Biografi Tua - Kepulangan - Namaku September - Langkah Kecil - Merawat Pagi yang Hampir Lenyap | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 Agustus 2016

Biografi Tua - Kepulangan - Namaku September - Langkah Kecil - Merawat Pagi yang Hampir Lenyap


Biografi Tua

1/ketika waktu mengoyak usia
mata semakin rabun dan menerka
hijau menjadi biru
abu-abu berubah hitam
puluhan orang mengundurkan diri
menyita sepi

2/sesudah itu, semenjak petang
ventilasi tak lagi melesatkan udara
yang lihai melompat
mengarah bagai peluru
menjadi gaman
bagi rasa lelah di punggung kursi

3/maka, malam hanya menyediakan gelap
dan lelah di buku-buku tua
doa yang tak ingin berlalu
dari tilam dan kenangan tuhan

ruang semesta, Agustus 2016

Kepulangan

1/hanya ada harapan tentang suasana ke-
Reta api
ke arah jendela ada wajah ibu
yang tak pernah menihilkan restu

2/suaranya meletup-letup di ruang ingatan
nasihat-nasihat tumpah seperti alir air
mendenyutkan cinta beranak bahagia

3/selagi impian menggelinjang
tak perlu ada ketakutan
di dalam bibir yang malang

ruang semesta, Agustus 2016

Namaku September

1/aku adalah lagu
yang katanya ceria dan mudah tertawa

2/sepasang kekasih meninggalkan bekas ci-
uman
di tembok-tembok dan langit yang me-
merah
beginikah petang
yang jatuh cinta

3/saat pagi
para burung sarapan bersama
di genting yang meninggalkan
suara asmara

4/namaku september
yang dilewati gemercik dan kuyup
para nelayan menerjang badai
dan air asin yang merangkap keringa

5/lebih dekat
kenalilah aku
yang memiliki pesta pernikahan
mendaur manis buah mangga
pada panen pertama

ruang semesta, Agustus 2016


Langkah Kecil

1/katanya pagi selalu memikirkan
segala syukur dari cinta-Nya
mengalirkah embun-embun
di antara daun-daun yang berdenyut

2/di taman belakang
sepasang burung menjangkau jendela
mengintip seseorang dengan
buku yang masih dibaca
di tempatnya berada
terkenanglah air mata
sekaligus kebahagiaan yang pernah di ta-
bung

3/kemarin adalah syarat hari ini
dan esok merupakan sketsa wajah
yang menunggang kelegaan
atau penyesalan

4/mata-mata telah bersaksi
biarlah berpijar
menjadi sumbu lampu kehidupan

ruang semesta, Agustus 2016


Merawat Pagi yang Hampir Lenyap

1/pagi ini tak ada dingin
teh, kopi. atau segala hal yang mengingat-
kanmu
ke mana larinya kabut-kabut
yang menipis setiap hari

2/beginikah jejalan sepi
yang tanpa derap langkah anak-anak seko-
lah
segalanya berlari menggunakan mesin
bahkan menghilang
sebelum memakai kaus kaki

3/gorden-gorden taklagi memiliki pemilik
hingga berkaratlah segala tiang besi
cahaya malah bersembunyi
tidur terlalu lelap
atau mimpi yang terlampau egois

4/tanganku masih menyelidiki
sisa debu di ujung sapu
membangunkan lantai-lantai
dari ketakutan

ruang semesta, Agustus 2016


Julia Hartini, lahir di Bandung, 19 Juli 1992. Alumnus Universita Pendidikan Indonesia (UPI). Tulisan-tulisannya tergabung dalam beberapa antologi bersama. Saat ini mengelola blog pribadi di www.akujulia.tumblr.com agar karta yang lahir bisa diapresiasi pembaca. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Julia Hartini
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu, 28 Agustus 2016
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi