Perempuan Limited Edition (23) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Perempuan Limited Edition (23) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:21 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (23)

ENTAH setan mana lagi yang merasuki jiwa Nadia, sehingga kali ini ia bersedia diajak Reza pergi. Reza yang dulu pernah ditinggal pergi Nadia saat bertamu karena dirasa sedikit kurang ajar. Kali ini Nadia langsung menyetujui, saat Reza mengajaknya jalan-jalan ke Dieng.

”Boleh,“ jawab Nadia tanpa ragu-ragu.

”Yang bener serius mau?” Reza tidak percaya, karena sejak diperkenalkan pada Nadia dan sudah beberapa kali datang ke rumah Nadia, tanggapan Nadia tetap dingin tak bersahabat. Sehingga wajar saja jika Reza mendadak heran.

”Serius. Masak aku bohong sih Mas?” jawab Nadia sambil tersenyum, tidak nampak keketusan seperti biasa diwajahnya.

Ada keanehan yang dirasakan oleh Reza, namun Reza tak peduli karena memang ini kesempatan yang ditunggu. Entah kenapa Reza begitu tertarik pada Nadia. Nadia sendiri ingin mengetahui apa yang akan terjadi jika dirinya keluar dari konsep hidupnya. Suatu bentuk pemberontakan yang tidak pada tempatnya. Namun itu akan dilakukan oleh Nadia.

”Apa yang akan terjadi jika aku keluar dari aturan-Mu jika Engkau memang ada? Bertambah murkakah Engkau? Atau sebaliknya?“ kata hati Nadia.

Nadia memang geram dengan apa yang terjadi di dunia ini. Minimal dari apa yang dilihatnya berdasarkan kecamatanya. Seperti ketika ia melihat televisi ataupun di YouTube. Melihat seseorang yang salah yang nipu sana-sini, namun malah kebanjiran rezeki dan menjadi artis. Kemudian melihat lagi seorang bernyanyi dengan memamerkan keindahan bentuk tubuhnya, menggeliat liat mengundang birahi. Dan itu menjadikannya terkenal. Fenomena apa ini? Begitu pikir Nadia waktu itu.

Ia hanya bisa mengelus dada. Sekarang jika Nadia berontak, ingin mengikuti fenomena itu, karena dianggap tidak ada keadilan dalam hidupnya, siapa yang akan dipersalahkan? Nadia memang sering mendengar kata-kata bahwa ”Tuhan tidak tidur‘, ’siapa yang menanam benih akan mendapatkan hasil‘ dan banyak lagi kata-kata normatif yang ia dengar. Namn apa yang ia dapatkan? Yang ia terima tidak sesuai yang sering ia dengar. Sehingga Nadia memertanyakan apa benar Tuhan itu ada?

Lima jam lebih perjalanan Yogya-Dieng, membuat pinggang Nadia terasa pegal-pegal. Nadia menggeliatkan badannya saat turun dari mobil.

”Capek ya?“ tanya Reza.

”Lumayan,“ jawab Nadia sambil matanya berkeliling melihat pemandangan yang sangat berbeda dengan belasan tahun lalu. Ya, Nadia memang punya kenangan tersendiri saat melihat Dieng. Dulu ia pernah refreshing ke sini dengan Rivan dan Adrian kecil. Nadia segera melupakan kenangan itu ketika bayangannya memunculkan sosok Rivan yang baru. Bukan Rivan yan seperti ini yang kurindukan, kata hatinya.

”Tenang aja ntar kupijitin.“ Suara Reza menyadarkan kenangannya bersama Rivan. Nadia hanya tersenyum.
”Kata-kata basi yang sering ia dengar, seperti Arif waktu itu juga begitu.“ Tentu saja kata-kat aini hanya diucapkan dalam hati.

”Mau langsung istirahat atau mau jalan-jalan dulu?“ tanya Reza.

”Jalan-jalan dulu aja deh mas, mumpung masih ada yang jualan telor,“ jawab Nadia sambil berjalan mendekati kawah. Di kawah itu ada beberapa orang yang menawarkan telor rebus yang tanpa direbus, namun hanya dijulurkan dekat kawah, karena suhunya sangat panas telor pun jadi masak seperti layaknya direbus.

Nadia langsung menghabiskan dua butir. Reza sama. Layaknya orang pacaran Reza merangkul pundak Nadia. Nadia sengaja membiarkannya saat mereka berjalan-jalan melihat kawasan dekat kawah.

Reza semakin mendapat angin melihat Nadia membiarkan tangannya merangkul pundak Nadia, kemudian turun ke pinggang. Benar-benas seperti sepasang kekasih. Nadia tak berusaha apapun dengan kelakuan Reza ini.

”Kita istirahat dulu yuk? Udah gelap,“ ajak Reza.

”Baik Mas, udah capek juga ini.“

”Tenang nanti aku pijitin,” jawab Reza sambil mempererat rangkulan-rangkulannya. Selalu modusnya pijit, kata hati Nadia.

”Aku tuh sejak awal liat kamu fantasiku udah ke mana-mana.”

Lagi-lagi Nadia hanya tersenyum. Nadia tahu ke mana arah pembicaraan Reza, namun dibiarkan saja. Kalau dulu mungkin Nadia akan menyemprotnya abis-abisan saat merangkul pundaknya saja. Kali ini Nadia membiarkan apapun karena memang tujuannya ia ingin menunjukkan terhadap Tuhan jika dengan kelakuannya yang liar, apa yang akan terjadi?

Sesampainya di penginapan, Nadia merebahkan badannya yang memang terasa capek dan pegal-pegal. Reza mengikuti dengan merebahkan badan di samping Nadia.

“Jadi mau dipijit nggak?” tanya Reza sambil membelai rambut Nadia.

”Jadi dong.” Nadia terlihat centil, membuat Reza semakin bersemangat.

“Lihatlah Tuhan… apa yang kulakukan jika Engkau memang ada? Apa yang akan terjadi selanjutnya atas diriku?“ Nadia berkata dalam hatinya.

Nadia memang sengaja melakukan ini untuk menunjukkan rasa protesnya atas ketidakadilan yang ia rasakan dalam kehidupan ini. Kehidupan yang dijalaninya sesuai norma dan aturan dalam ayat-ayat suci.

Tiba-tiba....

“Maaf saya tidak bisa! Nggak jadi dipijat,” kata Nadia sambil bangkit.

”Apa-apaan ini?” Reza merasa dipatahkan keinginannya, berusaha menarik Nadia.

”Maaf saya tidak bisa.“ Itu lagi yang keluar dari mulut Nadia.

Reza merasa dipermainkan Nadia. Nadia keluar penginapan tanpa memedulikan resepsionis yang heran melihat Nadia seperti orang ketakutan. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 Juni 2016

0 Response to "Perempuan Limited Edition (23)"