Catatan Sel 12 - Rumah Gunung - Cinta - Bunga Liar dan Burung-Burung - Lidah Mati ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 22 Agustus 2016

Catatan Sel 12 - Rumah Gunung - Cinta - Bunga Liar dan Burung-Burung - Lidah Mati


Catatan Sel 12

Sel nomor 12 mencatat nama
seorang penyair perempuan
yang menembak burung kenari
di taman kebunnya
sendiri

Ia menjadi legenda bagi para pembunuh
bertangan hitam yang selalu mengasah pisaunya
diam-diam.
Mereka menuliskannya
di catatan harian,
pada tembok dingin
jeruji penjara.

Tembok dingin
yang mencatat
perih
kesakitan.

Tembok dingin
yang menuliskan
dendam luka
kegelapan.

”Pagi itu bunga matahari baru saja mekar sempurna.
Dalam sisa embun cahaya, seekor kenari kesayangan
Mengajak penyair bercanda. Kenari kesayangan
di kebun bunga, yang senantiasa hinggap
di pagar-pagar
rumah kita.“

Mari dengar nyanyi nada seruni, katanya. Sayapku
peri kecil riang menari, menghalau sunyi dari diri.
Kita pindahkan harum angin
dari ranting berduri. Memandang semesta, mengirim kata
untuk tumbuh bunga-bunga.

Tapi penyair yang hanya memandang kecantikan diri,
tak akan pernah bisa menulis cinta. Ia memandang hina
kepada cela. Lalu menulis dusta
di atas kata-kata.

Penyair yang tak sanggup mencatat semesta
lewat matanya yang buta, hanya bisa mencatat murka
di atas kata-kata,
yang menyalakan api tubuhnya
di dasar neraka.

Ia mengambil senapan,
dan menembak kepala
burung kenari
tepat di matanya.“

Para perampok menuliskan kisahnya di tembok.
Para pencuri,
pembunuh,
penipu, pendusta,
dan pemerkosa:
menjadikannya
legenda.

Mereka gentar pada kata-kata lembut
para pendusta. Mereka takut pada mata cantik
yang membuat dunia binasa.

Mereka menuliskannya
di catatan harian,
pada tembok dingin
jeruji penjara.

“Penyair yang menembak burung
dengan kata-kata, adalah pembunuh dingin
yang menggetarkan Tuhan
di ketinggian.”

(Jakarta, 2015- 2016)

Rumah Gunung

Ada rumah tepi kali, dimukim angin
semua musim. Tempat pohonan berdahan perdu
mencium burung dan kupu-kupu.

Undakan kayu menyusun rindu. Dari pintu
menuju diri. Bercermin muka ke riak kali,
membasuh pipi
basah di hati.

Wajah melati setiap hari. Harum di pohon
lengan bidadari. Sawah membentang di kejauhan,
para petani
memuji matahari.

Wahai batu di antara sunyi,
dengarlah langkah cemburu
jejak pemburu
yang terus menunggu.

Batu sungai batu kali
di rimbun daun.
Tuhan peduli.

(Jakarta 2016)

Cinta

Jika ada kabar buruk
yang dihembuskan para pengecut,
melewati mulut lelaki buta dan lidah
perempuan cacat:
maka segeralah pergi
menuju laut.

Keluasan samudera
melenyapkan jarak pandangmu
 pada sempit batu
tempatmu berdiri. Angin gunung
yang sempat menggugurkan putik
di subuh hari,
akan bersatu dengan matahari,
naik bersama ombak
menciptakan hujan,
menyuburkan tanahmu
dan juga
hatimu.

Jika ada kabar baik yang dihembuskan para petani
yang dengan sabar menumbuhkan biji,
maka pandangilah
wajahku.

Ada lebah yang kupelihara
dalam dadaku,
yang kelak kubiarkan mencuri bunga
tanpa harus
melukai.

Aku siapkan madu untukmu,
pada suatu hari.

(Jakarta, 2015-2016)

Bunga Liar dan Burung-Burung

Di keningmu ada sungai,
mengalir ke dalam hati, menjadi lubuk tempat ikan
bernyanyi.

Ada pohon tumbuh di tepinya,
dan sekuntum bunga liar, tempat daun rindang
berumah, dan burung yang mencintai
keindahan.

Dengarlah angin berbisik, dan
pasir yang selalu mendesir
di dalam sunyi.

Jika sebatang pohon itu berbuah, jika sekuntum
bunga itu mekar, maka matahari terbit dari matamu,
dan keningmu
yang berkilauan cahaya, menumbuhkan ribuan pohon baru,
ribuan bunga baru.

Sungai yang mengalir, pasir yang mendesir,
bunga liar mengharumkan burung tidur
di malam hari.

(Singkawang, 2016)

Lidah Mati

Telah kusimpan potongan lidahmu,
ular betina, di dalam kaca.
Bentuknya tak lagi mirip
binatang melata.

”Ia yang membunuhku di dalam sel penjara,
dengan racun dari lidahnya.“

Arwah temanku datang di hari minggu,
membawa keranjang berisi mata.
”Ini mata ular betina yang sama,
kemarin belum sempat kubawa.“

Mata dengki, lidah hewan melata,
ayolah bicara! Jangan jadi pengecut,
yang berkata tanpa bertatapan mata.
Jangan meludah dari jauh, sebab bisa
lidahmu meracuni semua tanah
yang tidak
bersalah.

Arwah temanku pergi membawa keranjang.
Ia berjanji akan kembali datang,
membawa lidah dan mata,
dari para pecundang yang lebih senang sembunyi
di dalam lubang.

(Jakarta, 2015-2016)

Hanna Fransisca (Zhu Yongxia) lahir 30 Mei 1979 di Singkawang, Kalimantan Barat. Buku-buku puisinya, antara lain, Benih Kayu Dewa Dapur (2012) dan A Man Bathing & Other Poems (terjemahan Inggris dan Jerman, 2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hanna Fransisca (Zhu Yongxia)
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 20-21 Agustus 2016
Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi