TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Saturday, 27 August 2016

Maafkan Aku, Lila

Enny, mantan teman SMA Lila membawa berita hangat, bahwa Guntur membawa seorang gadis makan malam. Tentu saja hal itu membuat Lila galau. Betulkah suaminya menyeleweng?

Setengah melayang, Lila meletakkan telepon ke tempatnya. Lima menit ia mencoba menenangkan diri dan mengatur emosinya dengan menyandarkan tubuh pada kursi empuk dan memejamkan mata rapat-rapat. Ketika ia membuka mata, ada rasa sakit menyerang ulu hatinya. Selalu begitu. Setiap ada persoalan, maag-nya yang lebih dulu bereaksi.

Lila menekan perutnya bagian atas dan menegakkan punggungnya. Pandangannya sedikit berkunang. Ia memejamkan kelopak matanya lagi, dan suara Enny menyusup ke gendang telinga.

“Masak sih aku tega membohongi kamu, Lila. Aku kan kawanmu. Masak aku mau melihat kamu hancur. Tapi begini, lebih baik kamu cari kesempatan yang baik dan tanyakan secara baik-baik pada Guntur. Ingat, amarah dan emosi tidak akan membuat semuanya menjadi baik. Kamu tahu sendiri kan, orang yang sedang mabuk asmara akan makin jadi kalau ditentang dan dilarang. Saranku, yang paling baik adalah cari waktu yang tepat, bicarakan baik-baik. Aku mengharapkan yang terbaik untukmu, Lila.”

Yang terbaik? Berita Guntur membawa seorang gadis remaja cantik dan makan malam di Gandy, sampai pukul sebelas malam dan mata yang tidak lepas dari masing-masing pasangan? Yah, mungkin Enny benar. Itu berita paling baik yang didengar Lila selama empat tahun pernikahannya dengan Guntur. 

Lila merentangkan kesepuluh jari-jari tangannya ke udara. Adakah yang salah, tanyanya pedih. Apa? Rasanya selama ini hubungannya dengan Guntur tetap mesra, tetap manis. Atau semua itu sebetulnya semu?

Ia paling benci sikap munafik dan kepura-puraan. Kalau menurutkan emosi, rasanya ingin detik itu juga Lila menelepon Guntur di kantor dan menuntut penjelasan bila itu benar, dan pembelaan kalau itu tidak benar. Tapi baikkah mengumbar emosi begitu? Guntur tidak pernah suka. Dan Lila tahu, ia juga tidak akan menang menghadapi Guntur dengan cara keras begitu.

Lalu mulailah hari-hari di mana terkadang Lila merasa dirinya setengah sinting. Begitu selesai membangunkan Guntur, ia sudah memasang mata lebar-lebar, meneliti setiap tindak laki-laki itu dengan seksama. Cara ia merangkul kemudian mengecup kedua belah pipi sebelum ke kantor, dan jam pulangnya. Cara makannya. Berapa lama ia berada di kamar mandi. Berapa lama ia memandang pantulan wajahnya di balik kaca. Melirik wajahnya dari samping setiap malam mereka menonton televisi. Dan semua hal-hal kecil dan hal-hal besar yang dilakukan Guntur.

Tetapi, ketika seminggu berlalu, dan Lila belum juga menemukan tanda-tanda yang menandakan cinta Guntur telah berkurang atau berbagi, ia bertekad untuk melupakan Enny dan berita hangatnya. Mungkin saja Enny salah lihat. Bukankah sudah hampir empat tahun ia dan Guntur tidak pernah bertemu Enny? Dan ketika malam pada waktu Guntur pulang lewat pukul dua belas, Lila sudah mendapat konfirmasi tak langsung dari Simson, pelatih tinju yang dikunjungi Guntur di sasananya. Lagi pula, seingat Lila, Enny memang hobi bergosip semasa mereka satu SMA dulu. Jadi? Yah, jadi Lila berjanji untuk menghentikan aksi sintingnya setiap hari memata-matai Guntur, kalau saja tidak terjadi satu hal kecil yang membuat keningnya berkerut di pagi berikutnya.

Entahlah, karena adanya perasaan curiga, Lila merasa Guntur terlalu banyak menyemprotkan deodorant pada ketiak dan badannya. Ia juga dua kali menuangkan eau de cologne Tabac pada telapak tangannya, kemudian mengoleskan pada dua belah lengannya. Pada tuangan yang kedua, baru ia mengoleskan ke leher dan jenggotnya. Biasnya, untuk jenggot dan sekeliling leher, cukup dengan yang sisa dari lengan. 

Lila ingat, Gutur tidak pernah suka bau parfum yang berlebihan. Itu juga mungkin salah satu point yang menyebabkan Lila jatuh cinta setengah mati pada Guntur dulu.

Waktu itu mereka bekerja pada kantor yang sama. Karena anak baru pada divisi Export, Lila harus banyak bertanya pada Guntur. Lama-lama ketika mereka sudah akrab, Lila pernah berkata, “Kamu pakai parfum apa, sih? Kok dari jauh tidak tercium? Saya senang parfum yang seperti itu, yang dari dekat baru tercium. Saya sebel sama orang sepuluh meter saja bau parfumnya menyebar ke mana-mana. Merek apa, sih?”

“Ah, itu sih rahasia dari mamiku. Mamiku bulang, kalau anak laki pakai parfum, supaya menarik anak cewek, meski begitu, antara ada dan tiada.”

“Wuuiih!” Lila mencibir.

Lalu sejak itu, hubungan mereka kian akrab. Pada mulanya Lila tidak menyangka sama sekali kalau Guntur masih bujangan. Tampan, tiga puluh empat, sukses. Apalagi? Dan hari-hari manis berjalan mengiringi langkah mereka. Sampai sekarang, setelah empat tahun menikah, Lila tetap merasakan cinta kasih Guntur mengalir setiap hari. Atau ia sudah terbius sehingga tidak peka lagi?

“Melamun!”

Lila terlonjak. Guntur sudah lengkap berpakaian. Di tangan kirinya ada sepasang kaus kaki yang tadi dipilihkan Lila.

“Mimpi apa sih tadi malam, kok tiba-tiba bengong begitu?”

“Nggak mimpi apa-apa?”

“Kok kamu dari tadi lihatin saya? Naksir yah karena suamimu makin hari makin keren?”

“Wuhh!” Lila mencibir. “Lihat perutmu, makin gendut. Mana ada sih laki-laki yang makin keren karena perutnya makin gendut?”

Guntur tertawa ngakak. Diraihnya kepala Lila dan menekan kuat-kuat ke dadanya.

“Kamu sih kasih makan enak tiap hari.”

Lila menyembunyikan rasa harunya dan memaki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia curiga Guntur ada affair di luar? Semalam, berapa kali Guntur mengantarnya ke surga? Berapa kali kata cinta dan kata puja ia ucapkan dalam kebersamaan mereka? Betapa ia bodoh, mau menukar masa pacaran dua tahun dan usia pernikahan empat tahun yang btertabur bunga dengan sebuah telepon dari Enny.

“Kok diam?” Guntur mengangkat kepala Lila. “Hei, ada apa sih? Kok kamu mandangnya begitu?”
Karena tidak terbiasa menyimpan rahasia pada Guntur, hampir saja Lila membuka mulutnya dan menceritakan semuanya. Tapi kemudian terpikir, mungkin saja Guntur terluka kalau kesetiaannya diragukan. Lila bertekad untuk menyimpan rahasia itu sampai mereka tua. Mungkin kalau sudah menjadi kakek-kakek, Guntur akan terbahak-bahak mendengar cerita yang mengisahkan ketololan istrinya.

Hari-hari berjalan seperti biasanya.

Hari minggu pertama jatuh pada tanggal dua. Seperti bulan-bulan yang lewat, setiap awal bulan, Guntur akan membelikan Lila satu atau dua buah gaun, terserah pilihan Lila. Kali ini Lila memilih ke Matahari.

Lila sedang meneliti sebuah gaun hitam untuk malam hari di counter exclusive ketika merasa bahunya dijawil dari belakang. Ia menoleh cepat. Guntur berdiri di belakangnya, memamerkan tiga helai hem berlengan pendek. Satu berwarna putih. Satunya kotak-kotak kecil merah biru dan hijau yang tampak sangat manis. Satunya lagi kotak-kotak besar berwarna hijau lumut bergaris-garis hitam. Lila mengerutkan keningnya.

“Bagaimana kalau saya coba lengan pendek?” Guntur mengangkat hem itu ke depan mata Lila.

Darah Lila berdesir. Sejak pacaran dulu, kecuali T-shirt, Guntur tidak pernah memakai hem lengan pendek. Selalu lengan panjang. Guntur bilang ia merasa risih dan lucu kalau memakai kemeja yang berlengan pendek. Mengapa risih dan mengapa lucu, ia tidak bisa menjelaskannya. Lalu mengapa sekarang tiba-tiba ia iangin mengganti suasana? Sekaligus tiga lagi?

“Hei, kok diam? Bagus nggak?”

“Kok tumben kamu beli yang lengan pendek?”

“Yah, coba saja.”

“Kalau coba ‘kan tidak usah sekaligus tiga? Kalau tidak cocok bagaimana? ‘Kan sayang. Satu saja dulu.”

Guntur berpikir sebentar.

“Yang mana yang bagus menurut kamu?”

Akhirnya Guntur membeli yang kotak-kotak kecil dan yang putih. Lila sendiri tidak jadi membeli, karena tiba-tiba saja ia merasa semua baju yang dijual jelek. Ada-ada saja kritiknya ketika Guntur menyodorkan berbagai pilihan. Ia bahkan tiba-tiba merasa mual ketika Guntur mengajaknya makan Bakmi Kepiting, padahal itu makanan favoritnya.

Setelah itu kembali Lila menjadi detektif. Mulai dari bangun pagi sampai tidur malam hari, segala perilaku Guntur tidak lepas dari ekor matanya. Beberapa kali, bahkan Lila menyamar dan menelepon ke kantor Guntur. Tapi sialnya, selain deodorant dan eau de cologne yang menurut Lila kebanyakan serta kemeja lengan pendek, tidak ada data lain yang bisa membuktikan penyelewengan Guntur. Apakah ia harus curiga kalau selama dua hari berturut-turut Guntur meributkan pendapatnya apakah ia cocok memakai kemeja lengan pendek? Apakah itu tanda pasti kalau Guntur tersenyum amat puas ketika secara jujur Lila menyatakan kekagumannya akan kegagahan Guntur? Apakah ada pendapat serupa yang keluar dari bibir wanita lain?

Pada saat begini, Lila merasa amat sedih. Kalau saja Mama ada di Jakarta dan bukan di Kalimantan sana, tentu ia bisa mengutarakan kecurigaannya. Menulis surat, ia paling tidak suka. Lagi pula, tidak bijaksana rasanya menyebarkan berita penyelewengan Guntur tanpa adanya bukti yang nyata. Belum apa-apa, tentu Mama sudah akan mengumbar air matanya.

Konsultasi dengan Lina Anastasia, sahabat karibnya? Ah, ia sekantor dengan Guntur. Lila tidak mau wibawa suaminya jatuh di mata bawahannya. Lagi pula, Lila belum bisa menentukan sikap, bagaimana kalau berita Enny itu benar? Ah, ia tidak mampu membayangkan. Hanya saja tiba-tiba ia menyesal mengapa mau menuruti keinginan Guntur untuk berhenti bekerja setelah mereka menikah. Kalau ia terus bekerja, kalau memang Guntur sudah mengingkari janji pernikahan mereka, kalau sampai mereka bercerai, ia tentu tidak perlu kalang-kabut mencari kerja. Bukan soal biaya hidup. Kalaupun terjadi perceraian, Lila yakin Guntur akan tetap menghidupi ia. Tapi bagaimana melewati hari-hari?

Ah, rasanya Lila hampir tidak tahan menanggung semua tanya dan cemas di hatinya. Sialnya, ketika Enny menelepon dulu, Lila tidak menanyakan nomor teleponnya. Ah, itu memang sifat jeleknya. Suka menyendiri.

“Non, ada telepon.”

“Siapa?”

“Katanya teman Non dulu. Namanya Enny.”

Lila melompat dari duduknya dan berlari keluar dari kamar.

“Enny!” serunya mengangkat telepon. “Aku baru saja mau meneleponmu, tapi tidak punya nomormu. Ah, bagaimana kalau kamu kasih tahu dulu nomor teleponmu?”

“Itulah, kamu sih dari dulu sombong.”

“Ah ...” Lila menjawab jengah. Waktu SMA dulu, ia memang tidak suka bergaul dengan Enny. Ia benci gossip dan huru-hara. “Siapa bilang aku sombong? Aku hanya tidak suka pesta dan jalan-jalan seperti kalian.”

“Oke, deh. Tidak pernah terlambat untuk menjalin suatu persahabatan, ‘kan? Nih, catat baik-baik nomorku yah.”

Lila menyambar pen di meja telepon dan mencatat enam angka. 

“Ini nomor kantor, lho. Rumah tanteku belum ada teleponnya. Nanti deh, siapa tahu aku mendapatkan suami sekaya suamimu, aku pasang lima lines sekaligus. Oh ya, sudah kamu tanyakan Guntur tentang makan malam di Gandy itu?”

“Aku cek ke temannya, Simson, dia ada di situ malam itu.”

“Ah, tolol. Itulah kalau kamu selalu membatasi pergaulan sehingga tidak tahu tipu daya laki-laki. Dia ‘kan bisa saja berkomplot dengan temannya untuk membohongimu. Dua di antara tiga lelaki di Jakarta ini, Nyonya, penyeleweng semua. Nah, apa tidak ada tanda-tanda dia berubah sesudah itu?”
Lila menggigit bibirnya. Dia selalu yakin, Guntur adalah lelaki yang satu di antara tiga lelaki itu. Tapi apakah ia perlu mendiskusikan dengan Enny soal suaminya?

“Lho, kok diam? Eh, waktuku tidak banyak, lho. Sekarang jam istirahat. Pukul satu nanti aku harus kerja kembali. Dan dari ruanganku, telepon keluar dikunci.”

“Kamu yakin malam itu melihat Guntur?”

“Lho, betul ‘kan malam itu ia pulang lewat pukul dua belas? Kamu lebih percaya pada temannya sesama lelaki yang tukang bohongi istri daripada temanmu perempuan yang membela kepentingan kaum wanita?”

“Bukan.”

“Lalu? Apa sesudah itu ia tidak pernah pulang malam lagi?”

“Pernah. Ia ke sasana tinju tempat Simson melatih. Tapi waktu aku telepon ke sana, pukul sebelas, ia ada. Lagi melepaskan kangen dengan teman-teman bujangnya dulu.”

“Mungkin ia sudah tahu kamu curiga, lalu ke sana dan membiarkan kamu mengeceknya. Nah, karena kamu yakin ia jujur, mulailah mainkan belangnya lagi. Laki-laki punya sejuta cara, La.”

Lila memejamkan matanya. Ia sungguh tidak mengerti sandiwara semacam itu. Alangkah sulit memerankannya.

“Apa tidak ada yang berubah dari dia, La? Cara ia memakai baju, misalnya? Apa sekarang ia tampil lebih dandy? Ada telepon misterius yang begitu kamu angkat langsung diputuskan?”

“Oh, bagaimana kamu bisa tahu?” Lila terhenyak kaget. Ia bahkan sudah melupakan telepon dua hari lalu. “Dua hari yang lalu memang ada telepon terus-menerus. Begitu aku angkat, tidak ada suara. Tapi aku pikir itu memang biasa terjadi.”

“Tidak kamu pikir bahwa itu telepon dari cewek itu untuk Guntur?”

Mungkinkah? Lila hampir menangis mempertimbangkan kemungkinan itu. Mungkinkah Guntur sudah berubah? Begitu cepat? Hanya dalam tempo empat tahun? Mengapa? Karena sampai sekarang ia belum melahirkan? Tetapi bukankah Guntur yang menghibur bahwa waktunya belum tiba?

“Sepertinya kemarin aku melihat Guntur. Ia memakai kemeja putih lengan pendek dengan celana hijau lumut tua. Betul?”

“Itulah ...” tiba-tiba keluar saja cerita dari bibir Lila. “Ia tidak pernah memakai hem lengan pendek. Tiba-tiba saja waktu kami belanja, ia mau mengubah suasana dengan mengganti hem lengan pendek. Padahal selama ini ia selalu memakai kemeja lengan panjang.”

“Hem, mungkin gadis itu yang memintanya. Ia tentu ingin Guntur berpenampilan lebih muda, lebih sesuai dengan gadis remaja seusia dia.”

Lila tak mampu lagi menahan air matanya. 

“Mengapa dia lakukan itu?” tanyanya entah pada siapa.

“Laki-laki, Lila. Sudah aku bilang, laki-laki yang setia itu jumlahnya mungkin bukan satu di antara tiga, tapi satu di antara sejuta. Nah, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

Lila menggeleng lemah.

“Aku tidak tahu,” jawabnya lemah. “Aku tidak siap dengan semua ini, Enny. Aku sungguh-sungguh tidak menyangka semua ini. Kalau .... Kalau kamu menjadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku?” suara Enny meninggi kemudian berkata dengan nada kejam. “Pertama-tama, aku akan damprat suamiku. Oh, aku tidak pernah seuju dengan istri yang melabrak wanita yang main dengan suaminya. Menurutku, yang pertama-tama harus menanggung dosa adalah si suami. Sudah beristri masih main gila. Aku tuntut dia untuk memutuskan hubungan dengan cewek itu. Kalau dia tidak bisa dan tidak mau, oke ... pisah. Cerai. Zaman sekarang orang yang cerai tidak lebih sedikit dari yang nikah, ‘kan?”

Bibir Lila bergetar dan tanpa sadar gagang telepon sudah jatuh dari tangannya. Pisah? Cerai? Rasanya ikrar setia sampai maut memisahkan kami, masih bergaung di udara. Kemudian ia menangis. Menangis sangat panjang. Ulu hatinya terasa sangat sakit. Maag-nya kambuh lagi. Ia meneruskan tangisnya sambil berbaring di kamar.

Mungkin karena terlalu lelah menangis dan sakit di ulu hatinya, Lila sampai tertidur. Samar-samar ia merasa ada jari-jari yang mengelus pipinya.
“Lila, ada apa?”

Perlahan, Lila membuka kelopak matanya. Guntur duduk di tepi tempat tidur, memandangnya dengan sepasang mata cemas.

“Ada apa?” Lila memandangnya heran.

“Matamu bengkak. Kamu menangis?”

Menangis? Lila membuang pandangnya ke tempat lain. Ia memang tidak pernah bisa menangis tanpa menyembunyikannya. Begitu mengeluarkan dua tetes air, matanya sudah merah. Lebih dari sepuluh tetes, bengkak berjam-jam.

“Ada apa, Lila? Kamu sakit?” suara Guntur lembut.

Lila menggigit bibirnya dan memandang Guntur tajam-tajam. Betulkah ia tiba-tiba menjadi seorang aktor?

“Ada apa, Lila? Ayolah, jangan katakan tidak ada apa-apa. Saya tahu ada apa-apa. Sikapmu aneh belakangan ini. Janji kita untuk saling terbuka masih tetap berlaku, ‘kan?”

“Kamu yang tidak terbuka!” Lila bangkit dan duduk menyandar pada tepi ranjang sambil memeluk bantal. Dipandanginya Guntur dengan sengit. “Kamu yang mulai tidak jujur dengan main-main di luar.”

“Eh ....” Guntur tampak bingung dan gelagapan. “Apa kamu bilang?”

“Pura-pura,” Lila mendengus benci. Ketika membeberkan berita dan semua omongan Enny, ia sudah lupa bahwa ia harus menghadapi Guntur dengan lembut dan bukannya dengan emosi yang meledak-ledak.

“Sudah?” tanya Guntur datar ketika Lila menghentikan kata-kata kasarnya.

“Betul ‘kan?” Lila membersit hidungnya.

“Tidak.”

“Huh, laki-laki!”

“Nah, dengar baik-baik,” Guntur tidak mengubah nada suaranya. “Yang kamu ceritakan Enny yang bekerja di biro iklan itu, ‘kan? Yang rambutnya pendek dan bergaya tomboy? Betul?”

Lila mengatupkan bibirnya. “Jadi betul kamu ketemu dia di Gandy?” tanyanya penasaran.

“Kapan?” suara Guntur mendingin. “Besok mungkin. Atau bulan depan kalau aku tiba-tiba suka makan steak.”

“Jadi ....”

“Heh ....” Guntur mendengus. “Kamu simpan nomor teleponnya? Atau mungkin alamat rumahnya? Nah, datangilah dia. Tanyakan dia mengapa ia senang betul menguntit suamimu, merayu suamimu, mengatakan sudah lumrah laki-laki sekarang menikah lebih dari satu kali? Dan besok, konfirmasikan semua itu dengan Lina, apa benar saya minta dia untuk tidak menyambungkan telepon dari setan perempuan yang bernama Enny Setiawati itu!

“Jadi dia temanmu? Bilang padanya, jangan sampai kesabaran saya habis. Kalau saya telepon Lukman, bosnya yang direktur biro iklan itu, apa dia tidak langsung disuruh menulis surat permohonan mengundurkan diri secara hormat?” Guntur bangkit dengan wajah merah dan melangkah lebar-lebar keluar kamar.

Lila membelalakkan matanya. Sandiwara apalagi ini? Diliriknya jam dinding. Sudah hampir pukul enam. Enny pasti sudah pulang.

Esoknya, pagi pukul sembilan, Lila memutar enam angka yang diberikan Enny tempo hari.

“Enny? Aku mau bicara dengan kamu mengenai Guntur. Apa benar dia ....”

“Lila? Oh ...” terdengar suara gemerisik. “Pagi-pagi aku sibuk sekali, Lila. Sudah, ya.”

“Sebentar!” Lila berteriak setengah panik. “Tidak perlu waktu lama untuk menjelaskannya. Kamu ....”

“Maafkan aku, Lila.”

Klik.

“Hallo. Hallo.”

Yang ada hanya bunyi tut tut tut pendek-pendek. Sekilas, Lila berpikir untuk menelepon kembali nomor Enny. Tapi kemudian ia membatalkannya dan mencoret nama dan nomor itu dari buku teleponnya. Ia sibuk memutar otak, bagaimana mesti merayu Guntur malam nanti untuk menghapus amarahnya dan kembali mencurahkan cintanya? [f]

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dharmawati Tst
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 31/XIX 8 - 14 Agustus 1991
 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home