TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Monday, 22 August 2016

Pada Kota Kelahiran - Ayah Pergi

Pada Kota Kelahiran

Kota kelahiran ini sudah lama tak lagi jadi bagian
dari aku, sejak anjing-anjing keluar dari hutan
di lereng Sibualbuali, orang-orang memburu lidahnya
dengan itu mereka jadi gemar menjilat
lalu jadi penjaga gerbang kota.

Sejak itu udara jadi basi bagi bunga-bunga
dan kupu-kupu seperti aku menyingkir
mencari taman yang lain di relung waktu.
sekali-sekali aku masih datang diam-diam
menemui saudara dan kawan-kawan masa kecil
tapi yang menyambutku hanya kadal, ular,
bengkarung, dan buaya

Selebihnya adalah orang-orang yang jadi zombi,
mengusung tubuhnya ke seluruh kota
sambil mengunyah isi kepalanya
- mengkhayal, menggerutu, dan sering
saling menyalahkan

Kota ini memang pernah jadi bagian
dari hidupku, tapi kini jadi bagian paling tak berguna
dari sekian banyak kenanganku.
Sipirok, I-2016

Ayah Pergi

30 januari 2016 pada penanggalan
siang yang tenang dengan langit yang teranng,
ayah pergi.

Tak ada bus di depan rumah, taxi, tiket pesawat,
tak ada peta perjalanan, tak ada alamata tujuan,
tak ada barang tak dikemas dalam koper
atau dalam tas. hanya suara ibu
mengaji dan mengaji dengan suaranya parau
menahan tangisan 

Di tengah genggam, pesan selalu datang
dari kerabat. "kenapa?"

Ya, kenapa seseorang harus pergi
dan tak tahu hendak kemana
kenapa orang harus pergi sedang yang lain
ingin orang itu bertahan

Tapi tak seorang pun akan menjawab,
tak siapa pun bisa menjawab, sedang aku
terduduk di sudut rumah,
menatap langit-langit
yang mulai runtuh ketik tangis
jadi satu-satunya suara

Ayah di ruang tamu, dibaringkan
dikelilingi kerabat yang masih saja bertanya:
"kenapa seseorang harus pergi"
dan selalu, tak seorang pun bisa menjawabnya
hingga tiba waktunya membawa ayah
ke masjid.

Bersama pertanyaan itu, aku usung ayah
dan masih dengan pertanyaan itu
aku kuburkan ayah

31 januari 2016 pada penanggalan
ayah sudah pergi, tapi di dalam rumah
aku menemukan ayah duduk di kursi rodanya
kadang berjalan tertatih seperti biasa
lalu muncul di hadapanku
dan bertanya apakah aku akan segera pergi 


"Kenapa seseorang harus pergi?"
tanya ayah
Sipirok, I-2016



Budi Hatees, lahir di Sipirok, 3 Juni 1972. Kitab sajaknya diterbitkan tahun 1996, Narasi Sunyi


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Hatees
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 21 Agustus 2016




 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home