Suaramu Kunci - Hadirmu - Reformasi :nasibmu kini - | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 Agustus 2016

Suaramu Kunci - Hadirmu - Reformasi :nasibmu kini -


Suaramu Kunci 

Aku menunggumu di gelap malam
Aku rindu tanganmu di arus jeram

Lidahmu api, yang membakar ilusi
Suaramu kunci yang bersaksi

Tuan selaksa ababil pemberani
Saksi jaman sungguh bernyali

Aku menunggumu di pintu pengadilan
Aku rindu tanganmu, bebaskan dari terali

Magelang, Juni 2015 

Hadirmu 

Di antara bayang kelam
Aku harus sembunyi
Di antara kangkangan kuasanya

Bukan embun
Jika tak mampu
Sejukkan hati

Bukan angin
Jika sepoinya tak mampu sejukkan
Damaikan cinta

Bukan ayat suci
Jika imajis liriknya
Tak temukan ruh kesejatian jiwa

Engkaulah embun itu
Engkaulah sepoi semilir
Yang nerpa harapku

Ulur tanganmu
Bangkitkan jiwa yang lara
Hadirmu, jadikan aku berdaya

Magelang, Juni 2015 


Korban Salah Tangkap 

Ia sungguh butuh saksi sejati (?)

Setelah ia jadi penghuni pesakitan, ia berangsur jadi
pelupa
Nama sendiri pun tak ia kenali

Ia mulai tak paham dengan saudaranya
Jiwanya dibelenggu hatinya lebam membiru
Telah berubah jadi manusia dungu

Tapi tangannya selalu mengetuk ngetuk apapun di
anggap pintu
Seraya minta tolong dibukakan, ada yang hendak ia
ceritakan

Bola matanya masih menyimpan teman temannya
yang hilang
Ia ingin bersaksi, tapi ia sudah pelupa

Kaukah pendampingnya (?)

Magelang, Juni 2015 

Reformasi
:nasibmu kini 

terjagaku dari mimpi
mata terbuka
gemuruh memburu

membaca smsmu
jadikan getar seluruh tubuhku

aku
mati!

reformasi
yang digadang di bulan mei

berganti
berebut kursi
mengisi pundi pundi

Magelang, Mei 2015 

*) Umi Azzurasantika, lahir di Semanu, Gunungkidul, 14 Agustus 1980. Menyelesaikan S2 di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di kegiatan Forum Perempuan, menulis artikel, cerpen dan puisi di beberapa media cetak dan online. Ia kini aktif mengajar di SMK Negeri 3 Magelang sebagai guru Tata Kecantikan. Beberapa buku antologi bersamanya: Puisi Penyair Lima Kota (2015). Pelangi Perempuan Negeri, Di Antara Perempuan (2015), Puisi Menolak Korupsi 4 (2015), Puisi Menolak Korupsi 5 (2015), Jalan Remang Kesaksian (2015), Puisi Kampungan (2016), Memo Anti Terorisme (2016), Pentas Puisi Tiga Kota dalam Parade Pentas Sastra I/2016 Yogya (2016), Puisi prolog dalam Sang Penjathil (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Umi Azzurasantika
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 28 Agustus 2016
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi