Bendera di Beranda | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Bendera di Beranda Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:34 Rating: 4,5

Bendera di Beranda

Di rumah tua itu, selalu saja ada seorang nenek yang mengeluarkan air mata. Merembes di pipi dan sesekali jatuh ke tanah hingga basah. Dari gurat-gurat wajahnya, sangat bisa dibaca, ia tengah merindukan seseorang. Dan bendera yang tergantung di beranda, adalah benda terakhir yang ia daku sebagai hadiah dari masa lalu. Hadiah untuk mengenang seseorang yang telah lama pergi. Seseorang yang benar-benar ia cintai.

Setiap sore tiba, nenek itu akan melihat bendera dari jendela rumahnya. Menghadap ke barat sambil mengingat-ingat: seorang lelaki pemberani dengan tekad yang kuat pamit akan berangkat ke medan perang. Dengan senjata seadanya, lelaki itu ikut rombongan gerilyawan. 

Tujuh puluh tahun yang lalu, seorang lelaki pergi dari rumah tua ini dan sekarang ia belum kembali. Nenek itu bercerita yang entah kepada siapa. Yang jelas hanya terlihat seperti bercerita pada dirinya sendiri.
Di rumah tua itu, ia adalah satu-satunya penghuni. Dengan tubuh yang rapuh dan mulut yang sering membisu, ia bersikeras agar tidak meninggal begitu saja. Artinya, ia meninggal dengan sia-sia dan tidak bertemu dengan seseorang yang ia tunggu. Mungkin takdir kematian di tangan Tuhan, namun manusia juga punya harapan. Manusia yang itu termasuk dirinya. Ia berharap waktu tak pernah mampu mengikis usianya. Ia berharap waktu berjalan begitu saja tanpa menyeret dirinya.
“Umurku dua puluh lima, Sri.” Kata lelaki dengan tekad yang kuat itu.
“Ya, umurmu dua puluh lima. Umurku dua puluh dua.” Kata perempuan yang hatinya lembut itu.
“Kita menikah dua tahun yang lalu.”
“Ya, kita menikah dua tahun yang lalu. Apakah kita bisa bersama dalam waktu yang lebih lama?”
“Sri, Sri Sumalah, suamimu ini orang paling setia di dunia setelah kanjeng nabi.”
Sri Sumalah tersenyum getir, namun ia percaya perkataan suaminya. Kalaupun toh lelaki itu berbohong, minimal dirinya sendirilah yang akan setia seperti istri kanjeng nabi.
“Aku akan pergi berperang. Jaga dirimu di sini baik-baik.”
“Aku akan senantiasa berdoa. Jaga dirimu di sana baik-baik.”
Kemudian hening. Ada jeda. Di antara mereka kini yang berbicara adalah aliran air mata. Memang, air mata tidak pernah bersuara. Tetapi, lelehannya, ya, lelehannya selalu dan selalu saja memberikan makna yang barangkali tidak setiap manusia memahaminya.
“Setelah pulang dari medan perang nanti, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke semua penjuru dunia. Ke pantai-pantai, ke gunung-gunung, ke tempat hiburan, ke pasar malam, ke mana-mana. Sebab, jika aku pulang,  negara ini pasti sudah merdeka.”
“Apa kau akan pulang?”
“Ya, aku pasti pulang. Sungguh. Aku pasti pulang.”
Tetapi, lelaki itu tidak pulang sampai tujuh puluh tahun berlalu. Tujuh puluh tahun yang sudah banyak membawa perubahan. Rumah-rumah semakin padat dan sudah dapat dipastikan, sawah-sawah semakin sempit. Orang-orang sudah malas untuk menjalankan kakinya. Di jalan-jalan hanya roda-roda yang berputar, membawa mereka. Orang-orang menyapa dengan klakson. Sungguh, seperti robot yang tidak diajari tatacara menyapa dengan baik dan benar. Sungai-sungai menjadi kotor dan bau. Udara seperti hanya debu, berwarna abu-abu.
“Sabar-sabarlah kau menunggu.”
“Menunggu itu sakit.”
“Tapi ada yang lebih sakit dari menunggu.”
“Apa itu?”
“Hidup di bawah naungan penindasan.” Maksudnya, pastilah hidup di negara yang dijajah bertahun-tahun.

Itulah kata-kata terakhir kali yang Sri Sumalah dengar dari mulut suaminya. Lelaki itu kini, misalnya kalau ia masih hidup, pasti sudah tua seperti dirinya. Dan meski begitu, setua apa pun, ia pasti mengingat janjinya untuk kembali. Atau kalau misalnya sudah mati, pastilah ia tidak mungkin kembali.

Tetapi, ia memang tak kembali sampai saat ini. 

Pagi-pagi sekali Sri Sumalah mencuci bendera yang tergantung di beranda rumahnya. Ia ambil bendera itu pelan-pelan. Kemudian ia membasuhnya dengan air yang penuh kembang. Dan tiba-tiba di matanya sudah ada air yang berlinang. Tentu, di hatinya masih banyak kesedihan yang menggenang.

Begitulah yang terjadi setiap bulan. Dengan sepenuh hati Sri Sumalah mencuci bendera ‘warisan’itu. Lalu dikeringkan di bawah terik matahari. Kalau sudah kering, bendera itu ia pasang kembali ke tiang gantungan. Bendera itu akan berkibar seperti semula, meski warnanya sudah tidak lagi bisa disebut warna. Sebagian tidak lagi merah dan sebagian lain tidak lagi putih. Kalau sudah berkibar seperti itu, Sri Sumalah akan memandangnya sampai magrib tiba. Sambil berharap, suaminya dengan keajaiban yang tak diduga-duga, datang dan menyapanya, kemudian menemaninya sampai ia meninggal dunia. Ya, apalagi kalau bukan meninggal dunia? Apalagi yang akan dikerjakan orang setua itu?

***
Suatu dini hari yang sunyi, Sri Sumalah dikagetkan oleh suara ketukan di pintu rumahnya. Ia kaget bukan karena ada yang mengetuk di dini hari begini, tapi karena sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah ada yang mengetuk pintu rumahnya, kecuali angin, kecuali udara dingin. Ah, jangan-jangan itu suamiku, gumamnya lirih. Selirih 

Sri Sumalah bergegas menuju pintu. Dan ketika pintu itu dibuka, ia tidak menemukan siapa-siapa. Hanya ada sepucuk kertas dengan tulisan tangan. Ia berpikir, siapa pengirim surat itu? Surat itu wangi. Surat itu misterius. Surat itu seperti tidak ada pengirimnya.

Dengan segala kebingungannya, Sri Sumalah menutup pintu kembali. Ia berharap-harap cemas. Apakah surat itu dari suaminya?

Ah, seandainya ia bisa membaca, pastilah ia tidak berharap-harap cemas seperti itu. Sebab, di sana sudah tertera jelas:

“Sri, Sri Sumalah yang setia, berhentilah menungguku, aku tidak akan pulang menemuimu. Sebab, meski penjajah-penjajah itu pergi, negara kita masih dijajah oleh penduduk-penduduknya sendiri.”[]

November 2016


Daruz Armedian, penulis lahir di Tuban. Penerima anugerah cerpen terbaik dari Balai Bahasa DIY tahun 2016. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan menjadi mahasiswa Fisafat UIN Sunan Kalijaga.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian (Dikirim langsung oleh penulis, thanks)
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 21 November 2016



0 Response to "Bendera di Beranda"