Narcissus Tenggelam - Bajak Laut - Putaran Kolam - Membaca Sebagian Wastu Citra - Dua Malaikat - Medan perang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Narcissus Tenggelam - Bajak Laut - Putaran Kolam - Membaca Sebagian Wastu Citra - Dua Malaikat - Medan perang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:09 Rating: 4,5

Narcissus Tenggelam - Bajak Laut - Putaran Kolam - Membaca Sebagian Wastu Citra - Dua Malaikat - Medan perang

Narcissus Tenggelam

wajahmu terlempar ke laut. Ungu
kala merindu. Putih tetas meranggas.
Matamu sekarang menuju
ke lemparan pukat

Pedih aku oleh asin.
Pedih aku digunting ombak.
Pedih aku kena kram.

Rindu akhirnya ngungun.
Tetas meranggas tak membilangkan 
putih. Wajahmu hampir tenggelam.
Di dasar bayang.
Di diri melambang.

Sesudah puyeh cinta kepayang.
kau ditangkap pukat
Terombang-ambing.
Matamu membelah. Kemasukan
siput dan ganggang.
Ditarik juga pukat.

Wajahmu belum juga redup.
Laut sedikit menggarami wajahmu
Ucap laut, wajahmu
terlampau cakap. Tapi gampang
pupus, seperti kembang gapus.

Lepaskan aku dari pukat. Gulung
wajahku yang basah.
Jangan snetuh terang wajahku.

Surabaya, 2015

Bajak Laut

Kapal karam beserta isinya hidup kembali dalam badai
di laut lepas. Si kapten ingin mati lagi dengan cara serupa,
menabrak tajam karang. Tapi kematian, pikir si kapten,
bolehlah berbeda: Disambar puting beliung
atau kena petir nyasar

Apes benar si kapten. Semuanya
sia-sia, sebab tak mampu memulangkan
pada kematian kedua.

"Keabadian menyusahkan," sesal si kapten di hadapan 
awak kapal yang menentang senjata.

Surabaya, 2015

Putaran Kolam

Patung di tengah kolam
mengucurkan air di lubang guci
yang digenggamnya dan membikin
geser seolah mati.

Ikan-ikan di kolam memutari 
patung. Penuh khusuk, melepaskan
gelembung dari mulutnya.

Pecahan-pecahan gelembung
membuat penanda setia.

Patung dan ikan-ikan betapa serasi

Kalau purnama kembali hadir,
maka patung dan ikan-ikan
masuk ke dalam waktu tak terukur.

Surabaya, 2015

Membaca Sebagian Wastu Citra

Dengan telanjang aku berenang di kanalmu. Seperti ular
yang mengikuti gerak-gerik ilalang. Aku mengunjungimu
tanpa maksud beradu pandang.

Akar kita saling menjalar.
Basa-basi bahasa kita bertukar.
Aku diam ketika kau hajar.
Gires lintasmu adalah mahar.

Pantunmu aku hapal. Tak ada niat aku merapal apa yang
kau keluarkan. Hanya tertegun. Sesekali melamun.

Munngkin takdir kita seperti gambar Mangun: Sepasang
bercahaya, kecuali berpisah. Dan di kanalmu, telanjangku
tersamar arus. Membuat tubuhku melar. Dan berenang
terus pun tertampar

Surabaya, 2015

Dua Malaikat 

:Ali Akhmad Baktsir

1. Tiga malaikat dititahkan Tuhan untuk turun
ke bumi. Tapi satu malaikat takut, maka tinggal
dua malaikat. Dua malaikat bernama
Harut dan Marut, dan mereka tak ingin murtad.

2.
Harut dan Marut jengkel kepada malaikat yang
menyerah. Betapa cahaya (sekali lagi) menunduk 
kepada tanah. Dan manusia tak lebih sekadar
menara-menara gading yang melambai.

3. 
Bumi adalah titik. Malaikat layak menjaga bumi,
sehingga titik tak berubah menjadi garis hingga
bidang. Tuhan adalah pusat, pikir Harut dan Marut,
di mana titik melambungkan satu kesatuan

4.
Harut dan Marut menjelajahi bumi. Mereka heran
mengenal pelbagai manusia, seperti membaca
buku yang direvisi. Betapa akhir hanya gagasan
kosong kalau dirunutkan. Dua malaikat sedih.

5.
Harut dan marut menyamar jadi manusia. Mereka
ikut tidur, makan, bekerja, atau bercinta. Tapi
bercinta mereka sebatas kerak. Kotor dan gelap
sudah merebut cahaya mereka.

6.
Ketika arak sudah berani diteguk dalam
buaian tawa candu, Harut dan marut membuka 
bayangan sendiri di hadapan manusia. Tapi
mereka dianggap gila oleh manusia.

Surakarta, 2016

Medan perang

Serdadu kami menang. Di atas tahta
kami bahagia melihat musuh terlarung
ke ujung. "Anak ayam baru
menetas. tapi induk ayam harus
disantap. Maka tak apalah anak ayam
jadi yatim piyatu," nasehat raja.

Tapi serdadu kami gampang 
melempem. Akal mereka tak kuat
menahan bisik tukang tenung yang
disewa musuh. Lalu raja
melayangkan jubah
ke aura tukang tenung

"Lihat, serdadu kami pulih kembali. Tapi
jubah raja sobek."

Musuh tak sepenuh kalah. Dikibarkan
mata-matanya untuk mengeker
gerak-gerik kami. "Raja, apa serdadu
kami layak menyerang musuh? Musuh
kelewat lancang mengeker lintas strategi
kami. Apa kami wajib mendahului
sebelum didahului musuh?"

"Jubahku sobek, maka tak perlu
mendahului," bisik raja. "Padamkan api
dengan air, jangan angin. Pemangsa
perlu mundur, jika dimangsa."

Kami gelagapan mendengar
ucapan raja. Serdadu kami kaget
melihat raja. "Aak ayam tak sedih
kehilangan induknya. Sebab anak ayam
capek menangis," nasehat raja.

Surabaya, 2015


Aji Ramadhan lahir di gresik, Jawa Timur, 22 Februari 1994. Ia belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Buku puisinya adalah Sang Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aji Ramadhan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 11 Juni 2016

0 Response to "Narcissus Tenggelam - Bajak Laut - Putaran Kolam - Membaca Sebagian Wastu Citra - Dua Malaikat - Medan perang"