Bandit Cantik ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 23 Agustus 2016

Bandit Cantik


AULA sudah ramai. Malam ini Malam Keakraban Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2016/2017 Universitas Warga Negara. Wajah-wajah ceria emmenuhi aula. Dandanan mereka beragam, sesuai sepera masing-masing. Tema pesta malam ini adalah ekspresi bebas.

Miranti berkeliling ruangan, siapa tahu ia bertemu seseoarang dari kampungnya, atau kenalan lama. Tetapi mustahil rasanya. Mungkin Miranti satu-satunya mahasiswa dari kampung yang kuliah di kampus bonafid itu.

Miranti masih berjalan mengelilingi aula dan pada satu titik langkahnya terhenti, ketika ia merasakan sebuah tepukan di bahunya. Miranti menoleh dan melihat seorang gadis berambut panjang, berkulit putih bersih dan memakai gaun merah tersenyum padanya.

"MIranti Ayunda, kan?" gadis berambut panjang itu bertanya.

Miranti memandang gadis itu penuh takjub. Miranti seperti berhadapan dengan boneka Barbie dan itu membuatnya terpana beberapa saat.

"Ya," sahut Miranti menjawab pertanyaan gadis itu.

"Kamu nggak kenal aku?" tanya gadis itu.

"Siapa, ya?"

"Sungai, berkelahi, bule..." Miranti terhenyak.

"Bandit cilik!" seru Miranti.

Mereka berpelukan.

"Benarkah kamu Bandit Cilik? Mana rambut pendekmu?" tanya Miranti.

Tentu saja Miranti tiada mengenal Kiki, saat pertama berjumpa. Miranti masih saja tidak percaya dengan apa yang ia lihat malam ini. Tetapi Miranti yakin di balik keanggunan Kiki malam ini tersimmpan jurus-jurus beladiri.

***
WAKTU  itu Miranti masih kelas 5 SD ketika berkarib dengan Kiki Kinasih. Sebetulnya, Kiki itu kakak kelas, namun menjelang ujian ia sakit tifus, sehingga terpaksa mengulang kelas. Rambut Kiki selalu pendek, sepanjang Miranti mengenalnya. Kulitnya putih bersih sehingga tampak bercahaya. Kiki itu anak Kapolsek.

Kiki seorang pemberani, sejauh Miranti mengenalnya. Ia akan melawan siapa pun yang mengganggu, sekalipun pada anak lelaki. Ia pernah berpesan pada Miranti. "Bila ada yang ganggu kamu, bilang padaku, Mir."

Suatu hari, seorang anak lelaki mencolek pipi Miranti. Sementara teman-temannya tertawa. "Awas, aku bilang sama Kiki nanti!" kata Miranti mengancam, meski ia tiada eprnah melaksanakan ancaman itu.

Tetapi kemudian Miranti mendengar bahwa Kiki telah emmbanting anak lelaki itu! Pak Handoyo menghukum Kiki; mengurungnya dalam ruang kelas, tiada mengizinkannya pulang.

Miranti dan beberapa teman mengintip dari sela-sela pintu, ada pula yang emmanjat jendela; hukuman apa yang diterima Kiki? Miranti melihat Pak Handoyo duduk di kursi guru sedang membaca buku, sementara Kiki duduk tegak di bangku deret terdepan.

Tiada lama kemudian Miranti melihat ayah Kiki datang dengan pakaian seragam polisi. Miranti dan beberapa teman yang sedang mengintip di depan pintu, berhamburan menyingkir. Tetapi, ketika ayah Kiki telah masuk ke ruangan kelas, Miranti dan kawan-kawan kembali mengintip.

Miranti melihat ayah Kiki mengangguk-angguk saat berbicara dengan Pak Handoyo, lalu saling berjabat tangan.

Hari itu Miranti tiada bisa bermain dengan Kiki sepulang sekolah. Miranti lama menunggu di pos ronda di ujunng kampung, tetapi Kiki tiada datang. Mungkin ayah Kiki juga menghukumnya.

Esoknya, Miranti bertanya mengapa Kiki membanting anak lelaki itu, kemarin?

"Aku nggak tahu. Aku hanya mengingat gerakan yang diajarkan ayah," jelas Kiki.

Miranti ingat, Kiki pernah bercerita bila ayahnya  mengajari beberapa teknik beladiri. Tiada banyak, hanya teknik tangkisan, kuncian, dan bantingan. Konon, pada saatnya nanti ayah Kiki akan mengajarinya ilmu beladiri secara utuh.

Miranti dan Kiki tiada membahas lagi insiden itu. Masih banyak hari yang akan mereka lalui dengan bermain; menjelajah tempat-tempat menarik yang belum pernah mereka singgahi, dan bertemu teman-teman baru.

Setiap kali mereka memasuki kampung-kampung, selalu banyak orang memandang heran pada Kiki. Tentulah orang-orang itu penasaran melihat "bule" di kampung mereka. Jarang sekali ada gadis di kampung berkulit putih bersih, hidung mancung, dan berambut pendek.

Suatu hari, Miranti dan Kiki dicegat oleh Wito, anak lelaki yang pernah mencolek pipi Miranti. Wito dan dua temannya berdiri berkacak pinggang menghadang Miranti dan Kiki.

Miranti berlindung di belakang tubuh Kiki. Sementara Kiki tenang-tenang saja dan berkata pada para penghadang: "Kalian akan mengeroyokku? Boleh!"

Kiki menyuruh Miranti menyingkir.

Mereka berkelahi. Kiki menangkis serangan tiga lawannya yang menyerang bersama-sama. Kiki hanya menangkis, tiada kesempatan menyerang balik. Kiki terdesak. Miranti cemas.

"Hei, jangan main keroyokan kalau berani!" Miranti berseru.

Wito dan dua temannya menoleh pada Miranti. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Kiki untuk menyergap Wito dan menjatuhkannya ke tanah. Wito meringis kesakitan, ia terkunci. Dua teman Wito hendak maju menyerang.

"Jangan mendekat, atau kupatahkan tangan Wito!" Kiki berseru.

Dua anak lelaki itu menurut. Perlahan mereka menyurutkan langkah ke belakang. PAda Wito, berkatalah Kiki: "Berani kamu ganggu kami lagi, aku laporkan kamu ek ayahku. Biar kamu masuk penjara!"

Wito ketakutan dan berjanji tiada mengganggu lagi. Skor 2-0 untuk Kiki.

Setelah tiga anak lelaki itu pergi, Miranti bertanya pada Kiki: "Sungguh, kamu akan laporkan mereka ke ayahmu?"

Kiki menggeleng.

"Aku nggak suka mengadu," kata Kiki tegas.

Miranti sering berpikir, bahwa Kiki dapat bergerak lincah termasuk saat berkelahi, karena ia selalu mengenakan celana pendek, bukan mengenakan rok panjang seperti Miranti. Mungkin Miranti bisa menirunya.

Ketika Miranti memita izin pada ibu untuk memakai celana pendek saat bermain, ia mendapatkan jawaban: "Anak perempuan jangan pakai celana pendek. Ora ilok," kata ibu.

Miranti memaksa dan mengeluarkan senjata pamungkas: menangis!

"Ini pasti karena kamu selalu bergaul dengan Bandit Cilik itu," kata ibu, namun akhirnya meluluskan permintaan Miranti.

Ibu menyebut orang yang suka berkelahi sebagai bandit. Orang yang suka berkelahi di pasar dipanggilnya Bandit Pasar, berkelahi di terminal sebagai Bandit terminal, dan ibu menyebut Kiki sebagai Bandit Cilik.

MIranti masih ingat, suatu sore ketika pulang dari berenang di sungai, Kiki berwajah sendu.

"Aku akan pindah," katanya.

Miranti mengerti, sebagai anak abdi negara, Kiki harus siap berpindah-pindah mengikuti tugas ayahnya.

MIranti dan Kiki berpelukan dalam tangis menjelang perpisahan. Tetapi, dunia memang harus terus berputar.

***
Malam ini, mereka bertemu dalam pesta mahasiswa baru, di aula kampus.

"Mana rambut panjangmu?" tanya Kiki mengamati rambut Miranti.

Tentu saja penampilan Miranti malam ini sangat mengejutkan bagi yang pernah mengenalnya di masa silam. Malam ini Miranti mengenakan celana jins, kemeja kotak-kotak, speatu boot, dan rambut pendek seperti lelaki.

Mereka seperti bertukar penampilan. Miranti menjelma maskulin, Kiki menjelma feminin. MIranti bercerita bahwa, sejak mereka berpisah, sosok Kiki merasuk dalam dirinya.

"Bagaimana denganmu, Bandit Cilik?" tanya Miranti.

"Ada hal di dunia ini yang nggak bisa dimengerti secara sederhana, Mir," sahut Kiki tersenyum.

Di panggung, seorang pemuda berdiri di depan mikrofon dan berbicara, bla... bla... bla...

"Dunia memang sempit, Mir," kata Kiki

"Dan terus berputar," sahut Miranti

Musik menghentak panggung. Tepuk tangan riuh gemuruh. Seorang gadis cantik berdiri di panggung, memegang mikrofon, lalu berteriak lantang.

Yeeaaaahhhh....

Pesta baru saja dimulai. 


Sulistiyo Suparno. Krangkoan RT 004/RW 002 Ngaliyan Limpung Batang 51272 Jawa Tengah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sulistiyo Suparno
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 21 Agustus 2016

Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi