Mencintai dalam Diam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mencintai dalam Diam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:20 Rating: 4,5

Mencintai dalam Diam

LONCENG jam dinding berbunyi empat kali. Sudah lebih satu jam aku shalat tahajud. berkali-kali aku mencoba menahan air mata ini, tapi akhirnya tumpah juga bagai air bah. Bahkan, tanpa sadar aku sesenggukan.

Safiya bergegas menghampiriku. Ia menggenggam jemari tanganku.

"Ayah, ada apa?"

"Akhirnya, tiba waktunya aku harus berpisah denganmu.

Engkau anak satu-satunya yang sangat aku sayangi sejak kecil. Sering aku bawa saat aku bertemu para ulama untuk minta doa mereka. Anak yang sejak kecil aku didik shalat di awal waktu, shalat tahajud, shalat dhuha, puasa wajib dan sunat, membaca Alqur-an dan memahami artinya, dan terlebih-lebih lagi selalu aku jaga sejak ibumu meninggal dunia 10 tahun lalu, saat kamu berusia 14 tahun. Hanya beberapa jam lagi kamu akan pergi dari rumah ini, pergi dari kehidupan Ayah."

"Ayah, Safiya akan tetap cinta dan.sayang sama Ayah."

"Seorang lelaki milik ibunya selamanya. Bahkan, setelah dia menikah dan punya anak sekalipun. Namun, seorang wanita milik suaminya."

"Safiya akan sering menelepon dan kirim WA ke Ayah. Safiya juga akan minta izin Mas Halim untuk sering mengunjungi Ayah. "

"Jangan, Nak. Ayah ingin kamu menjadi istri yang salehah dan berbakti kepada suamimu. Kalau kamu sering meminta izin untuk mengunjungi Ayah, mungkin dengan kehalusan dan kemuliaan akhlaknya, suamimu akan mengizinkamu.

Namun, boleh jadi dia lebih senang kalau kamu berada di sampingnya dan melayani segala kebutuhannya. Berbaktilah kepada suamimu, semoga baktimu itu menjadi jalan bagi Ayah dan almarhumah ibumu untuk meraih kelapangan dan kebahagiaan di alam barzakh dan alam akhirat." 

***
Pukul 08.00 prosesi pernikahan dilangsungkan di Masjid Raya Bogor, persis di depan keluar tol Bogor-Jakarta (tol Jagorawi). Abdul Halim membaca Surah ar-Rahman dengan lancar dan hafal, tanpa ada kesalahan sedikit pun. Surah ar -Rahman itulah mahar Abdul Halim untuk menikahi Safiya.

Setelah akad nikah yang syahdu itu, tibalah giliran Safiya dan suaminya sungkeman kepadaku dan adik perempuanku, Aisyah. Tangisku dan Safiya pun tidak terbendung.

Adik-adikku berusaha menenangkan dan menyabarkanku. "Mas, tenang, Mas. Yang sabar. Kasihan Safiya dan suaminya. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan," kata Idris, adikku yang nomor dua. Kami tujuh bersaudara.

Akhirnya, aku bisa juga berdiri di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu. Kulihat Safiya begitu cantik dengan busana pengantin Muslimah warna putih susu yang membalut tubuhnya.

Di sampingnya, suaminya, Abdul Halim, seorang da'i muda lulusan S-2 Pakistan, juga tampak gagah dengan setelan jas biru tua. Mereka tampak begitu bahagia. Ah, seandainya ibunya masih ada, Safiya pasti lebih bahagia lagi.

Menjelang pukul 12.00, datang rombongan teman-teman angkatanku waktu di Fakultas Peternakan Insitut Pertanian Bogor (IPB) tiga dekade lalu. Mereka tahu informasi acara pernikahan Safiya dari grup Whatsaap (WA).

Di zaman serba gadget seperti ini, kita tidak bisa sembunyi. Sejak tahun lalu, teman-teman Fakultas Peternakan IPB Angkatan Tahun 21 (masuk IPB 1984) yang disebut "Ahoy", punya grup WA.

Ami menjadi adminnya dan dialah yang mengundangku masuk ke dalam grup WA Ahoy itu. "Sebagai dekan Fakultas Peternakan, Dr Jamil Adnan harus gabung dong dalam grup WA Ahoy," kata Ami suatu hari.

Aku tidak begitu aktif di grup WA. Yang aku lakukan paling-paling hanya mengintip broad cast kawan-kawan. Jarang sekali aku ikut komentar.

Hingga enam bulan lalu, tanpa sengaja aku melihat komentar dari Dr Nurul Hayati. Penasaran, aku perhatikan foto profil wanita yang tengah tersenyum tersebut. "Subhanallah, ini kan Nurul, perempuan yang dulu aku taksir saat sama-sama kuliah di Fakultas Peternakan IPB."

Lulus dari Fakultas Peternakan IPB, aku melamar jadi dosen di almamaterku. Aku diterima dan setahun kemudian aku dikirim ke Australia untuk mengambil S-2, dilanjutkan S-3.

Sejak lulus dari Fakultas Peternakan IPB, aku tak pernah dengar kabar Nurul. Hanya sempat aku dapat informasi dia menjadi dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin.

Satu per satu teman seangkatanku menyalamiku. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh suara lembut yang pernah kukenal. "Selamat ya, Mas Jamil."

"Nurul?" Aku terperanjat.

"Dr Nurul Hayati, Dosen Unlam. Dia khusus datang dari Kalimantan bersama Yasmina, putrinya, khusus untuk mengucapkan selamat kepada Safiya dan Abdul Halim. Lebih khusus lagi, Dr Jamil Adnan," ujar Ami yang berada tepat di belakang Nurul. 

***
Sepekan setelah pernikahan Safiya, beberapa temanku datang ke rumah. Ami, Rika, Enita, Lina, dan Yani. Safiya menyambut mereka dengan gembira.

Safiya mengajukan usul kepadaku untuk mengajak para tamu kami makan siang di Restoran Saung Kuring, Jalan KH Sholeh Iskandar. Ini salah satu restoran Sunda terkenal di Bogor. Aku menurut saja. Aku semobil dengan Safiya dan suaminya. Sedangkan, Ami dan kawan-kawan di mobil yang lain.

Kami menikmati ikan gurame goreng, cumi goreng mentega, sayur asam, pepes ikan mas, taoge campur ikan jambal, beberapa macam sambal, dan kerupuk. Sepanjang makan, Ami dan kawan-kawan beberapa kali mencoba mencandaiku, terutama dengan menyebut-nyebut nama Nurul. Aku hanya tersenyum.

"Jamil, kamu kan sudah 10 tahun sendiri, Nurul pun sudah lima tahun menjanda. Kenapa kalian tidak bersatu saja? Dulu kan kamu naksir Nurul," goda Ami.

"Ya, Mil. Waktu kuliah di peternakan dulu kamu kan sering melirik Nurul," Yani menimpali.

"Tapi, saat Nurul menoleh ke arahnya, Jamil buang muka," kata Rika seraya tertawa kecil.

"Ah... sudahlah. Itu kan hanya cerita masa lalu. Cerita masa muda yang sudah berlalu 30 tahun lebih."

"Tapi, Mil, cinta itu kan tidak pernah mati. Jujur aja kamu masih cinta sama Nurul kan?" Lina tak mau ketinggalan menggodaku.

"Bahkan, seandainya pun aku masih mencintai Nurul, apakah Nurul juga cinta padaku? Jangan-jangan, aku hanya bertepuk sebelah tangan."

"Ya, tapi benar kan kamu masih cinta sama Nurul?" Ami tetap penasaran.

Aku hanya tersenyum.

Selesai makan, Safiya tiba-tiba menggenggam tangaku. "Ayah, bulan depan Safiya dan Mas Halim harus berangkat ke Malaysia untuk kuliah S-3 perbankan sya-riah. Safiya tidak mau meninggalkan ayah dalam kesendirian."

"Maksudmu apa, Nak?" suaraku bergetar. Berpisah dengan putriku satu-satunya selalu merupakan hal yang sangat menakutkan dalam hidupku.

"Safiya ingin sebelum Safiya dan suami berangkat ke Kuala Lumpur, ayah sudah ada yang menemani."

"Siapa yang menemani ayah? Ayah kan seorang duda. Sudah takdirnya seorang duda hidup sendiri," kataku getir.

"Ayah. Ibu sudah bahagia di alam sana. Dan Safiya yakin, ibu pasti ingin ayah bahagia di dunia ini, maupun kelak di alam barzakh dan alam akhirat. Karena itu, sudah saatnya Ayah menikah lagi."

"Ayah sudah tua, Nak. Usia Ayah sudah lebih setengah abad. Rasanya sudah tak pantas kalau Ayah menikah lagi. Lagi pula, siapa pula wanita yang mau menikahi seorang duda tua seperti Ayah?"

Safiya tersenyum. "Kalau seandainya ada seorang wanita yang mencintai Ayah dan mau dinikahi oleh Ayah, apakah Ayah mau melakukannya?"

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.

"Ayah, bagaimana kalau wanita yang mencintai Ayah itu orangnya seperti ini?" kata Safiya. Tiba-tiba muncul Nurul diiringi Yasmina. Nurul mengenakan baju panjang motif kembang-kembang yang serasi dengan rok panjang berwarna cokelat muda dan kerudung polos cokelat tua.

Aku terpana. Sejenak tak percaya. "Subhanallah. Nurul?" Aku masih tidak percaya.

"Mas Jamil," suaranya begitu lembut. Suara yang berpuluh tahun lalu selalu kurindukan setiap kali aku duduk di ruang kuliah Fakultas Peternakan.

Tiba-tiba terdengar tepuk tangan Ami dan kawan-kawan.

"Bagaimana, Jamil? Mau enggak nih?" goda Ami.

"Ya, Mil. Kalau enggak mau, Nurul mau langsung balik ke Kalimantan lho," Rika menimpali.

"Ayah. Jangan marah ya. Safiya sudah dengar cerita tentang Ayah dan Bunda Nurul dari teman-teman Ayah. Bahkan, Safiya dan Yasmina sudah mengetahui hal tersebut saat kami masih sama-sama mengambil S-2 Syariah di Inggris. Kami satu kampus dan bahkan satu kamar apartemen. Dan kami sudah bemiat, kalau kami sudah kembali ke Indonesia, kami akan menyambungkan tali cinta Ayah dan Bunda Nurul yang dahulu belum sempat Ayah rangkaikan." '

"Ayah," tiba-tiba Yasmina pun memanggilku "Ayah", "Ayah dan mama sudah digariskan Allah berjodoh, meski harus melalui perjuangan berliku. Kini, sudah tiba saatnya Ayah dan mama saling membahagiakan."

***
Sepekan kemudian, kami menikah di Masjid Al Huriyah, masjid Kampus IPB Dramaga, Bogor. Rektor dan wakil rektor menjadi saksi pernikahanku dengan Nurul. Puluhan teman seangkatanku dan ratusan mahasiswa Fakultas Peternakan menyaksikan pernikahan kami.

Irfan, teman seangkatan kami yang bekerja sebagai wartawan bahkan mengabadikan peristiwa tersebut dalam sebuah berita online, "Seperti Sinetron, Pasangan Itu Menikah Setelah 30 Tahun Berpisah".

Malam hari, aku dan Nurul melaksanakan shalat sunah dua rakaat.

Kemudian, kami duduk di tepi ranjang. Ada rasa kikuk menyelimuti hatiku. Sepuluh tahun aku sendiri, tanpa kehadiran perempuan dalam kehidupanku. Dan, kini aku duduk bersisian dengan sosok yang pernah menjadi bayang-bayang siang dan malamku 30 tahun silam.

Aku bisa mendengar deru napas Nurul yang lembut. Dan wangi tubuhnya yang menembus ke dalam jantungku.

Spontan, aku menoleh ke arahnya, bersamaan ketika ia pun menengok ke arahku. Aku merasa seperti saat kuliah dulu, tertangkap basah tengah menatap wajahnya saat ia menoleh ke arahku. Wajahku pasti memerah.

Namun, tiba-tiba Nurul meraih tanganku.

"Mas, lain kali kalau mencintaiku jangan diam-diam seperti dulu," ujarnya memecah kebisuan.

"Dulu aku tak pernah berani mengungkapkan perasaanku padamu," tuturku lirih.

"Mengapa? Bukankah Mas ketua OSIS waktu SMA dan ketua BEM saat di Fakultas Peternakan?"

"Itu benar. Di hadapan teman-teman SMA aku adalah ketua OSIS. Dan di hadapan rekan-rekan Fakultas Peternakan aku adalah ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Namun, di hadapanmu, aku hanyalah seorang anak desa yang tak pantas mengharapkan cinta dari 'bunga' Fakultas Peternakan. Engkau tidak hanya cantik. Engkau juga sangat baik dan salehah."

Tiba-tiba, Nurul menggenggam tanganku.

"Mas, kalau seandainya Tuhan mengizinkan Mas memutar ulang waktu, apakah yang akan Mas lakukan?"

"Kalau aku bisa memutar kembali waktu maka aku akan tetap mencintaimu dalam diam. Sebab, tidak ada hidup yang seindah ini. Anak-anak kita masing-masing, Safiya dan Yasminal yang cerdas, pintarl dan solehah; dan teman-teman kita yang selalu menyayangi dan memperhatikan kita. Mereka menjodohkan kita. Dan pasangan hidup kita masing-masing yang Allah SWT sudah panggil lebih dahulu, mereka menjadi perantara pertemuan cinta kita di usia yang sudah kepala lima. Semoga, Allah bahagiakan almarhumah istriku dan almarhum suamimu."

Ia mencium tanganku penuh khidmat.

"Mas, kita tidak pernah tahu berapa lama lagi kita hidup di dunia. Namun, di sisa usiaku ini, izinkanlah aku membahagiakanmu. Seperti kebahagiaan yang Mas impikan waktu kita masih di Fakultas Peternakan dulu. "

Aku kehabisan kata-kata. Tanganku merengkuh wajahnya. Matanya yang indah sempat menatapku sebelum akhirnya terpejam, sementara bibir lembutnya menyunggingkan seulas senyum.

Tak pernah aku sedekat ini dengan Nurul. Dan baru kusadari, ternyata ia jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan 30 tahun lalu.***
Jakarta, 2016


Irwan Kelana menulis cerita pendek dan novel sejak duduk di bangku SMA. Sudah menulis dan menerbitkan lebih 20 buku fiksi dan nonfiksi, antara lain, Kelopak Mawar Terakhir, Kamboja Terkulai di Pangkuan, Biarkan Cinta Menemukanmu, dan Suara Hati dari Mesir. Sehari-hari, ia bekerja sebagai wartawan Harian Republika.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irwan Kelana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 5 Juni 2016

0 Response to "Mencintai dalam Diam "