Sebuah Stasiun, Malam Hari - Lambung Berserah - Kesedihan - Malam Menghunus Sepi yang Tua - Pertempuran Rahasia di Dada Pejalan - Batu 2 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Sebuah Stasiun, Malam Hari - Lambung Berserah - Kesedihan - Malam Menghunus Sepi yang Tua - Pertempuran Rahasia di Dada Pejalan - Batu 2 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:54 Rating: 4,5

Sebuah Stasiun, Malam Hari - Lambung Berserah - Kesedihan - Malam Menghunus Sepi yang Tua - Pertempuran Rahasia di Dada Pejalan - Batu 2

Sebuah Stasiun, Malam Hari

Sebuah stasiun, malam hari, Bangku-bangku kosong,
loket tak buka lagi. Aneh! Tidada ada satu kereta pun 
di sini. Timur dan Barat sudahlah arah yang tak bisa 
diubah, diperbarui. Tetapi warung-warung belaka menjajakan sepi.
para pedagang asongan hanya lalu lalang di negeri mimpi.

Teman yang udara, untuk apa kau ajak aku kemari?
Puisi tanpa kata, bagaimana dan kapan kita bisa
ingkar janji: dari setiap kali mereguk kegilaan yang tak 
kapok-kapoknya mengatasnamakan imajinasi

Sementara, waktu seperti candu. Sepelemparan batu
saja tak menghidu, akulah pesakitan yang terlantar
dari rute perjalanan itu. Juga dari celah iseng, rindu,
(bahkan sangat yakin atawa sudah pasti) cintamu

Tak mungkin Tuhan sedang membuat canda
yang tak lucu. Kita. di sini, cuma para pemeran laku
yang harus mengakui segala pemberiannya dengan 
busur pikir yang jitu, bersebelah rel tuju. Ya,

baiknya aku pulang saja ke rumah hati. Bertanya
mesti tanpa jawaban pasti, tentang sepatu yang
tiba-tiba sampai di depan sebuh teka-teki fana
yang sesekali ditemui

Sebelum tubuh melulu terisi
bunyi lokomotof tak kumengerti

yang tak lagi terdengar di telinga ini...

Lambung Berserah

Tiap tetes kesunyian yang kutampung
melayarkan bulan pucat di laut nadi
aku berserah untuk kesekian kali
Masihkah namaku lumbung, Gusti, apabila suwung
menautkan jari jemari. Napas tanpa deru kendara ini
seperti gunung ditinggalkan biru dan pohon-pohon
setua mimpi. Sungai masih membelit di lambung, tetapi
gemericiknya tak terdengar merdu lagi. Tak mengerat
serta mengupas debu-debu dan kerak bumi

Waktu menjelang jalan-jalan cuma dihuni
lampu-lampu yang terkurung riwayatnya sendiri
aku kembali berserah di sini

Mengadukan dada berlubang penuh bayangan
sayap-sayap serangga terbang meningkahi arti
penantian panjang, penantian tak setegar karang
ini, Gusti. Agar supaya Engkau segera menyudahi
musim yang culas, angin yang telengas, hingga 
hari-hari buruk menggelibas ke lain tepi
hari-hari baik menenun lagi sutera matahari

Kesedihan

Kesedihan telah melahirkan tubuh laki-laki
yang padat, berurat,
mengubur kabut dengan pikiran yang matahari

Tiap hari kian fasih mengepung benci
mengurung sakit hati, sebagai buah-buah yang 
tak perlu dikupas lagi, lantaran
telah terawang segala isi

Malam Menghunus Sepi yang Tua

Sandiwara mulai digulung oleh lampu
dan jalan-jalan kota.
Bayang-bayang pada koyak jala warna
merengek pulang ke kubangan semula

Gedung-gedung terkurung keletihannya
pohon-pohon bermohon pada akarnya
"kita bukan angin di kening pengembara."

Sebuah penjumlahan aneh seperti tiba-tiba
akan menyergap siapa saja. Angka-angka di
dada kita pun, menggurah kunang-kunang rahasia

yang ingin melekat sebagai bercak
di sebuah dinding atasnama
penuh huruf-huruf memar sepanjang jalan cerita

Malam menghunus sepi yang tua
di kegelapan tanah, di kedalaman air
kita tak tahu apa rencana-Nya

Pertempuran Rahasia di Dada Pejalan

Keberanian tak bisa ditebang
atau kutuk massal menjadi kalung di leher
tinta hitam menjadi danau di sempit dada
lalu keluang-keluang menggerakkan bayangan-bayangan
yang pernah dikuburkan cinta
di jurang bernama sumber segala kepahitan

Seorang pejalan mestinya juga penanam
cahaya di lumbung-lumbung tersembunyi
hingga detik terakhir sepasang kaki
bersahabat dengan arah dan mimpi

Batu 2

Sekali saja, kataku, kita bertukar laku..
Lalu, terpotong sudah syahwatku,
jadi angin dan sapuan-sapuan warna,
yang ingin aku hapus selalu
2016


Arwinto Syamsunu Ajie: gabung Dapur Sastra Jakarta, tinggal di Jalan Kendeng No 4 Kebumen 54316

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arwinto Syamsunu Ajie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 Juni 2016


0 Response to "Sebuah Stasiun, Malam Hari - Lambung Berserah - Kesedihan - Malam Menghunus Sepi yang Tua - Pertempuran Rahasia di Dada Pejalan - Batu 2"