Perempuan yang Dipanggil Kenangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Perempuan yang Dipanggil Kenangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:57 Rating: 4,5

Perempuan yang Dipanggil Kenangan

IA sampai Yogya pukul 20.01. Aku menjemputnya di shuttle Ambarketawang setelah SMS-nya masuk ponselku yang layarnya pecah separoh. Tidak jelas betul isi pesannya. Intinya dia minta aku agar segera menghampiri di perhentian bus itu. 

Kukenakan jaket yang sudah luntur bagian lengannya. Barangkali seperti cinta, ia bisa pudar jika terkampau lama menanti waktu berjumpa. Tapi jaket dan cinta sama sekali tak ada kaitannya. Kecuali lengan jaketku senasib lenganku, kikis oleh jarak dan pertemuan yang terus tertunda sampai pada lengannya, lengan perempuan yang sebentar lagi akan kujumpai itu.

Tepat di depan shuttle, aku berhenti. Mataku menerawang jauh. Aku menemukan soosknya duduk termangu di bawah temaram lampu ruang tunggu. Aku melambai padanya, ia menoleh ke arahku. Aku menghampirinya. Kuulurkan tanganku dan berucap, "Sudah lama menunggunya?"

Ia cuma mengangguk. Tanpa berpikir panjang aku menggandengnya menyeberang jalan, menuju parkiran. Ia tidak mengelak. Aku ajak ia bicara tapi tanggapannya selalu iya-iya saja. Tentu saja aku agak terkejut; mengapa ia menjadi sedemikian dingin, tak seperti malam-malam sebelumnya ketika kami berkomunikasinya lewat media sosial. Hangat bahkan kadang bikin panas dalam. Sebetulnya aku tidak begitu percaya mitos bahwa kenalan dengan seseorang lewat medsos, berbincang, melakukan pendekatan, sampai berkencan hanya akan berakhir perpisahan. Tapi kusadari, setelah pertemuan kami yang pertamakali ini, ada yang mengusik pikiranku: "apakah perempuan yang kugandeng ini benar pacarku?"

"Akhirnya kamu sampai juga di Yogya, Re."

Setelah saling diam agak lama, aku mencoba mencairkan suasana. Tapi persis dugaanku, ia hanya mengiyakan. Langit Yogya malam ini bertabur bintang yang berkelip-kilau macam hamparan lampu jalan dan kendaraan ketika menatap kota dari ketinggian Bukit Bintang. Motorku menghanyutkan kami dalam perjalanan (entah menuju ke mana) yang sepi dari percakapan. Entah apa yang ia pikirkan setelah bertemu aku. Apakah tampilan asliku jauh dari apa yang ia pikirkan sewaktu mengamati fotoku di layar ponselnya? Ah, itu pikiran menjijikkan. Di mata perindu, segala yang buruk nampak memukau setelah bertemu yang dirindukan, bukan? Seperti juga lapar dan dahaga, semua sungkan di hadapan dua orang yang sedang dimabuk cinta. Tapi ah, benarkah ia mencintaiku hari ini?

Paginya, kami masih menggelepar di sebuah kamar pinjaman dari kawanku. Ia lelah sekali agaknya. Tidurnya amat nyenyak. Aku bisa memastikannya sebab aku terbangun tengah malam dan aku tidak tidur lagi hingga Subuh menjelang. Ketika pagi, kusibak jendela dan cahaya pertama menembus kaca, menerpa wajahnya. Ia sungguh anggun, batinku. Di jenjang lehernya merumbai rambutnya yang hitam, jatuh ke dada. Sementara bulu-bulu alisnya sesekali meriap di sela lenguh halus yang nyaris tak kedengaran. Ia akhirnya bangun setelah lampu kunyalakan. Ia melihatku tanpa mengucap. Kusambut paginya dengan ucapan selamat. Ia tersenyum seadanya. Menjenguk smartphone-nya lantas melenggang ke kamar mandi.

Sesuai permintaannya yang kami sepakati sebelum memutuskan ke Yogya, kami akan mengunjungi dua tempat yang ia rindukan, begitu katanya. Tempat itu Puncak Suroloyo, di kakinya terdapat wisata kebun teh dan embung, sebuah danau di puncak gunung. Kami berangkat pukul 06.00 ketika mata kami masih sama merah. Semerah cakrawala di kaki langit Parangtritis.

Demikianlah, kami terus melaju menyiasati arah jalan, mencari titik aman dari kemacetan yang mulai menulari Kota Yogya. Tidak hanya Jakarta, pacaran di Yogya pun terancam akan berjarak dari keromantisan.

Yang aku sadari cuma satu, aku berjalan dengan perempuan yang telah lama kunanti-rindukan. Ia kini berada di sisiku, dengan sikap dinginnya yang khas, berdiam diri menumpukkan dagunya di pundakku. Kami tak sering bercakap dalam perjalanan ke Puncak Suroloyo ini, hanya sesekali saja. Semisal menanyakan padanya, kamu lapar? Atau bilang: "kamu jangan tidur ya di belakang!"

"Tiga patung Semar ini mengingatkanku pada seseorang," katanya tiba-tiba, mengejutkanku ketika baru saja kami berjalan meninggalkan parkiran.

Demi dewa kebijaksanaan, ia akhirnya bicara, batinku setengah tidak percaya.

"Seseorang?"

"Ya!"

Tidak penting benar aku meneruskan bertanya, sebab gugusan tangga yang mendaki ketinggian Suroloyo sudah begitu menggoda. Sedikit tergesa aku menarik lengannya. Ia tampak terkesima menyaksikan lekuk dan kelokan anak tangga yang diikuti baris pepohonan. Udara sejuk seperti senyumnya. Embusan angin sedingin perangainya. Dan ujung tangga yang menyimpan rahasia.

"Aku tidak habis pikir setelah sekian tahun aku baru bisa ke sini lagi," katanya setiba kami di puncak dengan nada suara agak sumbang.

Kubiarkan saja kalimat itu mengambang, menjadi remah embun yang kedinginan di pucuk-pucuk perdu dan kulit karat mercusuar. Kulihat ia mengeluarkan smartphone-nya, lantas memotret kiri-kanan. Aku gugup saat lensa kameranya menangkapku. Ia sempat tertawa dan aku pun turut bahagia.

Aku memesan dua gelas teh hangat. Satu untukku, satu untuk dingin sikapnya. "Kedai kebun teh ini menyimpan banyak kejadian," katanya lagi dengan suara lirih dan sumbang. Aku menjadi heran, apakah tempat ini yang membuatnya menjadi pendiam?

"Kau baik-baik saja, re?"

"Ya!"

"Tapi tampaknya kamu sedang tidak baik-baik saja. Kamu sakit, ya?"

"Tidak kok, Ji. Kita pulang yuk."

"Lha, katanya mau ke Embung, Re?"

"Tidak jadi saja, Ji. Aku sepertinya harus balik ke Purwokerto besok pagi. Kita cari tiket saja ya sepulang dari sini?!"

"Lho, kok?"

***
TERMINAL Giwangan pagi ini disesaki antrean panjang orang-orang yang hendak bepergian. Perempuan di sampingku semakin asing saja di benakku. Apakah ia benar kekasihku? Jika ia, lantas kenapa hatinya serasa tidak di sini? Ia telah menjelma orang lain dalam diriku dan aku telah menjelma keringat dingin, yang meluap di ujung tipis alisnya ketika kutanyakan foto siapa yang tak sengaja ia kirimkan ke ponselku semalam, saat aku meminta potret kami di Suroloyo. Dalam foto yang juga berlatar Puncak Suroloyo itu tampak seorang pemuda berwajah tirus memeluk pundak wanita di sampingnya. Wanita itu mengenakan kaos kopel dengan si pemuda berwajah tirus. Mereka tersenyum seindah senyum Garcia-Lorca sewaktu menunjuk bulan kepada algojo yang akan memenggal lehernya.

Aku menoleh ke perempuan yang aku cintai itu, kunanti-rindukan sekian bulan. Kenyataan ini seperti cerita dalam dongeng, apakah sebelum ini ia telah tertidur beratus tahun? Hingga kaos yang ia kenakan di foto itu tak ia ganti sampai hari ini. Aku melihat ke foto itu kemudian menoleh kepada perempuan yang kucintai ini: debu-debu halus di lantai terminal membadai, ada yang tiba-tiba bergulir dan berair di pipi.

"Maafkan aku, Ji. Aku datang karena dipanggil kenanganku. Aku mesti jujur padamu, aku merindukan lelaki itu. Lelaki yang suatu ketika aku ceritakan kepadamu, sebagai masa laluku," katanya lirih dan sumbang kemudian beranjak dari kursi, membelah pintu bus.

Yogya, 8 Juni 2016

Achmad Sabil, Jalan Panjaitan 57, Jogokaryan Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Sabil
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu 26 Juni 2016

0 Response to "Perempuan yang Dipanggil Kenangan"