TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Monday, 29 August 2016

Reruntuhan Kedaton - Yang Dibungkus

Reruntuhan Kedaton

Setelah menyesap kopi. Setelah membaca pesan pendek
yang masuk: ”Di mana Kamu?” Setelah mengetahui, jika
pohon-pohon delima di bukit sudah jarang tumbuh. Dan
setelah merasa, jika kursi yang terduduki mulai hangat.

Maka, terlihatlah daun-daun pring kering yang melayang
ringan. Jatuh ke reruntuhan kedaton. Menangkup di tanah.
Lalu setelah kembali menyesap kopi. Setelah melambai pada
yang tiba-tiba lewat. Setelah melihat jam yang menunjuk

pukul satu siang. Dan setelah menggeliat sebentar. Maka,
teringatlah pada sepasang naga (yang kabarnya) melata
pelan ke gerbang reruntuhan kedaton. Terus menggaib
di tempat. Menggaib dengan mulut menganga. Seakan

ingin mencaplok yang datang dengan niat buruk.
Apalagi ingin berlagak tanya: ”Kenapa undak-undakan
ke reruntuhan kedaton tak bisa dihitung dengan pasti?”
Setelah tak ada lagi yang ditunggu. Setelah segalanya mesti

beranjak. Dan setelah membaca pesan pendek yang kembali
masuk: ”Di mana Kamu? Balas.” Maka, setiap yang menegak
di sekitar reruntuhan kedaton merunduk. Merunduk pada
seratus kuda yang tiba-tiba melintas di langit. Seratus kuda

yang gagah. Yang dulu turut berjaga di jalan-jalan pintas
ke bukit. Sebelum penyerangan itu terjadi. Sebelum pada
akhirnya semua gugur. Dan dimakamkan dengan nisan-nisan
yang bertulis huruf samar. Huruf yang mirip lebah. Lebah

lembut yang diam-diam menyelinap ke kuping yang ada. Terus
ke jantung. Membikin sarang madu di kedalamannya. Dan
sesekali, akan keluar mencari nektar untuk diserap. ”Hmm,
sarang madu di kedalaman jantung, adakah yang mafhum?”

                                    (Gresik, 2016)

Yang Dibungkus

Ketika meraba kue itu, aku teringat hatimu. Hati yang
pulen. Yang legit. Dan yang dibungkus daun ope
kering persegi. Seperti bungkusan jimat yang dipaku
di atas jendela. Jimat penangkal jin demam dan pilek.

Jin demam dan pilek yang berwujud seperti kartu-kartu
domino. Dengan bulatan lima-enam, satu-tiga, empat-dua,
atau malah balak-kosong. Kartu-kartu domino yang
dimainkan di gardu. Dengan gandulan di daun telinga bagi

yang kalah. Dan ketika mengudari bungkus kue itu, aku
juga teringat hatimu. Hati yang berwarna putih tulang.
Putih ngedop. Putih yang sedikit menggoda. Juga sedikit
membuat si pacar cemburu. Pada kabar yang tak jelas.

Tentang si orang lain yang lebih terlihat menawan.
Dan yang lebih terlihat pintar berpuisi dan bercakap.
Padahal, mana ada janji yang menikung, jika jalan
terpilih sudah dibentang. Jalan lurus yang menuju ke arah

yang diangan. Lalu ketika menyuguhkan kue itu,
aku (sekali lagi) juga teringat hatimu. Hati yang sesekali
kau suapkan ke mulutku. Sambil tersenyum renyah. Dan
berbisik: ”Makanlah hatiku, biar menyatu ke hatimu.

Dan di antara kita, hanya ada satu hati yang tepercaya.”
Waktu itu, memang tak ada siapa-siapa. Hanya kita
berdua. Sepasang kekasih yang dimabuk asmara.
Sepasang kekasih yang ingin milik-memiliki. Juga ingin

lebur-meleburi. Meski pada ujung-ujungnya, selalu
kau katakan: ”Aku pulang dulu, besok kita bertemu
lagi.” Dan aku, pun kembali kehilangan. Kehilangan
yang tak bisa dijelaskan dengan saksama.

                                   (Gresik, 2016)

Catatan Redaksi:
Dua puisi Mardi Luhung di atas kami muat kembali karena telah terjadi kesalahan tata letak atas pembagian baitnya pada pemuatan pekan lalu (Sabtu, 20 Agustus). Pemuatan ulang ini merupakan ralat atau pembetulan atas kesalahan tersebut.


Mardi Luhung lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Buku puisinya yang terbaru adalah Jarum, Musim dan Baskom (2015) dan Teras Mardi (2015). Ia tinggal dan bekerja sebagai guru di kota kelahirannya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi 27 Agustus 2016 

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home