Ambang Senja, Lebaran Pertama | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ambang Senja, Lebaran Pertama Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:00 Rating: 4,5

Ambang Senja, Lebaran Pertama

NAMANYA Sarwendah. Perempuan paruh baya yang wajahnya masih menyimpan garis-garis kecantikan. Wajah yang semula menjadi idola setiap pemuda. Wajah itu yang membuat banyak istri gerah. Khawatir kalau suami mereka akan berpaling cinta. Kekhawatiran mereka tidak berlangsung lama, sesudah mendengar kabar Sarwendah dipinang Bramasta. Anak semata wayang pemilik pabrik tekstil terbesar di Tunggulwulung.

Sesudah diboyong Bramasta ke kota, Sarwendah hidup tentram. Tidak menjadi bahan gosip ibu-ibu arisan kampung. Jauh dari tatapan mesum suami-suami kesepian sesudah istri mereka bekerja di luar negeri. Terbebas dari buruan anak-anak muda yang masih mengandalkan kucuran keringat orangtuanya.

Tahun pertama berumah tangga, Sarwendah serasa berkubang dengan kebahagiaan. Bagaimana tidak? Bramasta yang menjabat sebagai direktur utama di perusahaan ayahnya itu selalu memanjakan. Membelikan kalung, anting, gelang dan cincin emas. Mengajaknya liburan ke Pulau Dewata sebulan sekali. 

Paroh tahun kedua, rumah tangga Sarwendah gonjang-ganjing. Bramasta yang jarang pulang karena tergoda dengan sekretarisnya itu menunduh Sarwendah hamil dengan lelaki lain. Ambang tahun baru, Sarwendah menjadi janda. Hidup di rumah orangtua dengan bayi dalam kandungannya. 

Tidak kuasa diterpa gunjingan orang-orang, Sarwendah nekad meninggalkan Pujasta –bayinya yang masih berusia sebulan. Pergi ke arab: menjadi babu keluarga Tuan Syakur. Sesudah menimbun riyal, ia pulang. Memulai hidup baru bersama anaknya. Jauh dari kampung halamannya.

Di rumah sederhana yang baru dibelinya, Sarwendah berjuang melawan hidup. Membuka warung opor ayam yang berdekatan dengan pabrik tekstil milik ayah Bramasta. Ia bersyukur. Sekalipun untungnya tidak sebesar gaji babu, ia dapat memberi makan Pujasta. Membiayai sekolahnya hingga meraih gelar sarjana.

Sarwendah bangga. Tanpa suami, ia sanggup membekali kepandaian pada Pujasta. Hingga, anaknya itu menjabat sebagai direktur perusahaan batu bara di Kalimantan. Ia semakin bangga ketika mendengar anaknya selalu memberi santunan pada orang-orang miskin.

***
LAMUNAN Sarwendah tentang masa silamnya pecah saat mendengar kumandang azan Magrib dari surau. Sesudah menutup warung opor ayamnya yang sudah sepi pembeli, ia menuju kran di samping kamar mandi. Berwudu. Menunaikan salat Magrib. Sesudah berbuka puasa, ponsel tuanya berdering. Melihat nama Pujasta muncul di layar ponsel, ia memencet keypad ’ok‘.

”Assalamualaikum, Jasta.”

”Waalaikum salam.”

”Tumben ngebel.”

”Iya, Mak. Aku hanya ingin memberi tahu. Lebaran pertama nanti, aku pulang. Tiga hari yang lalu, aku sudah mendapat tiket pesawat.”

”Sungguh? Betapa senang hatiku.”

”Sungguh, Mak. Jangan lupa opor ayam buatan Emak!“

”Tentu. Aku tidak lupa.“

”Makasih, Mak. Sampai nanti.“

Sarwendah meletakkan ponsel di meja makan. Sungguh, ia merasakan kehadiran Tuhan di rumah hatinya. Mengabarkan lewat sesabit bulan, bahwa kebahagiaan akan kembali dicecap pada hari Lebaran. Berkumpul dengan Pujasta yang sudah lima tahun tidak pulang karena kesibukan kerjanya. 
Bagi Sarwendah, dua hari menuju Lebaran serasa lebih lama dari setahun. Jam dinding di ruang makan itu tampak sengaja memerlambat gerak jarum-jarumnya. Demikian pula, matahari yang selalu dilihatnya dari pagi hingga sore. Dalam hati, ia bertanya, ”Kenapa waktu tidak bersahabat denganku?“

”Bersabarlah! Orang sabar itu kekasih Allah!“

Sekalipun sudah meresapi inti petuah Kiai Basyir sesudah salat Tarawih itu, Sarwendah belum mampu meredakan kesabarannya untuk segera bertemu dengan Pujasta. Kulit dagingnya yang sekian lama dipisahkan jarak. Buah hati yang selalu dirindukan kedatangannya.

***
LEBARAN tiba. Sepulang dari salat Id di lapangan, Sarwendah yang berbunga-bunga hatinya itu sibuk di dapur. Memasak opor ayam. Menghidangkannya di meja makan.

Selepas siang, Sarwendah menghubungi Pujasta dengan ponsel tuanya. berulangkali dikontak, ponsel anaknya itu tidak aktif. Ia cemas. Matanya berkunang-kunang, saat telinganya mendengar berita samar-samar dari televisi. Berita terbakarnya pesawat yang menelan korban seluruh penumpang. Salah satunya, ’Pujasta‘. Perempuan itu terjatuh di lantai. Pingsan.

Ambang senja. Sarwendah yang terbujur lemas di ranjang kayu itu siuman. Menyaksikan wajah Pujasta yang terselip di antara wajah-wajah tetangganya, ia serasa terlempar ke negeri arwah. ”Apakah aku sudah mati?“

”Emak masih hidup.“

”Lantas....“ Sarwendah menatap wajah anaknya. ”Siapakah Pujasta yang menjadi korban terbakarnya pesawatnya itu?“

”Bukan Pujasta, Mak. Tapi, Bramasta. Menurut kabar, ia adalah direktur pabrik tekstil yang tidak jauh dari rumah kita ini.“

Sarwendah memagut Pujasta erat-erat. Kedua matanya menerawang jauh ke masa silam. Masa kepedihan sesudah Bramasta menuduhnya berselingkuh dengan lelaki lain. menceraikan dan menelantarkan bersama anaknya. Dengan suara serak, ia berkata lirih, ”Selamat jalan dengan damai, Bram! Semoga Tuhan membukakan pintu surga untukmu.“ ❑  -k

Cilacap, 11 Juni 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 3 Juli 2016


0 Response to "Ambang Senja, Lebaran Pertama"