Every Teardrop is a Waterfall - Merindukan Kimberly - Di Sebuah Biara ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 Agustus 2016

Every Teardrop is a Waterfall - Merindukan Kimberly - Di Sebuah Biara


Every Teardrop is a Waterfall


Harum bayi perempuanmu mengingatkanmu akan sebuah jalan setapak berbatu, sebidang lapang ladang bintang dan orang-orang yang melepaskan seekor ayam kampung untuk mencari sebuah makam purba yang terlupakan. Malam menjadi benderang dan dengan jelas kaulihat seorang penipu terburu-buru menyiapkan jebakan untuk dirinya sendiri. Seorang ayah yang telanjur percaya pada kata-katamu menganggapmu berlagak menjadi nabi dengan begitu sibuk mengutip kitab suci sambil mengeluh dengan putus asa. Dari tempat yang beraroma cengkeh dan bunga kopi, masa lalu dalam dirimu berbahagia menjadi seekor babi yang mempertaruhkan nasibnya di antara sepuluh orang gadis dan memperoleh sebuah kehidupan: bahagia selama-lamanya yang tak pernah digambarkan dalam cerita-cerita tentang kerajaan surga.


Merindukan Kimberly

Kaudengar gema laut yang memancar dan melihatnya menghadiahkan udara terbuka cahaya yang menyilaukan. Seekor camar kaca hinggap di telapak tangan kananmu, menyerap semua sari warna yang kaupelihara dengan gembira dan terbang memecahkan diri menjadi dua puluh ekor camar kecil berwarna pelangi. Gelombang begitu rendah hati menjaga langkah perahumu menuju pantai. Kaulambaikan secarik kertas putih yang pelan-pelan kautarik dari hatimu dan mengabarkan bahagia kepada matahari yang malu-malu mengintip senyum kecilmu. Seorang laki-laki dengan sabar menunggumu di tepi pantai sebab kenangan begitu baik merawatnya. Jika engkau tak cukup puas menjadi bagian dari sebuah puisi, ada begitu banyak harapan yang akan bersukacita menjaga jalanmu.

Di Sebuah Biara

Jalanan yang tidak menanjak atau menurun
Seperti jalan-jalan di Golo Dopo dan Pedarro
Membopongmu ke sebuah setapak di sebelah
Barat rumahmu. Kenangan menuntunmu ke Utara,
Menceburkanmu ke aliran sungai di sekeliling sawah.

Suara sekelompok biarawan yang
Menyerukan ”Deo gratias” menyadarkanmu
Dan meletakkan kembali pijakanmu di sudut kapela
Setelah sebuah misa pagi, di sebuah biara yang menggali
Cerita masa lalu di dalam dirimu.

Para biarawan yang berseru mendaku dengan riang
Meringkuk di dalam hati seorang perawan.
Sebuah pedang mengincar mereka,
Dan mereka berharap sabetannya
Mengokohkan anak-anak tangga surga.

Engkau bertanya kepada Bapa yang sedang
Memberi makan ikan-ikannya di kolam biara,
”Apakah mereka sudah siap dipanen, Bapa?”


Mario F Lawi bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Buku-buku puisinya adalah Memoria (2013), Ekaristi (2014), dan Lelaki Bukan Malaikat (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mario F Lawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi 27 Agustus 2016 

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi