Sepasang Pengantin Laut - Kepergian dari Laut Bicabbi ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 22 Agustus 2016

Sepasang Pengantin Laut - Kepergian dari Laut Bicabbi


Sepasang Pengantin Laut

Akan kuceritakan kepadamu tentang sepasang pengantin laut yang dipertemukan ruh-ruh leluhur masa lalu. Dipaksa menikahi kesederhanaan sepanjang usia mengalir ke setiap ruang-ruang di sekujur tubuh.

Gemuruh ombak merayakan pesta, menyambut pengantin yang takzim berdoa samawa, bermandikan sinar purnama, kerlip bintang dan angin dari utara.

Lihat! nelayan berduyun-duyun pulang, melepas jalan dan kecipak ikan di geladak sampan sesekali memetik keringat yang tak sengaja muncul di kening sambil menerka arah jalan menuju rumah pelaminan.

Akan kuceritakan kepadamu tentang sepasang pengantin laut, menceritakan sampai laut penuh busa dan kita akan menemukan kesunyian mengapung terombang-ambing di permukaan. Sesekali kita harus memastikan segala takdir tertulis pada riak ombak gelombang yang takzim memecah batu karang

Blitar, 2016

Kepergian dari Laut Bicabbi

angin timur melepas kepergian # kesedihan seketika mengapung di permukaan
kecipak ikan mondar-mandir pilu # menangis tersedu-sedu
bebatuan karang pun usai menimbun kenangan # gelombang mengikis dengan dentuman kesepian

jejak pada pasir pantai # terhapus air dan badai
seperti kau dan aku yang lepas # membiarkan rindu seketika lunas
mengubur harapan # pada sisa-sisa pertemuan 

di pantai bicabbi # senyumku sering berlari-lari
menemui sehelai sepi # yang berjajar rapi
berkarib pada biru laut # kesedihan seperti luput

isak tangis tertampung di rongga dada # perihnya luka masih terjaga
saat senja ditelan sinar bulan # saat orang-orang mulai melambaikan tangan
dan sampan usai merapat di tepian # nelayan mulai menerka arah jalan

burung camar bersiap-siap pulang # sebab induk menunggu di sarang
garis-garis malam mulai menyapa # dengan sapaan paling mesra
mengabarkan pertemanan telah habis # mendadak bertumpahan tangis
aku berpamitan pada pantai yang berkabut # menyimpan dongeng para pelaut
bahwa kesetiaan tak akan surut # sebab nawaitu telah terbalut
oleh bait-bait sunyi # doa-doa dini hari

Blitar, Desember 2015



Alfa Anisa, lahir di Blitar, 28 Maret 1995. Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Blitar dan saat ini aktif di komunitas menulis FLP dan KOBIMO.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alfa Anisa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 21 Agustus 2016

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi