Ayah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ayah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:24 Rating: 4,5

Ayah

TANGAN mungil Ranu menyambut pahaku, begitu aku membuka pintu. Segera saja kuangkat tubuh bocah lelaki lima tahun itu. Tubuh mungilnya segera membenam dalam dekapanku, suara tawanya pecah saat seluruh tengkuknya kuhabisi dengan ciuman.

Ranu adalah anak pertamaku, adiknya masih dalam tahap usaha, aku dan Mayang, istriku, sudah kepingin lagi memiliki anak kedua, tetapi Tuhan belum memercayai kami.

”Ranu, jangan ganggu ayah, ayah capek!“ Suara Mayang tak menghentikan tawa Ranu. Aku segera membopong bocah yang rambutnya seperti rambut jagung itu ke dalam kamar. Selanjutnya, suara Mayang lebih terdengar seperti air kran.

“Tadi Ranu belajar apa di sekolah, Nak?“ Tahun ini adalah tahun pertama Ranu kumasukkan sekolah TK, baru sebulan, tetapi sudah tidak mau ditunggui oleh ibunya. Sebenarnya, sejak setahun yang lalu, Ranu sudah merengek minta sekolah, apalagi jika melihat anak-anak tetangga berangkat sekolah setiap pagi, pasti ia akan merajuk untuk ikut. Namun, aku dan Mayang bersepakat untuk belum dulu mengirim Ranu ke sekolah.

”Tadi Ranu disuruh cerita tentang ayah. Semua teman Ranu juga.” Kududukkan Ranu di dadaku, aku tidur telentang di atas kasur dengan seprai bermotif kucing, yang baru tadi pagi dipasang oleh Mayang.

”Oya? Terus Ranu cerita apa, sayang?” bukannya menjawab, Ranu malah asyik memainkan daguku yang yang kasar karena tadi pagi tidak sempat bercukur.

”Nak, Sayang, tadi Ranu cerita apa tentang ayah?”

“Ranu cerita, ayah suka ajak Ranu jalan-jalan, sama Bunda juga. Ayah kalau malam tidak mau gosok gigi, kalau pagi suka ajak Ranu pergi buru-buru ke sekolah. Terus… Ranu juga cerita kalau ayah Ranu itu paling hebaatttt!“ Mata Ranu berkedip-kedip, rasanya aku melihar ribuan bintang di dalamnya.

”Yah, semua teman Ranu juga cerita ayah-ayahnya, kata si Raffa, ayahnya suka kentut…” Aku tergelak mendengar cerita Ranu. Mayang berteriak-teriak dari dapur.

”Eh, Yah, kan semua teman Ranu punya ayah, terus Ayah punya tidak?“ Tanya Ranu sambil mencium ujung hidungku.

Ayah? Aku?

Tiba-tiba saja aku melenting entah ke alam apa. Yang ada hanya kesunyian. Bukan, ini bukan alam kesunyian, melainkan alam kenangan. Pertanyaan Ranu, membuat kenanganku kembali hidup, kenangan masa kecil,kenangan masa aku berkelana untuk menemukan seseorang. Ayah. 

Aku ingat, masa itu, aku juga pernah menjadi Ranu hari ini. Berdiri di depan kelas dan disuruh bercerita mengenai sosok ayah. Kala itu, teman-temanku dengan riang gembira menceritakan ayah mereka. Ayah mereka baik. Ayah mereka selalu membelikan mainan. Ayah mereka selalu menggendong mereka. Ayah mereka selalu mengajari mereka naik sepeda.

Lalu, tiba giliranku, aku hanya berdiri saja. Diam mematung. Tak ada sesuatu pun yang aku ceritakan. Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang harus aku ceritakan. 

Teman-teman cekikikan melihatku mematung. Bu Harsi, berkali-kali mengerakkan tangannya, kode agar aku segera bercerita. Namun, hingga bermenit-menit lamanya, aku tetap tidak bersuara. 

Akhirnya Bu Hesti, guru kelasku, kalah. Beliau menyuruhku untuk kembali duduk tanpa bercerita. 

Sesampainya di rumah, seperti halnya Ranu, aku juga bercerita tentang yang terjadi di dalam kelashari itu, pada ibu. Tapi bukan ceritaku yang kusampaikan kepada ibu, melainkan cerita teman-temanku. Waktu itu aku melihat berkali-kali Ibu mengusap mata dan hidungnya. Di akhir ceritaku, aku bertanya, ”Ibu, apakah aku punya ayah?“, lalu ibu segera memelukku.

***
Berhari-hari setelahnya, aku terus bertanya pada ibu, apakah aku punya ayah. Tapi, ibu tak pernah menjawabnya.

Saat itu aku memang tak pernah melihat atau bertemu dengan seseorang yang bisa aku panggil ayah. Setahuku, aku hanya punya kakek, nenek, Pakde Bowo, Budhe dan Mas Anung. Iya, hanya itu, tidak ada ayah di antara mereka. 

Ibu baru memberitahu aku, tentang ayah, saat aku naik ke kelas dua SD. Sore itu, di musim hujan, dengan sepiring singkong goreng dan segelas besar teh manis, aku duduk berdua dan memang seperti itu selalunya, hanya kami berdua – dengan ibu di teras rumah. Sesekali tempias hujan mengenai mukaku.

“Nur, ayah sekarang sudah tidak ada bersama kita. Ayah sekarang ada di satu tempat yang jauh. Kita tidak bisa menemuinya sekarang. Saat ini ayah berada di satu tempat yang indah sekali, Nak, penuh dengan bunga-bunga.“ Suara ibu ditimpali hujan yang jatuh di daun-daun jambu air. pohon jambu yang nantinya akan menjadi tempatku menghabiskan waktu.

”Kenapa kita tidak menyusul ayah, Bu? Janur ingin punya ayah, seperti teman-teman.” Aku sama sekali tidak melirik singkong goreng yang masih panas, pandanganku menembus rintik-rintik air yang semakin lama semakin pekat. 

”Tidak bisa, Nak, nanti, kalau Nur sudah besar akan tahu di mana rumah ayah sekarang. Kalau Nur ingin main sama ayah di situ,” telunjuk ibu mengarah ke rindang pohon jambu air. ”Ayah Nur akan sering datang kesitu, menemui Nur.“

Setelah sore yang hujan itu, aku tak lagi pernah bertanya pada ibu mengenai ayah. Bahkan, ketika aku hanya bermain dengan ulat bulu dan semut merah di bawah pohon jambu, karena ayah tidak pernah benar-benar datang dan menemuiku di tempat itu. walaupun tidak seperti yang ibu katakan saat sore gerimis hari itu tentang ayah yang akan datang ke bawah pohon jambu air, aku selalu bermain di tempat itu, setiap hari, setiap sore sepulang dari sekolah, ajakan bermain dari teman-teman sudah tidak menarik lagi bagiku. 

Bahkan, aku menangis meraung-raung ketika ada tiga orang petugas PLN memangkas sebagian pucuk pohon jambu di depan rumah. Memang, pohon jambu kami sudah terlalu tinggi, sehingga pucuk-pucuknya mengenai kabel yang tepat membentang di atasnya. 

Seterusnya, aku selalu mencari sosok ayah dengan diam-diam selain di bawah pohon jambu. Di jendela ruang guru, di pasar sayur ketika diajak ibu belanja pada Ahad, di rumah Pak RT saat bapak-bapak kompleks tengah kerja bakti membersihkan selokan. Hasilnya nihil, tak pernah kutemukan ayah di tempat-tempat itu.

Aku ingat betul, pernah beberapa kali aku benar-benar menangis,membutuhkan kehadiran ayah. Seperti ketika aku kelas lima SD, saat acara perpisahan kepala sekolah dan seluruh wali murid diundang. Teman-temanku, semua datang bersama ayahnya, sedangkan aku? Tidak ada wali murid yang datang mewakiliku. Ibu lebih memilih masuk kerja, karena kalau tidak perusahaan akan memotong uang gajinya, dan bisa-bisa ibu kehilangan jatah uang belanja tiga hari. 

Di deretan kursi paling belakang, kusembunyikan mukaku di atas meja. Air mataku tumpah, ketika kupaksakan melirik ke arah teman-temanku, yang manja bergelendot di bahu-bahu besar ayah mereka.

Di akhir acara, Pak Rusdi, guru kelasku memelukku erat. 

Lalu, sepanjang masa remajaku, banyak sekali hal-hal yang membuatku terus merindukan kehadiran sosok ayah. Bahkan, sewaktu masa orientasi siswa baru ketika aku masuk SMA, aku hanya tercenung di depan kelas ketika tiba giliranku menceritakan secara singkat mengenai keluarga. Kata-kataku berubah menjadi tanda titik, ketika aku selesai bercerita mengenai ibu yang seorang pegawai administrasi di sebuah pabrik plastik. Hanya sosok Ibu yang aku bisa ceritakan di hadapan kelas.

Namun, aku tak pernah lelah mencari sosok ayah dalam hidupku, hingga ketika kehidupan yang sesungguhnya menempaku. Aku tak lagi mencari-cari sosok laki-laki dengan cambang kasar itu, karena aku mulai menemukan di mana ia berada.

Aku tak lagi cemburu ketika ada anak TK yang digendong ayahnya, aku tak lagi merutuk kalau Pakdhe Heri, tetangga sebelah rumah, asyik bermain dengan Tian, anaknya yang masih berusia tujuh tahun di depan rumah.

***
Sejak lulus dari bangku SMA, aku mulai samar-samar menemukan sosok ayah yang selama belasan tahun kucari-cari. 

Hidup menempaku menjadi seorang lelaki muda yang harus mampu menghidupi diri sendiri, sertaibu. Berbekal beasiswa yang kudapat aku menempuh pendidikan di Universita Negeri. Setiap sore aku gunakan untuk bekerja, apa saja. Mulai dari menjaga toko, membantu pedagang soto sore di depan kampus, hingga menjadi pelayan di sebuah kafe.

Ibu tak lagi pergi bekerja sejak aku kelsa tiga SMA, keseahatannya tidak baik. Aku kasihan sekali dengan ibu.

Saat itu, benar=benar menjadi masa terberatku. Saat itu juga adalah di mana aku paling menginginkan kehadiran sosok ayah di sampingku, di samping ibu. Namun di sisi lain, saat itu menjadi titik balik, di mana aku sadar bahwa ayah telah berada di surga, dan tak akan pernah mungkin mengunjungiku di bawah pohon jambu air di depan rumah. 

Tentang kehadiran ayah di bawah pohon jambu, seperti kata ibu,aku baru tahu apa sebenarnya yang dimaksud oleh ibu. 

Di bawah pohon jambu itu, tanpa aku sadari, ada satu pokok bunga lili bangkung berwarna oranye. Bunga itu tidak tumbuh sepanjang waktu, hanya tumbuh ketika bunganya akan mekar saja, setelahnya tak ada bekas apa pun. Begitu, selalu terulang sepanjang bulan, sepanjang tahun.

Dan tanpa kusadari, ayah memang selalu datang menemaniku bermain di bawah pohoh jambu, lewat kuntum bunga lili bakung yang munculnya tidak pernah kusadari. Terima kasih Ayah, telah menemaniku bermain! Aku sayang Ayah.

Ibu pula yang memberitahuku mengenai bunga lili bakung itu, bahwa itu adalah bunga terakhir yang sempat ditanam oleh ayah, sebelum beliau berangkat bekerja ke Malaysia dengan menumpang perahu kayu. Menurut cerita ibu, perahu kayu yang ditumpangi oleh ayah dan dua puluh teman lainnya terbalik di tengah lautan. Hanya lima jasad yang diketemukan dari tragedi tersebut, jasad ayah tidak termasuk dalam lima itu. 

Setelah ibu mengungkapkan rahasia kedatangan ayah di bawah pohon jambu, pelan-pelan aku mulai tahu dan menemuikan sosok ayah idamanku. Ia adalah ayahku yang sebenarnya, yang hangatnya selalu membangunkanku setiap pagi, menghangatkanku kala hujan tak berhenti turun di siang pada musim penghujan.

Iya, aku telah menemukannya, dan aku tak lagi mencari-cari sosok itu pada kelebat bapak-bapak dengan perut buncit, atau om-om botak. Ayahku lebih hebat dari semua sosok yang kukagumi saat SD, ayahku lebih hangat dan nyaman ketimbanng ayah teman-temanku. 

Bersamanya, aku mulai menapaki kehidupan yang sesungguhnya. Aku hanya belajar darinya. Tentang arti perjalanan, seperti halnya ketika pagi menjelma siang dan menapaki malam. Aku belajar bagaimana harus berbagi, seperti ketika matahari harus berbagi waktu dengan rembulan. Aku belajar semua darinya, ayahku.

”Ayahhh...!“

Ranu memekik keras di telingaku.

”Ayah punya tidak?“ Pangeranku masih asyik dengan jambangku yang kasar, setiap kali tangan mungilnya diusap-usapkan ke daguku, mataku rasanya hendak terpejam saja.

”Besok pagi ya, Sayang, sehabis shalat Subuh, Ayah akan mengenalkan Ranu dengan ayahnya Ayah, kakek Ranu.“ Mendengar jawabanku, muka Ranu berpendar penuh bahagia.

”Janji!“ Jari kelingkingnya diulurkan padaku, aku mengaitkan dengan kelingkingku, yang langsung disambut dengan penuh semangat olehnya.

”Janji!“

Suara keras Mayang dari dapur membuat kami segera bangkit, aroma kolak pisang bikinannya membuat kami berdua semakin cepat bergegas ke meja makan.

Suara Ranu seperti peluru yang ditembakkan berkali-kali, kegirangan karena makanan kesukaannya sudah amtang. Dan aku yakin, esok pagi, kalau aku tunjukkan padanya siapa ayahku, dia pasti akan lebih kegirangan.

Benar, besok pagi, ketika ia berkata, ”Ayah, sinar mataharinya hangat!“, maka akan kujawab, ”Iya, Nak, karena matahari itu adalah ’ayahku, kakekmu‘.“ ***

Justto Lasoo saat ini bekerja sebagai buruh migram di Taiwan. Selain menulis cerpen, ia juga menjadi penulis salah satu majalan berbahasa Indonesia yang terbit di Taiwan. Cerpen ”Ayah” berhasil menjadi juara pertama. Bilik Sastra VOI Award 2016 yang diadakan oleh RRI Siaran Luar Negeri.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Justto Lasoo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 13 November 2016

0 Response to "Ayah"