Desa yang Tertusuk Besi - Hutan Terbakar - Hujan Pertama di Dusun Bungduwak - Pigura - Gadis Hibrid ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 Agustus 2016

Desa yang Tertusuk Besi - Hutan Terbakar - Hujan Pertama di Dusun Bungduwak - Pigura - Gadis Hibrid


Desa yang Tertusuk Besi

angin yang ramah berubah gerah
menyisir lembah dada orang-orang
yang dilesak suara pohon-pohon tumbang

baru kemarin ruas bambu bakal serulingmu
kau curah dengan sabit Kolpo bermata kilau
diraut sejenak seperti merawat ana
lubang-lubang kau buat sebundar mungkin
tempat kau menyimpan zikir dan doa hening

tapi hari ini, siapa kuasa atas tanah itu
tinggal sisa akar habis terbakar
dan daunan menelungkup lesup berwarna pudar
dahan cumma sepotong, warta juga sepotong
jantung alam berlutut pada mesin kayu
pergilah burungmu, lenyaplah oksigenmu
hanya sesapih bibir luka menempel di dada
besar di tulang memanggil-manggil air mata.

seruling bambumu kau tiup melengking tangis
rumpun bambu yang menjaga keperawanan desa
tinggal cerita berganti besi-besi
yang menuding pongah penuh dusta
Gapura, 2016

Hutan Terbakar

pucuk yang mengintai leher perdu
belukar yang mengawini serabut akar
garis daun yang oleh angin dilanun
dengan kecup lidah berkulum
kini purna berwajah arang, menunggang asap
membedaki desa dan kota-kota
sambil mengabarkan hutan lain yang hangus
dalam diri manusia

tahukah kau?
api di hutan adalah api yang menjalar
dari hutan hati manusia
melelap, melahap, menyikaty dan menyekap
setelah korek api ketamakan dinyalakan
Dik-kodik, 2016

Hujan Pertama di Dusun Bungduwak

hujan berderai dalam kibasan tapih kabut
mengguyur dusunmu yang digaris angin harum lahang
belah membelai dari barat
melewati pokok kendung, randu dan nyemplung
semua mencium tubuhmu berulang kali
dengan janji yang ditepati
di atas takir-takir kering daun jati,

lalu sumpah sejati ikut butiran air kembali ke bumi
batu dan kerikil mengamini dengan gigil dan sunyi

bahwa tanah sebentar lagi akan bangkit dari mati
mengajak bajak membuat anak
menyusun detak bagi yang pernah retak

di bawah pancuran, kau basuh semesta badan
diujung selokan, boleh hatimu menjelma ikan.

seiring kau mengeluarkan sapi dan tenggala
memilih biji bakal benih yang dikarungi sepi
bersamaan ketika siul burung budbud
mengurai silsilah di antara jalan-jalan yang basah

ke sawah dan ladang kau membuat masa depan
bercocok tanam sambil mencocokkan nasib
dan garis tangan
Bungduwak, 2016

Pigura

ke dalam lambungmu
aku masuk mencari masa lalu
melewati sebentuk wajah yang bersedia jadi pintu
pada silam tahun yang telah tertutup debu
kutemukan cinta purbaku jadi patung batu

menunggu tulang rusukku
walau mungkin telah jadi seorang ibu
Dik-kodik, 23.06.16

Gadis Hibrid

nak Airin yang berambut pirang polesan semir
menummpuk kosmetik tinggi sekali
melebihi tulang bahu ayahmu

warna lipstik dan gincu
bersitegang dengan dompet sang ibu
yang selalu gagal membeli palawija
mengurangi uang belanja, demi kau yang manja

nama asli Khairina pemberian alim ulama
tak gaul bila tak dipanggil seperti orang kota
hatimu jauh menggelana ke datar dingin rumah kaca
menerobos lampu merah
memuja pangkal sebuah menara
demi merawat diri yang punya seribu gaya

nak Airin berguru tv, mengukur diri
dengan kehidupan orang-orang kota
sekali kau keluar rumah emnenteng tas
yang ruang lambungnya berisi gadget dan tisu
sanak kerabat dan keluarga di desamu
kau anggap manusia purba dari zaman batu
cuma kau yang merasa maju
duhai
alangkah baiknya jika menoleh ke belakang
ayahmu selalu di kandnag
ibumu buruh tani di ladang
jangan berkata iya kepada bayang-bayang
Gapura, 23.06.16



A Waris Rovi, lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Aktif di Komunitas Semenjak dan membina penulisan sastra di Sanggar 7 Kejora, serta mengajar seni rupa di Sanggar Lukis  DOA (Decoration of Al-Huda). Guru bahasa Indonesia di MTS Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aswita Simarmata
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 16 Oktober 2016
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi