Avartara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Avartara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:10 Rating: 4,5

Avartara

GEMERONTANG RONDA TAK SOPAN mendentum lewat tiang listrik beku. Gegabah. Tambun Diego mengeriut. Bau embun menelikung mimpi bayi, menyentakkan lelangit pengantin merah jambu—temaram. Dingin menelusuk hasrat legam rambut meremang, rambut Hawa. Mungkin seseorang, atau entah siapa. Tapi bagaimana mungkin? Dinding-dinding jadi apak berjebol-jebol karena kelotek ronda sial memaksa Tambun Diego menggigil: berderiak. Bau napas mengeras di bawah perut memanggil. Rindu. Tuhan, tuhanku, surga mengalir di bawahnya sungai susu, demikianlah ia menguapkan wajah tolol. Pasti. Yang bacin manakala menabrak bayangan di kaca gambar perut berlipat-lipat menggelambir. Seperti Semar. Sengsara. Geletak sofa sekokoh jati dinasti Syailendra motif kepala dewa rumit menukik-nukik syahdu, jadi peot berkepinding. Merinding. Tangan Tambun Diego mengacung-acung, mengelus-elus. Mosaik lesu di atas hamparan kanvas Vini de Vici, bidadari. Jam tiga nol delapan. Telepon kemringat kembali berdering menggerunjal-gerunjal menyiratkan muka batu: “Jadi betul tidak seorang pun?”

“Tapi semua telah diatur. Tak ada hal sekecil apa pun yang dapat merusak kewaspadaan.”

“Kewaspadaan, katamu?”

“Selamat malam. Maaf, pagi. Diego!”

Tambun Diego menapak jendela. Demi kebijaksanaan, dan kalender tercoret empat puluh hari. Demi setan, mestinya ia tidak harus berpikir. Kenapa jam menjadi beku, kenapa suara-suara sepatu, atau hanya omong-omong kosong dari seputar meja ke meja. Di luar, kota menggigil ada angin menampar: serak-semerak sampah kertas, gelimpang rambu jalan, robohan tembok, bangkai kaleng-mobil-penyok, cipratan darah—ia menamakannya darah binatang terkutuk—kering bercik-bercik; bekas selongsong peluru malaikat penyelamat menggelimpang di selokan penuh kain, dan udara sepoi-sepoi busuk serta sesobek bendera. Sunyi. Mati. Hanya sekelompok ronda berseragam militer siaga menggelonteng-gelonteng besi keras. Berderap-derap.

KALIMAT YANG MEMULAI HIDUP BARU KETIKA Diego Tambun bangun merobek almanak adalah “berpikir”. Membuka jendela dan melihat neraka jauh di lembah kota yang nyaris menyergap: “Cekik! Freedom! Cekik! Freedom!” Well, sebegitu pentingkah ia sehebat John Lennon sehingga nyaris tanpa kemerdekaan bahkan untuk bernapas semenit. Andaikan ia dulu tobat sebelum tahu bakal jadi pemberontak, barangkali Sundari, istrinya, tak akan minggat. Tak ada suntik. Tak ada Dewan. Tak ada bedah. Betul-betul nasib maling. “Betul-betul Amaranti Toilet jongos keparat, “Heeei, antarkan kopi tubruk …!” Hem, Ibu-ibuan Trusmeneng, bahunya putih sayang sudah peot.

“Apakah Dewan Perumus sudah datang, babu?”

“Jam dua belas, Diego.”

“Panggil Toilet kemari.”

Toilet, Amaranti Toilet, memang tengah berada di kamar Darmin. Anak pincang semenjak terbanting dari pangkuan Sundari karena kerakusannya tiba-tiba menggigit susu hingga krowak. Mudah ditebak, otaknya penuh rencana. Sebab begitulah hukum rimba bagi kebanyakan orang malas. “Nusa dan bangsa, Anak Bagus, agama dan takhta. Kamu tidak mau dicekik tuhan bukan? Nah, Dewan Perumus Kebenaran selalu tak pernah keliru. Demi rakyat yang akan mencincang kamu, tentu, jika kamu menolak. Diego sudah berpikir. Anaknya juga harus berpikir. Tapi, ah, gue yakin kamu tidak perlu berpikir, bukan? Ha-ha-ha.” Maklum goblok, maka: pabrik, gunung, hutan, laut, besi, sampai koral dan rongsokan segera rombongan masuk di kepalanya. Imajinasi yang terlalu kuat buat menjadi orang besar. Ha-ha-ha, ia merangkul, “Lalu besok Pak Toilet mau saya jadikan apa?” Berbeda dengan Nona Cichipok adiknya, usia bolehlah baru enam belas tahun. Tapi Dewan Perumus Kebenaran, sedikit pun harus berani bertaruh karena toh di depan Amaranti Toilet sendiri, ia tetap ngotot: “Bedah apa tadi?”
“Otak. Menjadi otak figur.”

“Ah, yang bener saja situ bilang sih? Lantas otak iko buat makanan kucing, gile luh.”

“Ya tidak toh Ci. Transplantasi, begitulah Dokter Tanaka dari Jepang akan menjelaskan nanti. Tinggal suntik, tidak sukar. Jus, jus … semua akan beres. Sudah toh Ci, demi negara. Jadilah pahlawan untuk rakyat.”

“Cailaaaa, emange gue ngapa? Margaret? Ck-ck-ck, no way, tidak sudi. Sori, iko mau luluran. Minggat sana!”

Playboy, Amsterdam, Yurike Prastica, Paris, Madonna, Universitas Gadjah Mada, berita apa gerangan hari ini? The Ballad of John and Yoko, bla-bla-bla! Mending nyanyi. Maling. Ngapain ngurusin negara. Biarlah babe gue dicekik! Salahnya ngurusin politik … duh-duh-duuuuh: “Emeeeeen … nyetir dari Paris sampai Hilton Amsterdam, kami bicara di tempat tidur sampai sepekan; surat-surat kabar bertanya, ‘Apa yang kalian lakukan di ranjang itu, he?’; kami hanya mencoba memperoleh damai ….”

“Ci … Ci,” Toilet, Amaranti Toilet, pusing menutup kuping.

“Ngintip? Mau lihat kaki … nih!”

“Sial!”

“Toilet dipanggil Diego!!”

Masya Allah, ck-ck-ck, “Ibu-ibuan Trusmeneng, apakah mudamu seperti itu?”

PAGI-PAGI SEPERTI BIASA, MATAHARI PERTAMA kali akan menyoroti daun palem; kemudian bergegas menuju dinding marmer kolam ikan, bergoyang bersama air mancur, gantungan anggrek dan rerimbun akasia, rumput-rumput manis karena embun menguap, kemudian pilar-pilar: jendela jongos setia Amaranti Toilet terbuka. Makhluk terbaik di dunia. Tirai ketiga kasta rendah lain berkerosak: Maniot, Bormaling, dan Ibu-ibuan Trusmeneng—semuanya pembantu. Pintu Diego tertutup rapat. Begitu juga suara-suara di kamar istimewa Nona Cichipok dan laki-laki malas tapi pura-pura cerdas dengan nama lugu: Darmin.

Suasana nyaris sama. Gambar Jeihan masih gelap. Rak buku penuh buku, keramik cina, Kenwood-Kirarabaso-komputer-AC-patung Afrika, ruang-ruang melorong seperti sunyi. Semuanya harus bersih sebelum jam sembilan. Kayu-kayu jati, tentu, kamar-kamar di seberang aula:—saking besarnya—ada taman dengan air mancur-mancur, piano, bangku. Tembok-tembok berlapis cat aroma mawar. Rapi. Tidak seperti lukisan Picasso semrawut ruwet di sudut itu. Mestinya digantung Maria Mercedes saja dengan dua kepala kuda seperti ini; atau gadis begitu romantis telentang tidur seperti goresan Parvilka dari Sisilia. Sehingga pas. Semacam pondok para dewa dengan kecerdasan idiot. Ada kedamaian dalam bayangan gubuk para petapa ketika kamera kita dialihkan dengan sentimen pada gerbang besi digembok empat kilo baja murni yang memisahkan keindahan ukiran-ukiran kayu penyangga atap Cina dengan motif kemakmuran sebuah negeri. Sebuah jalan aspal dengan kemulusan paha gadis negro menghunjam rumah induk dengan pos penjagaan delapan laki-laki berseragam hijau kotoran daun; dengan kewaspadaan yang hanya dimiliki Malaikat Malik, tentu. Diiring buaian angin di kiri kanan oleh puluhan cemara, yang lantas menerbangkan debu-debu ketika matahari naik. Dengan kepanasan terkutuk. Demi tugas mulia, karena demikianlah ia menentukan nasibnya sendiri. Demikianlah mereka mengokang senjata dan demikian pulalah mereka memaki apa yang tak patut. Sehingga untuk kewibawaan selanjutnya, diceritakan dengan sengaja, bahkan lubang got busuk bawah tanah mesti disuruk. Komando tertinggi memerintahkan dua bilangan ratus informan lalu lalang secara sangat rahasia: seorang pengemis berpangkat kopral mengacung-acung dalam radius dua kilometer, tiga kilometer, empat kilo puluh ratus—entah. Dalam jarak lima ribu meter sebelum terlihat pos penjagaan darurat pertama, dua dari bilangan sersan bermata licik dengan pakaian petaninya luntang-lantung. Belum pasangan dengan pasangan, pikulan bakso misalnya, yang mestinya adalah kopral yang hampir penisun ketika berkali-kali menambahkan air sumur pada kuahnya hingga setiap pembeli kapok dan mengutuk. Sedang jumlah lain bersama-sama para perusuh meneriakkan kata: Freedom! Freedom! Cekik! Cekik! Sukar dibedakan.

Praktis, semua hubungan luar terputus, sampai batas yang tidak ditentukan, “Demi kemanusiaan, kemuliaan, dan kemakmuran, kami menunggu keputusan Tambun Diego untuk segera bertindak!”
Begitulah, kini terjawab kenapa jongos Amaranti Toilet harus bangun lebih pagi dari biasanya. Tanggal dua belas dari kalender yang tersobek, bulan Desember, empat puluh hari melompati November semenjak hari pertama di pengasingan di bulan Oktober. Sebuah kota yang sumpek. Seorang kurir dengan nekat diceriterakan bermuka palsu menelusupkan dokumentasi resmi tertanda: Jenderal Bedewi. 10 November 1994. “Musim di pusat kekuasaan nyaris lumpuh. Penduduk-penduduk pada nganggur dan iseng-iseng menjungkirbalikkan mobil reot milik mereka, merampok toko, gudang beras, dan membakar barang-barang bekas,” begitulah laporan dibaca Amaranti Toilet yang mengangguk dalam pada penuh tidak keraguan, setuju. “Pemilik Mercedes-Mercedes, BMW-BMW, Rolls-Royce-Jaguar-Ferrari, jagoan-jagoan, nyaris semua berkutat di kolong meja, bahkan di got. Supermarket tutup tapi jebol. Dikabarkan, orang-orang ngamuk sampai sengaja menyimpan AC general di kandang babi. Pamer. Makan madu, susu, ebi, sirip hiu, bersama-sama ayam-ayam, bebek, sapi-sapi, dan tentu saja perlu dicatat: hewan-hewan itu terpaksa mati karena kaget. Demi itu anggur dikasihkan perkutut. O ya, satu hal lagi, untuk melengkapi laporan bulanan ini, karena kami termasuk punya pribadi rinci dengan kesetiaan penuh. Dilahirkan dari sebuah keluarga ….” Kesimpulan dari sepuluh lembar bertele-tele dokumen dengan kepribadian menjijikkan itu ternyata terletak pada sebaris kalimat, “Dewan Perumus Kebenaran akan datang hari ini. Rombongan terhormat menentukan Diego untuk segera bersiap.” Lima lembar selebihnya adalah catatan kemuliaan si pelopor, peta-peta, dan kuitansi-kuitansi. Sepertinya besok adalah makhluk tak begitu penting untuk mati.

DIBANDING SABOTASE KAPAL DI TELUK MATAGOR, pembakaran toko warga India di sepanjang jalan Sofia, dua kilometer memanjang ke arah utara, mendapat prioritas utama di halaman muka surat kabar kuning. Pertama, bau got menyentak ketika mayat aktivis tahi kucing, Lorenta, diangkat menuju truk sampah. Dan tayangan kedua info subuh, seperti yang terekam dalam kebingungan orang-orang di layar televisi, adalah pernyataan resmi bahwa si Tambun adalah penjahat negara. Jawabannya seperti yang terlihat pada minggu kedua bulan November:

Tiang listrik melengkung, bau asap menusuk hidung. Poster-poster “hitam”, gelap, mata orang-orang beringas: “Harga-harga …?”

“Diego, dia berpidato di depan forum.”

“Ah, tokoh semacam itu kan cuma muka kambing. Biasanya cuma berpose: hari ini kita sesalkan. Demi kesejahteraan. Apa itu?”

“Rakyat bodoh. Itu saja, kalau tak benar patut kita cekik. Dia kita percaya, bukan? Nah, apa lagi. Sebelum situasi bertambah kacau. Ada baiknya kita bantu Diego. Bayangkan, dalam situasi paling terjepit, apa bisa berpikir. Untuk itulah gunanya rakyat. Supaya berani mengambil keputusan. Jadi dapat kita dukung, begitu.”

“Ini dia si India Badak, itu? Mestinya paham. Kita tidak suka cara-cara licik. Bersyukurlah buat Lorenta. Bravo.”

“Diego! Hanya Diego! Kemuliaan ada di tanganmu, berkati kami ya Bapa yang ada di surga. Allahu-Akbar.”

Dan teriakan bermula pada matahari naik sepenggalan langit. Oktober sebagian adalah orkestra ratu adil dari empasan gelombang Sebelas Janji Kemanusiaan. Selebaran-selebaran gelap, gerakan apa yang dinamakan “jahanam terkutuk bawah tanah”, “cacing-cacing”, dan “heroisme babi”, menandai kontroversi dari sapuan tentara di bawah bendera jam malam, menyapu bersih segala jenis kertas najis ketika subuh. Sedang malam hari seperti biasa, kelebat-mengelebat bayangan kembali muncul menyerupai hantu neraka membuat teror kementerian pertahanan negara, “Sebelas Janji Kemanusiaan, apa dikira gampang? Bangsat pembusuk tak paham politik!” Saling umpat. Sedang November merupakan melodi pertama raungan sirine yang menghalau ribuan makhluk-makhluk lapar dan beringas; sebagaimana termaktub dalam laporan Jenderal Bedewi, tertanggal 10 November di hadapan yang mulia Jongos Amaranti Toilet:

“Jadi benar katamu jongos? Rakyat semakin beringas dan mengancam. Fuh! Sungguh aku tak mengharapkan semuanya. Aku menyesal, paham? Dengar, Diego, Tambun Diego menolak keinginan Dewan Perumus Kebenaran!”

“Sungguh tak masuk akal.”

“Diego tak pernah menginginkan jadi pemimpin.”

“Tapi kau berpidato untuk mereka.”

“Seorang wiraswasta sejati lebih tahu bagaimana merebut hati publik. Strategi. Lewat figur, lewat pidato, lewat tulisan, dan juga … amal. Wajar dan manusiawi. Tapi Dewan Perumus Kebenaran. Apa yang aku ketahui tentang itu?”

“Dewan Perumus Kebenaran lebih tahu apa yang tidak kau ketahui. Hanya Diego, ya, hanya dia yang punya karisma sebagai pemimpin besar. Bung Sejati. Dan aku pun yakin itu.”

“Ck-ck-ck, mukamu sungguh nyaris keparat. Apa perlu kugampar sebelum kau minggat sendiri dari kamarku? Enyahlah babi!”

Dinding kamar jadi apak berjebol-jebol lagi karena Diego Tambun punya hati rusak. Perjalanan spiritualitas kopong menembus dinding jendela, merusak keindahan daun-daun cemara, rumput jepang, air mancur-mancur; dan segalanya tentang segala macam pabrik, toko, pub, mesin huler, wanita-wanita, hingga kapal keruk atau pabrik batu dan Sundari menari-nari karena minggat entah bagaimana nasibnya. Ya nabi salam alaika, nantikan aku di pintu neraka! “Darmiiiin …!!”

“I love you daddy! Sungguh pagi yang cerah. Malaikat apa gerangan yang menuntunmu untuk memanggil hamba yang sebetulnya seteru semenjak kecil hingga muncul berewok-berewok dan menirumu bertingkah laku seperti gigolo?”

“Kucing alas. Itu karena kau belum dapat kupercaya!”

“Bahkan dengan nilai akuntansi sepuluh?”

“Kau bayar untuk semua kegombalan itu. Itulah yang tak pernah kupahami hingga nyaris pikun. Jika saja orang tahu betapa sengsara punya anak tolol.”

“Dewan Perumus Kebenaran yang dapat menentukan siapa yang paling tolol di antara kita.”

“Justru itulah ….” Tambun Diego berhenti mendadak. “Jadi kau setuju, anakku?”

“Well, manisnya. Lama aku merindukan kata itu. Jelas dan tegas. Oke. Dan Diego tidak usah takut menjadi miskin karena Darmin tak akan lagi menuntut hak untuk mengelola semua tahi milikmu.”

“Kau ….”

“Longgar sedikit ngapain sih?”

“Ya Tuhan, pergilah sebelum segalanya menjadi terlambat, anakku.”

“Hebat! Kau memang licik, ‘anakku’, well, kau sajalah yang minggat. Ke neraka!”

“YANG JELAS BUKAN OTAK SAPI!” BEGITULAH Mantan Gubernur Tengleng mengisap cerutu, menatap licik dengan kebijaksanaan terhormat. Jenderal Toing mengusap-usap paha kursi karena punya imajinasi yang kuat, lantas batuk barangkali sudah terlalu lama dicurigai mengidap TBC, “Nona Cichipok, masih ingusan sekali. Berapa umurnya?”

“Enam belas!” Amaranti Toilet gelisah. “Maafkan.”

“Bisa kau panggil anakmu, Diego?”

“Biarkan ia bebas, Jenderal. Aku sudah tak mampu mengelak.”

“Bagus!” Jenderal Toing meledak. Mantan Gubernur Tengleng berongklang-ongklang. Empat puluh Calon Kabinet, dua belas Bakal Menteri, tiga puluh satu perwira dengan pangkat paling tinggi apa yang dinamakan Brigadir Jenderal Lokal, semuanya berongklang-ongklang, “Artinya kita sudah begitu menyadari pentingnya kebijaksanaan Dewan Perumus Kebenaran. Bersulanglah untuk keabadian, Diego!” Asap-asap mulut yang mulia lantas bersebul-sebul membentuk kesaksian palsu. Gelas berdenting, piring berketengtong: Gubernur Tengkleng, Jenderal Toing, Mantan Kepala Kabinet Sebelas Menteri Darji, dan lain sebagainya dengan nama asal jadi sama-sama terbahak demi melihat panggang anak babi diusung Maniot pembantu bermata picek tapi berguna; Bormaling, dan Ibu-ibuan Trusmeneng berkerah rendah sehingga sebagian dadanya kelihatan, “Silakan, Tuan Yang Mulia. Silakan, lihat ini. Panggang anak babi,” membungkuk pamer. 

“Hem, peot.”

“Apanya yang peot, Tengleng?”

Meriah. Semuanya berkenan minum arak. Sungguh keparat karena Amaranti Toiletlah yang paling merasa tak tenteram. Ia telah gagal membujuk Nona Cichipok dan Diego. Lebih kiamat lagi, Dewan tak memberi tepukan pundak seperti biasanya. Tentu tak ada lagi kisah kepahlawanan. Tapi mudah-mudahan ia masih bisa jadi Menteri Kebudayaan, Toilet merasa lebih cocok ketimbang Gubernur. Makanya tiba-tiba ia meledak ketawa demi menunjukkan harga diri: “Ha-ha-ha-ha!”

“Prajurit!”

O-la-la. Kepala Toilet meletup kaget dan amat tiba-tba: “Glar!” mencelat. Maklum tak menyangka. Dua setengah detik geliat matanya masih melintas tak percaya karena ia toh telah berjasa untuk Darmin yang kini terkapar sekarat di meja bedah: Ya maling, betul-betul bukan sandiwara! Otaknya melompat manis di lampu gantung, di dinding, di karpet, di piring makan, di muka Diego yang melongo. Kenapa? Dan Toilet percaya bahwa ia kini mati. Sungguh menyesal andaikan kemarin ia perkosa saja Nona Cichipok, barangkali tidak serugi ini …. Mantan Gubernur Tengleng mengangguk mengambil tisu, mengelap bacot, dan nungging mencongkel tusuk gigi kemudian sendawa. Persoalan pertama Toilet jangan ketawa ketika ia tengah tersinggung. Persoalan kedua sekaligus mendidik Diego supaya tidak bloon, “Tak apa. Maksudku panggang babi itu kurang gemuk! O ya, bagaimana kabar perbatasan?”

Upacara makan yang rusak. “Bajingan kecu,” yang ditanya melirik. Mayor Kurap pun melirik, membungkuk dengan kemiringan diperhitungkan manis. “Sebagai orang-orang yang bersih, di samping kecermatan, ketegasan juga perlu. Hanya tinggal menunggu kabar dari divisi komunikasi dan radio. Sedang untuk satelit, semoga Tuhan memberkati itikad baik Insinyur Soleh yang membelot karena semua anaknya tak bisa bekerja tanpa suap.” Kaku.

Lagu kebangsaan. Bangkai Toilet dalam posisi ketawa nanggung tak selesai. Dan hadirin berdiri: “… demi para fundamentalis yang lelah berebut kedudukan tapi tak pernah menang: kiai-kiai, para guru ….” Khidmat. Bayangkan para jenderal, para menteri, para insinyur-cendekiawan-mahasiswa-tukang becak-politikus menabrak jauh di awung-awung. Kota, desa, wilayah-wilayah sekarat karena provokasi: rakyat! Pidato Diego tak pernah melempem masuk dalam otak-otak. Betapa hidup. Barisan partai setelah dikutuk pemerintah sebagai “heroisme babi” menelusup ke tulang sumsum lantaran Jenderal Toing dan Mantan Gubernur Tengleng berkenan menjadi nabi asli, menyampaikan risalah Diego, dengan teks sungguh-sungguh semacam kejujuran yang sudah pasti membuat Diego sendiri kagum: “Demi setan iblis, aku tak pernah merumuskannya!”

RATU ADIL TERSENYUM-SENYUM MENGANGKANGI di langit jutaan harapan. Dalam kepulan debu kempal-hitam menggelepok tahi raksasa karena hidup tak pernah menjumpai titik terminal. Seperti Sishypus. Barangkali Tuhan di kursi ketawa ngakak. Tak peduli. Angin menerbangkan kerikil, menjadi debu, melentik mata menjadi gelap. Gatal. Panas dalam ledakan rasa. Jika makan tempe tak cukup, maka mesti ganti daging. Jika mobil butut Fiat 2000- tak lagi berkenan, kenapa tidak BMW? Tuhan melimpahkan alam buat diurus manusia. Manusia mengurus dirinya sendiri: pakaian, makanan, rumah, istri, dan anak-anak. Boleh jadi orang berteriak-pekak: harga naik tak mau tahu. Mahasiswa-mahasiswa, guru sekolah, pegawai rendahan, peladang dan petani, tukang ijon, pegawai negeri—rakyat. Sedang orang Islam punya cara sendiri untuk berzikir: Imam Mahdi bakal turun. Hem, nyam-nyam … mengunyah Sugus nikmat saja. Gampang. Ideologi dan politik? Mana tahu. Urusan diri sendiri tak mesti tercubit, kenapa, “Mereka mengurus kita! Jika tak becus, mundur tak mau disuruh dipaksa!” O-la-la, alangkah indah menyanyi di kamar mandi. Tentara, ekonomi, perbatasan, lapangan kerja, teknologi, budaya, kosmopolit gue punya ras—di atas kertas saja sudah pusing setengah mati. Mana hamparan tanah begitu luas. Penduduk meledak seratus kali lipat pada tahun 3000. Berkembang biaklah! Dalam hitungan matematis tercipta dari mana beras, gandum, sagu, air bersih, jaminan rasa aman, solidaritas-kemerdekaan-hidup nyaman-ongklang-ongklang. Bah! Setingkat Menteri Lingkungan saja sudah botak alang kepalang, apalagi Presiden?

“Babi! Jika kau menolak dibedah otak menjadi otak petani, kepalamu dijamin meledak, paham? Cichipok rentan buat diperkosa di depan matamu, kau tahu pasti, Diego! Jahanam. Provokasi dan pidato tak perlu kau urus. Tinggal tersenyum. Rakyat perlu mitos, maka kuciptakan dajal buat imbangan kepastian bahwa mitos itu ada. A-d-a. Perang perlu untuk menciptakan hero. H-e-r-o. Ha-ha-ha, alangkah tolol mereka. Dan akan lebih tolol kita yang percaya untuk tidak merombak sistem. Kekacauan. Penduduk perlu dibabat sebagian agar sebagian lain bisa hidup. H-i-d-u-p. Engkaulah pahlawan, Diego. Demi Tuhan! Menangislah. Karena jika tidak demikian, bumi ini sebagian besar akan kiamat. Tuhan marah, Diego!”

Diego meneropong kosong. Darmin menggelipuk meringkuk. Cichipok seronok menjegal bahwa ia ayah yang gagal. Sundari minggat. Ambyar. Semua mosaik lesu menjeblug dalam otak pegal, “Diego perkasa!” Getar-getar yang pasti sungguh pilu karena ia tak mampu menolak takdir, ketika sang Kreator membeberkan rencana kotor di balik kejayaan Diego sebagai malaikat di mata rakyat. Jenderal Toing. Gubernur Tengleng. Barisan calon menteri. Serdadu …. “Bodoh! Engkaulah tolol, Diego!! Lihat ….”

“Baiklah, Jenderal. Tapi katakan, kenapa mesti petani?” Diego memercik. Berkeringat.

“Darmin! Katakan, apa pendapatmu tentang itu ….”

“Hukum kepastian. Roda ekonomi berjalan di atas segalanya. Politik mesti menguasai setiap lekuk jangkah jarak untuk menciptakan keseimbangan sistem: di atas itu adalah keamanan. Di atas itu, setingkat lebih tinggi adalah kepercayaan. Ekonomi yang baik, selalu dapat menciptakan tentara baik. Untuk itu tercipta hukum yang baik. Kenapa setiap gerakan yang mengatasnamakan rakyat selalu gagal dalam realitas. Karena, selalu, ia memiliki dualisme setengah-setengah antara ideologi dan kepentingan untuk kesempurnaan dirinya. Sedang ia diciptakan untuk kerja tidak main-main: dari kemakmuran hingga kehancuran. Pertama, seorang pemimpin harus memiliki nafsu yang tuntas. Dan ia akan percaya, di balik itu tersimpan sebuah konsep keabadian, dan ia percaya, itu membuatnya cerdas untuk memandang setiap perombakan menjadi bagian dari dirinya sendiri. Semacam, pahlawan, Diego! Kedua, kegagalan terletak pada pencampuradukkan antara konsep kepentingan ‘penyempurnaan pribadi’ dan rakyat sebagai objek. Tak ada indikasi yang membuktikan ‘kesempurnaan pribadi’, bagi seorang figur pemimpin, terkecuali jika kau sudah merasa rela mati untuk semua apa yang dimiliki. Sedang setolol apa pun rakyat memandang perilaku lahir sebagai suatu hal yang buruk. Kediktatoran ‘nampaknya’ adalah racun yang mematikan sistem. Tapi, itu ‘nampaknya’ saja tidak boleh terjadi, Diego …. Jadi, kalau kau memang tak setuju dengan cara ini, buatlah jaringan otakmu sesederhana mungkin.”

“Percayakan bahwa itu anakmu?”

“Secerdas itu,” Gubernur Toing terbahak. “Untuk itulah, betapa berarti sebuah Dewan. Dewan Kebenaran. Sebelas janji kemanusiaan harus menjadi mitos untuk membersatukan pandangan. Teori Machiavelli boleh jadi bukan omong kosong, tapi teori jadah itu tak berlaku benar di sini. Konsep psikologis meletakkan dada di satu sisi, dan otak di lain sisi. Itulah Timur, Diego! Tentang kebenaran adalah sejauh mana orang bisa menanam bahwa itu kebenaran. Lima puluh tahun, … bukan waktu yang panjang untuk menggiring keyakinan rakyat, di balik kekacauan akan lahir seorang nabi. Bravo, Diego. Pangeran dari Negeri Timur, mereka bilang. Ajaib! Begitulah memang semestinya merawat seorang figur. Duduklah di gunung … dengan kesederhanaan. Kau tinggal tersenyum penuh kemuliaan. Sementara segala tek-tek bengek jadah keparat kotor, biarlah Dewan yang ngurus. Satu saat, mereka akan mengutuk, bukan mengutuk kau. Tapi aku: a-k-u. Tenanglah. Dan mereka berbondong-bondong mengadu, pada kamu: k-a-m-u. Kau aman. Dewan lantas mengatur strategi penangkapan: Gubernur Tengleng, Jenderal Toing, Menteri-menteri itu … ha-ha-ha! Teknologi kedokteran merombak wajah sepersekian menit dengan kesempurnaan Tuhan. Jadi sabar, slow. Dewan Kebenaran memang perkasa. Selalu benar; ketika kuputuskan kau jadi petani. Otak pintar semacam kau, meski karisma politik kau gunakan untuk berdagang, akan menjadi racun ketika tahu betapa enaknya berkuasa. Rakyat bodoh, memang harus dibikin sadar. Siapa bilang mengurus negara itu gampang?”

“Di mata mereka, kau telanjur mulia, Diego. Sejenis karisma. Hem ….”

“Keramat! Percaya, deh. He-he-he.”

“Apakah itu betapa mungkin?”

Dan teori kekuasaan harus menciptakan setiap sistem berubah. Jika itu memang semacam keseimbangan. Ratu adil mengangkangi langit, menaungi segelepok tahi hingga Diego tersedak. Demi keabadian. Pangeran dari Timur. Sundari … duh, Sundari. Sisyphus berputar. Cichipok hanyalah sejentil kenangan tentang anak yang manis. Dari jendela yang terbuka, panas merajam hamparan bukit-bukit kerdil sejenis neraka yang jahat: “I love you daddy! Bersiaplah untuk sebuah kongres terbesar abad ini. Pasukan pemerintah akan datang dan tentara kita sudah berada di perbatasan. Rakyat nyaris mampu memilih, antara kematian, atau harapan seluas nafsu surga firdaus. Apakah kau sudah minum kopi, Daddy!”

Yogyakarta, 1994-1995

Catatan:
1. Avartara: penjelmaan Tuhan pada saat timbul kekacauan (krisis manusia dalam simbol Pandawa dan Kurawa). Di dalam konsep Bhagavad-Gita, penjelmaan Tuhan adalah Krisna, yakni Tuhan yang berpribadi.
2. Dikutip dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad (Grafiti Press, 1993), yakni terjemahan The Ballad of John and Yoko karya John Lennon.

Joni Ariadinata lahir di Dusun Majapahit, Majalengka, 23 Juni 1966. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media massa, di antaranya di Matra, Horison, dan Jurnal Kebudayaan Kalam. Pada 1994, cerpennya “Lampor” mendapat penghargaan cerpen terbaik pilihan Kompas. Di samping dalam antologi Lampor (Kompas, 1994), cerpennya juga dimuat dalam antologi Guru Tarno (Bernas, 1995). (Matra, Januari 1996)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joni Ariadinata
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Januari 1996

0 Response to "Avartara"