Bandung Caput Mundi - Incognito Rhapsody ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 22 Agustus 2016

Bandung Caput Mundi - Incognito Rhapsody


Bandung Caput Mundi

Kau bisa beranjak pergi untuk mencari
suasana baru yang lebih asri. Aku pun tahu, kau kerap dibuai dongeng
tentang sebuah negeri di dataran tinggi yang melimpah anggur dan blueberry
mungkin, kau bisa mengajak burung-burung untuk bermigrasi
tapi jangan ajak aku,
yang labih gemar menggigit kweni atau ubi

Seumpama daun dan embun kita pun lekas berpisah
kau bertualang bersama orang-orang yang lalu-lalang
sementara aku mulai asing, bagai pulau Socotra yang tak terjamah
kecuali hanya angin seusai kabut petang 
sambut malam dengan nyala remang kunang-kunang

Adakalanya kau adalah malaikat kecil yang baik
kerap mengintip dari celah etalase tukang batu akik
sambil mendesiskan senyum, dengan mata bening yang ranum
demi menghapus lukisan sedih
kau bujuk kebun mawar agar sedap dan harum
hingga wajah musim semi bergetar lirih
meluruh pasir di kaki yang berbaring letih.

Di sana, rumbai angin menyapu debu pada wajah sore yang murung
gesit mengirim awan hitam di sela keramaian alun-alin
lantas kau pun mencoba meraba cuaca
sebelum hijjrah ke negeri berlangit jingga
namun tiada apapun di sana, kecuali gaung suara dari ladang jagung
memanggilmu pilu, rindu hamparan sawah dan barisan gunung

Sejak itu kita tidak lagi bersua
masing-masing mengembara karena naluri cinta
sesekali wajahmu dapat kulihat
melayang di udara
berwarna merah dan coklat
di rembang senja 
Alun-alun Kota Bandung, 29 Mei 2016


Incognito Rhapsody

Seruling bambu melengking lirih ditiup lelaki tua
melantunkan irama sedih dari musik tak bermakna
saat itu terbayang panorama hutan dan gunung
di mana terdengar kicauan merdu kawanan burung

Jalan Braga yang sama
ditimpa cahaya remang lampu kota
kedai kopi robusta dan bangunan tua kosong
di antara lukisan-lukisan alam kampung Jelekong

Kios memorabilia yang murung
blues dan jazz bersahutan dengan angklung
keduanya menyanyikan Halo-halo Bandung
ditingkah bunyi gramofon yang menggema di kejauhan,
dibawa angin penantian seusai menggoda hujan

Entah, siapa di antara mereka keluar sebagai pemenang
setelah beramai-ramai berebut kedudukan
masing-masing gambar dan bunyi akan sumbang
sehingga tiada lagi terdengar, kecuali kesepian
yang murni terpancar
pada sekuntum kembang. 
Braga, Bandung 30 Mei 2016


Gema Fajar pernah meraih penghargaan Puisi Terbaik pada Jakarta International Literary Festuval (JilFest).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gema Fajar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 21 Agustus 2016


Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi