Perempuan Limited Edition (21) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Perempuan Limited Edition (21) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:59 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (21)

SESAMPAINYA di rumah, Nadia mendapat teguran dari anaknya.

"Mama sejak kapan suka jalan dengan Bu Dewi?"

Nadia takk menjawab.

"Bukannya dulu Mama kurang suka dengan Bu Dewi?" tanya Adrian lagi.

"Sudahlah mending kamu kerjain skripsimu itu biar cepat rampung," jawab Nadia, dan Adrian tidak melanjutkan lagi pertanyaannya. Adrian tahu mamanya sedang tidak ingin membahas itu jika jawabannya dialihkan begitu. Adrian hanya amenarik napas panjang, perasaannya sungguh sedih melihat mamanya sekarang.

***
SIKAP Nadia yang begitu drastis berubah, membuat Sinta teman karibnya yang sudah bagai saudara, menyempatkan datang dari Denpasar di sela kepadatan acaranya. Nadia terkejut saat Shinta sudah berada di kamarnya.

"Shinta?"

"Ya Dhe, aku sengaja ke sini melihatmu setelah anakmu Adrian berkeluh kesah tentang perubahanmu."

Nadia menarik napas panjang, tak terpikir sedikitpun anaknya sangat terganggu dengan perubahan dirinya.

"Adrian cerita ke kamu Shin?" tanya Nadia.

"Iya, ada apa sebenarnya denganmu Dhea?" tanya Shinta, dan Nadia menggeleng.

"Kamu protes? Unjuk rasa? Sapa siapa? Tuhan?" tanya Shinta sambil menunggu jawaban Nadia yang tak kunjung datang.

"Apa yang kamu dapatkan dari hasil protesmu ini?"

Nadia tetap tak menjawab.

"Puas kamu dengan apa yang kamu lakukan sekarang? Lihat anakmu Dhea. kebingungan seperti itu hingga meneleponku, karena tidak tahu harus berbuat apa. Apa kamu tidak kasihan?"

Nadia tak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Namun dadanya terasa sakit dan sesak.

"Dia akan kehilangan pegangan jika kamu terus seperti itu. Kamu orang pandai Dhe, ... dan anakmu sangat mengangumimu selama ini. Ingat saat kamu briefing teman-temannya waktu awal dia masuk kuliah? Teman-temannya ikut kagum denganmu, banyak pujian dari teman-temannya. Walaupun kamu single parent, namun kamu mampu mendidik dengan baik dan sekaligus menyediakan fasilitas memadai. Nah sekarang jika kamu seperti ini, kasihan anakmu Dhea. Tokomu kamu tutup dan kamu nggak berbuat apa-apa kecuali mengurung diri dan pergi tidak ada tujuan entah dengan siapa saja, anakmu sampai nggak tahu. Ngapain kamu seperti ini Dhea? Nggak bakalan adikmu bisa hidup kembali meskipun kamu keluar airmata darah sekalipun. Kamu bukan orang bodoh Dhe, tapi sekarang kamu justru terlihat sangat bodoh sekali. Kelakuanmu ini sangat konyol dan tidak tersisa sedikitpun sisi Nadia yang aku kenal selama ini. Dan satu lagi, berkat kamu, masukanmku, aku sudah sadar dan kembali pada suamiku. Tidak ada yang namanya perselingkuhan lagi, hidupku sangat tertata dan aku menjadi orang yang paling bahagia sekarang. Menyesali perbuatan salahku dulu untuk hidup lebih baik," Shinta ceramah panjang lebar.

Nadia tak menjawab. Hanya tarikan napas panjang yang sering terdengar. Kemudian bergumam.

"Aku sendiri nggak tahu, kenapa aku bisa menjadi pecundang begini atas kehidupan ini."

"Bagus jika kamu sadar bahwa kamu tak lebih dari pecundang sekarang ini." timpal Shinta.

"Aku memang marah, aku memang protes atas kejadian-kejadian yang aku alami," kata Nadia lagi.

"Bukannya ajaranmu mengataian bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya?" kata Shinta yang memang beda kepercayaan dengan nadia.

"Dengan emngambil satu persatu orang yang kucintai? Sampai kapan keindahan itu datang?" Suara Nadia meninggi.

"Dhea, segala sesuatu sudah di skenario Yang di Atas."

"Apakah ada sebutan Yang di Atas, Shin?"

"Ya ampun Dhea, jangan sampai cobaan ini membuatmu jadi kehilangan iman begini," tukas Shinta sambil merapatkan duduknya mendekati Nadia.

"Aku sudah tidak tahu, Shin." Nadia merebahkan badannya.

"Dhea, setahuku dalam kepercayaanmu ada tertulis 'berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya." Kenapa kamu bisa menjadi seperti Thomas? Yang punya iman sedangkal itu. Ah aku rasakamu lebih mengerti tentang itu Dhea. Karena aku lebih paham soal hari raya Galungan, Kuningan," urai Shinta yang memang beragama Hindu. Namun mereka tak pernah mendebatkan perbedaan keyakinan itu, bahkan saling menghargai satu sama lain.

"Entahlah Shin, apakah aku memang seperti Thomas, aku nggak tahu." Nadia menjawab lemas. Ketidakrelaannya terhadap adiknya yang telah dipanggil pulang sudah merasuk ke jiwanya, bahkan ke tulang-tulangnya sehingga terasa nyeri.

"Jadi maumu apa?"

"Aku nggak tahu, aku hanya kecewa bahwa tidaka da kemukjizatan sama sekali untuk adikku," kata Nadia dan Shinta terbahak-bahak mendengarnya.

"Nadia oh Nadia."

"Kurasa tidak ada yang lucu, Shin."

"Memang nggak ada, tapi konyol tahu nggak? Seorang Nadia menginginkan sesuattu apa yang dia mau dan jika kemauannya tidak terpenuhi, dia berontak! Hahah..." Shinta masih meneruskan tawanya. Nadia diam dan tidak tersinggung sama sekali dengan tawa Shinta.

"Kamu pikir Tuhan itu kacungmu yang harus menuruti apa yang kamu inginkan?" kata Shinta lagi masih dengan tertawa dan tangannya sambil memukul-mukul kasur yang diduduki.

"Aku seperti bicara sama anak tamatan taman kanak-kanak," kata Shinta sambil turun kasur, hendak ke kamar mandi yang ada di kamar Nadia.

Rasa buang air kecilnya tiba-tiba tertahan manakala melihat tulisan di dinding kamar mandi Nadia.

"Dalam puncak penderitaan lahir batin, aku hanya berpikir satu saja yaitu mati! Mati adalah sebuah tidur panjang yang benar-benar istirahat."

"Dhea! Maksud kamu apa dengan tulisan di dinding kamar mandimu ini?" Shinta membatalkan buang air kecilnya dan kembali keluar dari kamar mandi.

"Aku hanya mengutip tulisan Harry Cahyono," jawab Nadia tanpa ekspresi.

"Ya ampun Dhea, jadi kamu pengin mati?" Shinta menepuk jidatnya. Nadia tak menjawab, lagi-lagi hanya menarik napas panjang.

"Dhea, separah itulah yang terjadi denganmu sekarang? Ingat Dhea, Adrian masih membutuhkanmu." Kali ini Shinta terlihat serius sambil memegang kedua tangan Nadia. Nadia hanya memandang Shinta.

Shinta benar-benar kehilangan akal. Memang benar kata orang, memberitahu orang bodoh lebih mudah dibanding memberitahu orang tidur. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 Juni 2016


0 Response to "Perempuan Limited Edition (21)"