Perempuan Limited Edition (20) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Perempuan Limited Edition (20) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:35 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (20)

TERNYATA bukan hanya dalam film atau yang sering ia lihat dalam layar televisi, anak-anak muda yang mencari uang dengan cara instan yang suaranya sering disamarkan dan matanya dikaburkan, kata Nadia dalam hati sambil menggelengkan kepala.

"Kenapa Tante?" tanya Arif melihat gelengan kepala Nadia.

"Oh, sori, cuma agak pusing aja," elak Nadia.

"Biar nanti saya pijitin pasti cepat sembuh," jawab Arif sedikit nakal, Nadia hanya menarik sudut bibirnya.

"Tante baru saja masuk anggota ini ya?" tanya Arif setelah berada di kamar yang dituju,

"Yups."

Singkat jawaban Nadia sehingga Arif menangkap kesan ketus. Biasanya Arif mendapati tante-tante yang langsung bermanja-manja layaknya remaja.

Nadia langsung bersandar di tepi ranjang sambil menselonjorkan kakinya, merokok lalu menyulutnya, membiarkan Arif bengong melihat tingkahnya. Nadia tidak peduli akan kebingungan Arif dan asyik memainkan asap rokok ke udara.

"Jadi dipijat Tante?" Arif memulai pembicaraan.

Nadia mengangkat tangannya tanda menolak tanpa berucap. Kemudian Nadia menyumpal telinganya dengan headset dan asyik emndengarkan lagu yang ada di handphone-nya. Arif memperhatikan tingkah Nadia dari tempat duduknya dan tak berani mendekat, karena dirasakan Nadia sangat ketus dan aneh.

Setelah beberapa menit kemudian Arif merasa tak nyaman hanya bengong duduk di kursi tak melakukan apa-apa.

"Tante, waktu kita tak banyak, apakah saya harus duduk begini terus?" tanya Arif.

Nadia menarik napas panjang dan melepaskan headset dari telinganya.

"Kamu toh sudah dibayar, berapa jam biasanya waktumu untuk berada dalam kamar?"

"Tergantung Tante berapa lamanya."

"Ya sudah hitung aja waktumu sampai kira-kira cukup untuk keluar kamar.

"Jadi?"

"Apalagi?" Nadia batal emasang kembali headset di telinganya.

"Jadi saya hanya suruh melihat Tante asyik dengan aktivitas Tante sendiri?" tanya Arif terdengar mulai kesal. Nadia menarik napas panjang.

"Aku tanya kamiu ya Nak," katanya sambil menekankan kata anak. Arif sedikit terkejut dengan panggilan itu. Karena biasanya tante-tante itu menyebutnya dengan kata 'yang' atau 'baby.'

"Kamu dibuat hadiah oleh Tante-tante itu untuk melakukan apa? Menemani kencan bukan?" tanya Nadia.

"Iya," Arif mengangguk.

"Kamu sudah dibayar kan?"

"Iya." Arif mengangguk lagi.

"Sayangnya aku tidak tertarik kencan dengan kamu!"

"Maksud Tante?" Wajah Arif seperti tertampar mendengar penuturan Nadia. Karena tante-tante itu biasanya sangat tergila-gila dengannya. Badan atletis, wajah bak pemain sinetron anak-anak sekarang, sangat di atas rata-rata.

"Karena kamu sudah dibayar dan agar tidak mengecewakan teman-teman yang di luar itu. Kamu tetap di sini hingga waktunya selesai dan sampaikan pada mereka bahwa kamu sudah berekencan  denganku," jelas Nadia.

"Jadi Tante tidak tertarik dengan saya?" tanya Arif dengan suara agak meninggi, sedikit tersinggung. Nadia menarik sudut bibirnya, ia tak mau timbul kegaduhan apapun dengan masalah ini.

"Kamu ganteng, tapi aku tidak bisa berkencan dengan orang yang tanpa mempunyai hubungan apa-apa."

Arif tersenyum sinis, munafik begitu dalam hatinya mungkin. Kemudian berjalan mendekat pada Nadia dan berusaha menyentuh Nadia, namun Nadia segera menepisnya.

"Kamu nggak paham atau gimana ya dengan apa yang aku jelaskan barusan?" Nadia juga mulai jengkel.

"Tante nggak usah munafiklah."

"Maksudmu?"

"Buat apa Tante ikut arisan jika Tante sendiri tak menginginkan ini."

"Asal tahu aja ya Nak, aku ke sini tidak tahu kalau ada acara seperti ini. Aku hanya diajak Dewi jalan dan sama sekali tak menduga kalau party yang dimaksud Dewi semacam ini. Udahkah kamu nggak perlu membahas ini. Yang penting kamu sudah dibayar titik. Dan sekarang aku mau tidur!" ucap Nadia sambil membalikkan badan telungkup di ranjang dan kembali menyumpal telinganya dengan headset.

Arif mengerutkan dahinya tak tahu harus bicara apa lagi dan kembali duduk di kursinya. Memandangi Nadia yang tak memedulikan dirinya. Mungkin juga Arif kecewa karena tidak jadi berkencan yang biasanya ada tambahan tips dari tante-tante yang dilayaninya yang jumlahnya lumayan.

Nadia benar-benar tak peduli yang ada dalam pikiran Arif, padahal biasanya ia sangat peduli dengan anak-anak yang demikian dan selalu berusaha mengajak komunikasi hingga merekasadar dan kembali ke jalan yang lurus. Kali ini Nadia benar-benar enggan untuk berbuat itu. Hingga lama waktu untuk sebuah kencan dikira-kira cukup, Arif mengajak Nadia keluar kamar.

"Oke," jawab Nadia bangkit dari ranjang yang hampir saja ketiduran bener.

"Pesanku padamu Nak, ingat wajah Ibumu setiap kamu akan berkencan dengan para pelangganmu." Itu yang disampaikan Nadia saat meninggalkan kamar. Ada yang terusik dengan perkataan Nadia barusan di hati Arif, namun Arif tak mengatakan apa-apa.

Ketika perjalanan pulang, Dewi menanyakan pada Nadia tentang Arif.

"Lumayan." Singkat jawaban Nadia.

"Haah lumayan bagaimana? Arief itu hebat dan ibu-ibu lain paling suka kencan sama dia Dhea!" Dewi ngotot.

"Iya iya hebat!" Buru-buru Nadia menjawab agar Dewi tidak bertanya macam-macam.

"Minggu depan ikut ya, kali ini gua yang bayarin deh," kata Dewi.

"Haah?"

"Iya ikut aja cuma nyetor dua juta ini."

Nadia tak menjawab, pikirannya malahan menghitung uang sebesar Rp 2 juta dikalikan berapa orang. Sebesar itu yang diterima anak-anak tadi? Mudahnya cari uang, batin Nadia. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 5 Juni 2016

0 Response to "Perempuan Limited Edition (20)"