Puisi Mardi Luhung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Puisi Mardi Luhung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:55 Rating: 4,5

Puisi Mardi Luhung

(1) 
Sebenarnya kau telah selesai. Tapi, karena ada celah yang mampu 
membuatmu berputar, kau pun kembali berputar. Dan kembali pula
berlagak damai dengan dengan yang akan menghitungi ulahmu. Dan gelembung 
sabun yang kau tiup, pun seperti permainan aneh abgi yang tak
mengenal sulap dan tipuan-duga. Tapi, kenapa kau masih merasa,
nilai-tambah begitu dekat denganmu. Sedang yang lain, cuma sendirian
seperti pengembara yang hilang-arah. Lewat langkahmu yang itu-itu
juga, kau tetap menyoalkan suara yang lebih dekat pada bunyi lojoran-
aluminium yang digesekkan dip agar besi. Bunyi lojoran aluminium 
yang membuat kaget seekor anjing. Sampai melompat ke pekarangan
yang membuat kaget seekor anjing. Sampai melompat ke pekarangan.
Terus lenyap di sebelah gardu. Gardu yang semalam ribut oleh racauan 
seorang penyamar. Racauan yang artinya kurang lebih seperti ini: ”Yang
dihapus ingin menuntut. Yang menghapus berlagak tuli. Sedang, 
yang tak keduanya, menunggu kesempatan untuk menyelinap diam-diam.”

(2)
Dua kali aku menemuimu. Dua kali pula aku pulang dengan hati hampa.
Dunia yang aku bayangkan penuh perahu, ombak, dan camar: ”Sirna.“
Dan hikayat seseorang yang pergi ke seberang hanya dengan satu 
lompatan: ”Mengabus.“ Lalu lewat mimpi yang aku pelik di dalam tidur,
aku memasuki laut. segala macam yang hidup, yang bergerak dengan
ekor, atau beringsut dengan sirip dan perut: ”Menyambut.“ Aku seperti
tamu jauh yang telah ditunggu sejak lama. Lalu, kenapa kau tetap tak 
menampakkan diri? Tiga ekor duyung pun mendekat. Dan bersamaan
berkata: ”Jangan pernah mencari pada yang tak mau dicari.“ Dan aku
tercekat. Merasa, apa yang ada di dalam hatiku untukmu melambar.
Seperti melambarnya bau tubuhmu ketika musim rontok tiba. Dan ketika
setiap pepohonan menjadi gundul, gundul, dan gundul. Pepohonan yang
begitu jauh dari akta semi dan rimbun. Pepohonan yang ketika saatnya 
tiba, pun mendengungkan namamu. Dengung yang melekat di gendang
telingaku yang diam-diam melantur di dalam tidur.

(3)
Aku tahu, kau kembali mengambil milikku. Milikku yang telah aku 
tumbuhkan dengan kesabaran. Milikku yang kau anggap begitu tak
penting. Dan begitu membuatmu tega menukas: ”jika itu yang aku
lakukan, kau mau apa.“ Aku juga tahu (setelah kembali mengambil 
milikku), kau pergi ke restoran. Restoran tempat dulu ayah dan ibumu
memainkan sendok dan garpu di piring-lebar penuh makanan. Makanan
yang melimpah. Makanan yang meruah. Seperti memainkan napasmu
yang kadang memberat, dan kadang meringan. Napasmu yang membuat
hujan jadi berhenti mendadak. Terus beranjak ke balik bukit. Hanya ingin
menyapa seekor kumbang. Kumbang yang pernah kau sebut sebagai
yang tak meminta, juga tak membersi. Dan aku, aku, juga tahu, setelah 
semuanya lupa (tapi aku tak lupa), kau mengirimkan pinta: ‘”Hai, ayo
makan siang.“ Dan aku menjawab: ”Maaf, aku sedang menumbuhkan 
milikku yang lain. Yang nanti mungkin akan kau ambil juga.“

(4)
Kau memasuki tubuh remaja. Membangun ruang di kedalamannya. Sesekali
Bergumam dan berkata tentang si yang datang dan pergi. Yang kerap
Dipanggil si lewat. Si lewat yang suka menyapa langit. Langit yang bertabur
celah. Celah pada kerahasiaan yang terbentang. Kau, memang selalu begitu.
Tak percaya pada sentuhan halus. Menganggap semua tata laku adalah
siasat yang dipertajam. Siasat yang selalu kau siulkan dalam tubuh 
remaja. Seperti siulan si pawang pada ular yang tak sempat dijinakkan. Ular
yang gemar menjagai bekas gigitannya. Yang jika ditulis akan menjadi
kitab aneh. Kitab yang bersampul warna ungu. Warna yang jika disurukkan
ke kolong lemari akan bergetar. Dan menggetarkan apa saja yang ada di 
dekatnya. Kau, meski malam terus berganti, ingin saja menambah sehari,
dan sehari lagi di tubuh remaja. Terus merasa, jika tugasmu masih banyak.
Dan itu hanya bisa kau tuntaskan sendiri. Sambil mengendus, menuding,
dan menolaki nasehat lubang kunci: ”Siapa yang memasuki siapa, pasti
segera terhapus.“

(5)
Pesan ini sebenarnya untukmu. Tapi karena telah kau bocorkan ke sekian
telinga, maka tak ada lagi pesan. Semuanya bocor. Dan semuanya jadi
tergeletak. Seperti tergeletaknya botol-botol di dasar sumur. Botol-botol yang 
pernah diisi sekian macam pil. Pil milik si juragan, yang ketika di hari ulang
tahunnya, pernah dirayakan dengan nyanyian dan tarian. Juga sodoran teka-
teki: ”Apa yang lebih utama dari diri? Dan apa yang lebih mahal dari harga?“
Lalu, kucingku, yang juga sebenarnya aku titipkan untukmu, mengapa kini kau
siakan, dan malah dipeluk di kawan yang jalannya doyong itu. Di alun-alun,
aku sempat melihatmu berdiri di sebelah air-mancur. Dan itu membuat aku
membayangkanmu sebagai si putri yang menunggu datangnya si pangeran.
Tapi, sayang, ketika si pangeran datang, justru terkutuk jadi arca. Arca yang
dihiaskan di sebelah gapura. Seperti hiasan sepasang angsa pada tabir 
bulan yang dipaksa puber. Bulan yang kata si pendesis: ”Penuh warna merah
dari robekan-robekan kelopak mawar.“ Kini, sebelum habis sisa waktu, aku 
telah meletus sekian, dan sekian merjan embun, yang ingin aku untai.“

(Gresik, 2016)


Mardi Luhung lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Lulus dari Jueusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Buku puisi mutakhir adalah Teras Mardi (2015). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 2-3 Juli 2016


0 Response to "Puisi Mardi Luhung"