Masa Lalu adalah Masa Depanku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 Agustus 2016

Masa Lalu adalah Masa Depanku


"JANGAN kau sebut nama itu. Sekali lagi kau menyebut nama itu, aku akan meloncat dari gedung ini," ancam Mirna, perempuan cantik yang baru tiga bulan ini menjadi kekasihku. Acamannya seepertinya tidak main-main. Ia sudah berdiri di bibir jendela. Aku khawatir, bagaimana jika tanpa sengaja kakinya yang tanpa alas kaki itu terpeleset, pasti ia akan terjatuh dari gedung apartemen lantai sembilan ini.

"Kenapa?' tanyaku dengan suara bergetar.

Mirna tak menjawab pertanyaanku. Sorot matanya menghunjam mataku.

Sungguh, smeula aku tak menduga ia akan melakukan perbautan senekat itu. Semua itu bermula dari ketika tanpa sengaja aku mendapati dan membaca buku hariannya yang tergeletak di atas meja. Aku menemukan nama David di salah satu lembar buku hariannya. Ada catatan aneh dengan nama itu. Dan tentu saja itu menjadi sebuah tanya untukku. Sebagai kekasihnya aku cemburu dan khawatir.

Mengetahui buku hariannya aku baca, Mirna merenggut buku itu dari tanganku. Ia terlihat marah.

"Siapa David?" tanyaku curiga.

Mirna semakin terlihat marah. "Kau sudah lancang membaca buku harianku!" kata Mirna ketus.

"Siapa David?"

"Apa urusanmu?"

Aku semakin meradang dengan jawaannya. Aku semakin curiga dengan nama David itu. Apakah ia dulu kekasihnya?

"Siapa David?" tanyaku sekali lagi.

Kali ini Mirna benar-benar murka. Cangkir berisi kopi yang sedianya untukku, dibanting tepat di depan kakiku. Cairan hitam dan pecahan cangkir sebagian mengenai kakiku. Aku tertegun. Aku pandangi Mirna, mencoba membaca isi hatinya.

"Dia amsa laluku. Masa gelapku. Dan kau tak perlu tahu!"

"Aku kekasihmu."

"Lalu jika kau kekasihku, apakah kau harus tahu seluruh kisah masa laluku?"

"Tentu saja aku harus mengetahuinya."

Mirna tersenyum mengejek. "Kau besar kepala. Baru tiga bulan kau menjadi kekasihku, kau sudah berusaha mengendalikan hidupku. Lebih baik kita tak perlu melanjutkan hubungan ini!"

Jawabannya membuat hatiku berguncang. Bagiku, apa yang aku tanyakan adalah hal sepele. Siapa laki-laki itu? Dan jawabannya di luar dugaanku. "Hanya gara-gara aku ingin tahu nama laki-laki itu, kau ingin memutuskan hubungan ini?"

Mirna tak menjawab. Ia mundur mendekati jendela apartemen. Membuka pintu jendela. Angin bertiup mempermainkan rambut indah di kepalanya.

Aku sudah jatuh cinta dengannya. Dan aku bangga bisa menjadi kekasihnya. Laki-laki mana yang tidak bangga memiliki kekasih berwajah cantik?

Aku mencoba menenangkan hatiku yang bergemuruh. Mencoba melemaskan otot-otot wajah yang terasa kaku. Aku juga mencoba mengendalikan kegelisahan Mirna agar tak lagi mengeluarkan kata-kata yang tak bisa aku duga. Aku akan minta maaf karena sudah bertanya tentang David. Tapi belum sempat aku mengucapkan permintaan maafku, kedua kaki Mirna melangkah naik, menaiki bibir jendela yang sudah terbuka. Jantungku segera berdegup kencang.

"Apa yang kamu lakukan?" Aku segera berusaha mendekatinya.

"Jangan mendekat!" teriaknya.

"Kau bisa terjatuh, Mirna..."

"Semua ini karena kau telah menyebut nama itu!"

Pikiranku benar-benar kacau. Tak masuk akal. Siapa David itu? Hanya karena aku ingin mengetahui tentangnya, Mirna bisa berbuat senekat itu?

Begitulah awal Mirna menaiki bibir jendela dan mengancam akan meloncat ke bawah.

Lidahku kaku. Dan aku hanya diam berdiri. Jika aku memaksa diri mendekatinya, lalu ia meloncat, situasinya akan menjadi semakin rumit. Dan seandainya itu terjadi, Mirna terjatuh, mau tidak mau aku akan tersedot dlama pusaran kerumitan itu.

"Baiklah," kataku dengan suara sepelan mungkin. "Aku minta maaf."

Mirna masih terlihat gusar. Permintaan maafku seeprtinya belum berpengaruh. Ia masih berdiri di bibir jendela.

"Aku akan pulang," kataku. "Tapi kau harus turun dari jendela itu."

"Cepat kau pergi dari sini!"

Perlahan aku mundur mendekati pintu keluar sambil tetap menatapnya penuh was-was. Ketika tanganku sudah memegang gagang pintu dan hendak membukanya, kekhawatiranku pun terjadi. Suara lengkingan jeritan Mirna membuat aku berlari ke arah jendela dan melongok ke bawah. Aku tak sanggup lebih lama menatap ke arah Mirna terjatuh. Aku menggigil dan kebingungan.

***
KINI aku berada di balik jeruji. Hakim sudah memutuskan aku bersalah karena telah membunuh Mirna. Tentu saja aku menolak tuduhan itu. Berkali-kali aku membantahnya. Mirna terjatuh bukan karena aku yang mendorong, ia terpeleset.

"Sudah cukup bukti bahwa Anda yang membunuh Mirna. Kamera CCTV yanng terpasang di gedung apartemen membuktikan bahwa Anda orang terakhir yang menemui Mirna di kamar apartemennya."

Aku tetap menolak semua tuduhan itu. Karena aku tetap bersikeras tak mau mengakuinya, yang semula aku divonis hukuman seumur hidup, akhirnya aku divinis mati.

Kini aku berada di balik jeruji. Menghitung hari menunggu ajal dengan satu pertanyaan yang masih melekat di otak, siapa David itu?  Rumah Mimpi, 2015.

Basuki Fitrianto, Jalan Manduro 53 Kratonan Kartotiyasan Solo 57153

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Basuki Fitrianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 28 Agustus 2016



Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi