Tanah Perawan - Aku Berhasrat Hanyut dalam Lautmu - Tenung Lamaran | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tanah Perawan - Aku Berhasrat Hanyut dalam Lautmu - Tenung Lamaran Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:48 Rating: 4,5

Tanah Perawan - Aku Berhasrat Hanyut dalam Lautmu - Tenung Lamaran

Tanah Perawan

1/
Kalau kau tanah ladang tempat tumbuh pohon-pohon baru
sudah kutanam anak-anak waktu
yang gemar menimba air susu dari telaga matamu

Seperti tukang kebun menancapkan bibit harapan
di atas batu-batu hitam, lalu membiarkannya diasuh hujan

2/
Kalau kau tanah ladang tempat semayam kawanan binatang
pantang kuterjang semak lambang
siang dan malam hamburkan diri ke sunyi bulan-matahari

Bukit-bukit tinggi masih setia menanti
para pendaki menabur biji-biji kembang,
di atasnya dua tiga kenari menembang
Piyungan, 2016

Aku Berhasrat Hanyut dalam Lautmu 

Aku berhasrat hanyut dalam lautmu
Mendayung cemas nasib nelayan
Larungkan perahu batin ke pusar gelombang
Hingga riap sirip ikan meriak darah Batang-Batang

Berdepa-depa pantai putih bumikan tangis kasih
Anak-anak pasir mengejar angin sampai jauh
Bermuka-muka kau dan aku memadu perih
Berselempang badai seberangi smaudera teduh

Kibar layar pada tiang smapaikan slaam pasang
Aduh suaramu bergema pilu di lambung sampan

Bulan karam jadi jangkar
O, keriuhan bandar!

Masih adakah pancang untuk tambatkan tambang
bagi pelaut yang diburu rasa takut
Sedang di atas laut jiwanya terus bergelut?
Batang-Batang, 2016

Tenung Lamaran 

Tetaplah dekat biar cemasku lindap
Berapa hari sudah mataku memandang dinding kusam
Mencari bentuk wajah yang semakin buram
Musim penghujan datang membawa segumpal kabut
membuat cahaya mata kian redup
Seperti lampu minyak di tiang penyangga
ditiup udara malam tua, bayang-bayang sirna

Aku terperangkap jauh di puisi pulau
sendiri dikepung suara desau
Menunjuk satu bintang, bulan menghadang
Ombak pantai menakutiku lewat deru tak berhulu

Sedang dermaga alengang jiwa penyair
Melarangku bersentuhan dengan air

"Laut ini dalam, tajam karang di dasar
serupa tangan bajak laut,
merenggut setiap yang takut," katanya.

Sucia, pernahkah kau dengar cerita moyang
ihwal tenung dan penantian?
Kadang aku merasa semua hanya dongeng dusta
untuk membuat kecut hati para bocah
Bahkan aku menolak percaya pada semua tanda
bahwa bintang nenggala jangkar semesta

Meski ternyata ada yang lupa kubaca dari riwayat
tentang Musa dan tongkat
Firaun penguasa padang pasir
yang bersekutu dengan sihir

Maka tetaplah dekat, Sucia
biar bisa kubenturkan duka
ke tubuh pejalmu. Kutenggelamkan dalam
ciuman panjang di bawah sinar temaram
Karena sungguh kau pelabuhan
Bagiku, pelayar sunyi bersampan puisi.
Piyungan, 2016


Kamil Dayasawa: lahir di Sumenep, 5 Juni 1991. Mahasiswa sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya-UIN Sunan Kalijaga Yogya


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kamil Dayasawa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu 5 Juni 2016


0 Response to "Tanah Perawan - Aku Berhasrat Hanyut dalam Lautmu - Tenung Lamaran "