Seorang Lelaki | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mei dan Seorang Lelaki Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:08 Rating: 4,5

Mei dan Seorang Lelaki

MALAM di penghujung April. Seperti setiap tahun, pada malam ini, aku tidak ingin tidur. Aku takut laki-laki itu akan datang lalu pergi begitu saja saat aku terbangun nanti. Sudah tiga gelas kopi kuteguk habis. Aku tidak ingin tidur karena aku takut ketika aku tidur penantian ini akan menghabiskan waktu yang semakin lama, penantian ini akan menjadi sia-sia. Film "Hong G oliang" sudah berputar untuk ketiga kalinya. Aku tidak bosan karena kali menontonnya, aku merasa laki-laki itu begitu dekat dengan telingaku, dengan nadiku.

MUNGKIN memang takdirku, menghabiskan waktu hanya untuk menunggu seorang laki-laki yang dengannya aku belajar mencinta. Aku tidak pernah mengenal laki-laki manapun sebaik aku mengenal laki-laki itu, laki-laki yang bayangannya pun tidak pernah kusentuh. Tapi, aku mengenalnya, sebaik aku mengenal diriku sendiri. Teman-temanku sering menganggap aku sudah diguna-guna karena pada usia ke-18 aku tidak pernah mencintai laki-laki manapun, kecuali laki-laki itu. Mereka hanya tidak mengerti bagaimana laki-laki itu telah mengajarkanku mengenai cinta. Bahkan jika benar diguna-guna, aku tidak akan pernah menghindarinya.

Aku selalu mengatakan kepada diriku sendiri untuk tidak akan mengkhianati laki-laki itu. Biarlah mereka menganggapku gila, menganggap cara berpikirku begitu norak, aku tidak ingin peduli. Aku ingin menjaga cinta yang laki-laki itu alirkan pada nadiku. Aku akan menunggunya, mencarinya. Dan ketika aku tidak dapat menemukannya di dunia ini, aku akan memohon kepada Tuhan untuk mempertemukan kami di surga nanti. Aku tidak akan lelah. Aku akan membuktikan kepada mereka, betapa laki-laki itu sanggup aku cintai sampai aku habis, sampai segalanya terkikis.

Bulan ini, usiaku genap delapan belas. Setiap kali aku merayakan ulang tahun, di penghujung acara, papa tidak pernah bosan menanyakan siapa laki-laki yang paling aku cintai. Papa selalu sabar menunggu tiap menit sampai akhirnya mulutku terbuka, membunyikan satu nama laki-laki. Tapi, itu tidak pernah terjadi. Aku tidak pernah membunyikan nama laki-laki mana pun karena aku akan memeluk papa erat dan menangis di pundaknya sampai aku terlelap. Papa maafkan aku. Aku tahu, papa ingin aku membunyikan nama papa sebagai nama laki-laki yang paling aku cintai. Tapi aku tidak bisa. Bukan karena aku tidak mencintai papa, melainkan karena aku terlahir hanya untuk mencintai satu orang laki-laki yang dia bukanlah papa, yang dia sampai saat ini masih kucari  dan kunanti. Papa, aku mencintai papa, tapi tidak seperti aku mencintai laki-laki itu.

Mama, ya mama-lah yang mengenalkanku dengan laki-laki itu. Mama yang selalu membisikkan nama laki-laki itu sebagai dongeng pengantar tidur hingga akhirnya aku meminta mama untuk tidak mendongengi malam-malamku lagi, karena aku kecewa. Mama tidak pernah membawaku untuk menemuinya. Mama hanya mengantarkanku sampai aku melihat sepotong banyangannya.

Aku maish ingat pada amlam terakhir mendongeng, mama membisikkan sederet cerita yang sampai saat ini aku tidak tahu apa itu nyata atau dongeng belaka. Tapi, aku tidak berani menanyakan hal itu kepada mama. Aku hanya berani menyakini bahwa apa yang sepanjang malam itu mama ceritakan adalah nyata. Karena mama begitu penuh air mata dan bergetar suaranya, selama dia menceritakan nama laki-laki itu sebagai dongeng penghabisan.

Di antara padang rumput yang tak begitu luas dan cukup sepi, tyerlihat seorang perempuan sedang duduk di bawah langit yang bersih. Tiba-tiba tubuhnya menggigil. Masih diingatnya mimpi malam tadi yang begitu memilukan. Malam yang begitu basah. Didekapnya lutut kuat-kuat, perempuan itu mengira tubuhnya akan berhenti menggigil. MAsih diingatnya mimpi malam tadi yang begitu memilukan. Malam yang begitu basah. Didekapnya lutut kuat-kuat, perempuan itu mengira tubuhnya akan berhenti menggigil. Namun, sia-sia saja, tubuhnya semakin bergetar dan membuatnya ingin menangis.

Lalu angin berembus di sekitar telinganya, menerbangkan rambutnya yang sbeahu dan membuatnya tahu, ad alangkah laki-laki yang sudah dia nanti sedari tadi. Tapi perempuan itu tetap duduk memeluk lututnya, dia tidak ingin membalikkan badan. Dia takut laki-laki itu tahu ketakutan seperti apa yang melandanya, yang sedang dia coba sembunyikan.

Benar saja, memang laki-laki itu yang datang. Dia peluk perempuannya itu dan mengecup bibirnya hangat. Namun, tak sampai beberapa detik, laki-laki itu melepas kecupannya, dia tahu ada sebuah ketakutan yang perempuannya coba sembunyikan. Laki-laki itu mencoba menatap mata perempuannya, tapi perempuan itu mengelak dengan menyandarkan kepala di bahu laki-laki yang sudah dia hafal lekuknya, yang sudah dia kenal wangi tubuhnya.

"Kau tidak bisa membohongiku, Sayang. Jika bisa, tentu Kau tidak akan mampu menyembunyikannya lama-lama dariku. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya laki-laki itu, tangannya yang putih bersih terus mengelus rambut pinggang perempuannya sembari bibirnya tidak pernah berhenti mengecup rambut perempuannya, seolah-olah dia ingin mencium habis wangi yang meruap dari rambut kekasihnya itu.

Perempuan itu masih memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut laki-lakinya. Dia tidak ingin membuka mata atau menceritakan ketakutannya. Dia percaya, ketika mimpi buruknya itu dia ceritakan, semuanya akan menjadi nyata dan terjadi begitu saja.

"Kau memang keras kepala," dielusnya lagi pinggang perempuannya itu, diembuskannya satu-satu nafasnya, membuat satu-dua rambut perempuannya terbang tepat di depan wajahnya, "Sayang, lihatlah betapa kontrasnya warna kulit kita. Satu-satunya hal yang sama dari tubuh kita hanyalah bentuk bibir. Bibir kita sama-sama kecil dan hangat jika bersentuhan. Kita telah menyatukan perbedaan itu sayang. Kulitmu yang hitam manis akan menjadi warna kulit anak kita nanti. Hidungmu yang kecil tapi bangir itu juga akan menjadi bentuk hidung anak kita. Lalu semuanya dari tubuhmu akan menjadi milik anak kita, kecuali bentuk mata. Aku akan memberikannya secara sempurna. Tentu anak kita akan menjadi gadis paling cantik dengan tubuh Jawanya yang kenyal dan mempunyai mata sipit, seperti ayahnya." Tangan laki-laki itu sudah melingkari tubuh perempuannya, bibir mereka berpagutan, tak ingin terpisahkan.

Angin masih berembus merdu menerpa tubuh mereka yang menyatu. Perempuan itu tak ingin membuka matanya lama-lama, dia kembali terpejam saat bibirnya lepas dari pagutan kekasihnya. Dia tidak ingin mengingat lagi mimpi yang membuatnya begitu  basah malam tadi. Satu-satunya yang dia mau adalah melihat kekasihnya tiap hari, tiap waktu, selalu di sisinya. Karena dia tidak ingin merusak mimpi-mimpi indah yang sudah lama beterbangan di kepalanya, terutama mimpinya tentang sesuatu yang mulai tumbuh di rahimnya, yang belum sempat dia sadari keberadaannya.

Dia masih terpejam di bahu kekasihnya, merasakan hangat napas lelakinya. Dia ingin mengatakan pada burung-burung yang bercicitan di dahan-dahan pohon albasia: tak ada yang istimewa di dunia ini kecuali cinta yang membuatnya merasa begitu hidup, begitu utuh.

Perempuan itu semakin menggenggam erat tangan lelakinya. Dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu ada gemetar yang lain di tangan lelakinya itu, semacam ketakutan yang sedang dia coba rapi sembunyikan. Ya, mungkin cinta selalu seperti itu, saling menyembunyikan ketakutan dan berkata, tepatnya berpura-pura semuanya tetap baik-baik saja.

Ada setitik air mata yang laki-laki itu tahan, dia tidak ingin mengotori hitam rambut kekasihnya dengan ketakutan yang seperti sudah jauh-jauh hari direncanakan. Dia tahu hari ini akan terjadi, dan dia tidak mempunyai senjata apa-apa. Dia hanya bisa bersembunyi dari ketakutan. Dia menatap burung-burung yang bercicitan di dahan-dahan pohon albasia. Mungkin mereka sedang menertawakannya yang begitu pengecut: berpura-ppura baik-baik saja untuk meyakini perempuannya baik-baik saja.

"Sayang, tetaplah di sini! Kau harus tetap melihat burung-burung yang bercicitan itu. Aku akan pergi, sebentar, dan pasti akan kembali." Dikecupnya kening perempuan itu berkali-kali. Tak ada air mata, kecuali perasaan takut di hati keduanya; takut mimpi buruk menjadi nyata dan takut tidak bisa duduk berdua, melihat kembali burung-burung bercicitan bersama.

"Tutup matamu dan jangan dengarkan teriakan-teriakan yang mungkin sebentar lagi akan kau dengar. Tetaplah di sini dan kau boleh membuka matamu jika teriakan-teriakan atau kekacauan yang kau dengar sudah berhenti." Laki-laki itu memeluk perempuannya lebih kencang. Dia ingin kelak perempuannya tahu, cinta adalah pulang yang mungkin saja tak pernah datang.

Setelah hari itu, si perempuan tahu lelakinya tidak akan pulang meski dia masih sabar menunggunya sampai saat ini. Sampai mimpi lelakinya terwujud tentang gadis cantik berkulit kenyal dan bermata sipit yang kini ikut menunggunya pulang. Ya nduk, hari itu tanggal 13 Mei 1998, telah membuat laki-laki itu hilang dan tidka pernah pulang, berhasil membuat dua perempuan menunggu kepulangannya dengan cara yang berbeda,

Itulah dongeng terakhir yang mama ceritakan, dongeng yang membuat mama begitu basah. Itu dongeng terakhir tentang laki-laki itu, tentang laki-laki yang sekarang begitu kucintai, tentang laki-laki yang kukenal melebihi aku mengenal papa.

Aku tettap tidak ingin tidur meski malam sudah mulai menghilang. Aku takut laki-laki itu datang dan pergi begitu saja saat aku terbangun nanti. Gelas-gelas kopi sudah bertumpuk di meja belajar. Film "Hong Gaoliang" masih berputar. Entahlah, setiap teguk kopi, setiap adegan film, "Hing Gaoliang" yang berputar selalu membuatku merasa semakin begitu dekat dengan laki-laki itu.

Dalam genggamanku, koran kusam bergetar. Mama memberikannya setelah dongeng terakhirnya. Sampai sekarang, koran itu belum berani kubaca. Koran dengan sebuah berita berjudul Pembantaian Cina Besar-besaran.***

Hilda Fauziah, sedang menamatkan kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia dan salah satu anggota ASAS UPI.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hilda Fauziah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 26 Juni 2016

0 Response to "Mei dan Seorang Lelaki"