Sajak untuk Hari Tuamu - Kesaksian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Sajak untuk Hari Tuamu - Kesaksian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:13 Rating: 4,5

Sajak untuk Hari Tuamu - Kesaksian

Sajak untuk Hari Tuamu 

--untuk RN 

Sungguh tidak terbilang waktu terpakai
dicuci dijemur jadi kain lapuk di lantai dapur
dirobek buat lap bubur dan air kopi yang
tumpah
sebab tanganmu mulai gemetar bekerja.

Kadang kau lupa di laci mana menaruh
cenderamata, di lipatan baju mana terselip
secarik kartu keluarga dan petikan
namanama
di dalamnya yang mengidap beban tulang
usiamu.

Kutulis sajak ini antara tipis harapan dan
hidup darurat agar mendekatkan hari-hari
kita
yang terbagi dua pulau--kau dengan
penantianmu
aku bersama rindu yang selalu batal pulang.

Kata-kata memang tak bakal cukup
menimbang
perasaan yang dibentangi selat, serta pikiran
yang
bersilang jalur-jalur sibuk pesawat--selain
jantungmu
didatangi letusan petir dan riuh angin di hari
yang sama.

Barangkali kau tengah menekuri fotoku;
masa kecil yang kian kabur kebahagiaannya
itu
sehingga paras kerutmu jadi mendadak
mendung
gerimis lalu bercucuran dari mega matamu.

Seperti padam lampu kupejam mataku
teringat pintu batinmu yang kubanting dulu
ketika terlalu besar inginku menjumpai cita
cita
yang duduk-duduk dalam kalimat pendek
kitab lama.

Ah, salah takwil bisa bikin kau demam
ternyata
semoga melalui sajak sederhana ini umpama
kain
kompres di kepala yang kaurendam-peras
tujuh pagi
tujuh malam dapat meredakan igauanmu.

2016 

Kesaksian 

Semula di seberang terminal
Lewat pukul delapan malam
Di sebatang gang agak samar
Terkapar satu erangan disorot
Lampu jalan hingga wajahnya

Di sela separuh terang dan bayang
Saat itu, tampak kulit memar
Di samping bibirnya bikin merintih
Oleh tangan komplotan bengal
Setelah segenap miliknya dijarah

Terlihat sekuntum bunga merah
Telah rusak terinjak, kini mirip
Dengan perut robeknya, dan dua helai
Karcis film seakan satu bagi ajalnya
Satunya lagi buat sepotong dukacita

Perempuan di sana, seakan kesepian
Lantas berpaling.
Aku berdiri terpaku
Itulah saat wajah lelaki itu mulai beku
Tanpa cahaya.
Tapi ini bukan berarti
Bagai bus telantar di sebuah garasi

Bisa mengubah setiap sudut perkara
Maka siapa mau duduk di kursi saksi
Kecuali cuma saran seorang pendeta
Seolah sebutir-pil-rohani: Kasihilah
Musuhmu seperti kau menerima ajalmu

2016 



Nermi Arya Silaban, Lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 17 Juli. Penggagas dan penggiat Rumah Kreatif Naya. Tinggal di Yogyakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nermi Arya Silaban
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 12 Juni 2016




0 Response to "Sajak untuk Hari Tuamu - Kesaksian "