Benjor, Opera Sabun dan Cerita-Cerita | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Benjor, Opera Sabun dan Cerita-Cerita Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:20 Rating: 4,5

Benjor, Opera Sabun dan Cerita-Cerita

BENJOR sudah tuli ketika menonton opera sabun pertamanya. Kau tahu, pendengarannya itu tidak jelas --semisal kau mengatakan 'makan' padanya, maka dia akan mendengarnya sebagai 'makam', kemudian kau akan dikutuk-kutuknya karena telah menyumpahi dirinya mati. Misalnya orang bilang 'ayo makan', di telinga Benjor kedengarannya seperti 'ayo makam.' Atau, 'sudah makan?' yang terdengar seperti "sudah makam?" Dan karena pendengaran yang buruk itu juga, Benjor hanya bisa mendengar kata terakhir dari setiap kalimat dan menebak-nebak semua sisanya.

"KAPAN kau masuk makan?" untuk kalimat 'ayo makan,' dan mungkin, 'sudah kau siapkan makammu?' untuk kalimat 'sudah makan'. Itu satu saja dari sekian banyak misal yang bisa disebut--yang lain akan lebih menyebalkan kalau aku yang menceritakan. Jadi, biar orang lain saja.

Versi menantu Benjor:

Sebulan lalu mertuaku datang dan sekalian tinggal untuk selamanya bersama kami. "Orang tua tidak baik hidup sendirian," kata suamiku. Tentu saja, aku sebagai menantu yang baik nerima saja permintaan suami. Jadilah aku dan suamiku menjemput mertuaku. 

Sebenarnya, aku terima saja semuanya, kecuali dia langsung menguasai televisi di rumah dan menonton opera sabun seharian. Kami cuma punya satu televisi dan remote-nya mulai sekarang dipegang mertuaku, padahal aku sedang keranjingan acara masak-masak Sisca Soewitomo. Untuk membeli televisi yang lain, uang kami tidka cukup. Memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dicukup-cukupkan. Tapi, itulah, keluarga tetap keluarga. Orangtua tidak baik hidup sendirian. 

Pernah sekali, entah smeinggu yang lalu atau lebih sehari lagi, aku marah sekali. Bukan apa-apa. Mertuaku itu tuli. Orangtua saja sudah merepotkan, apalagi orangtua tuli. Jadi, begitu. Tapi, itulah, namanya kleuarga. Orangtua tidak baik hidup sendiri.

Jadi ceritanya hari itu aku masak banyak. Pernah catat resep dari acara Sisca Soewitomo, udang tepung saus pedas manis, terus aku coba. Aku tahu mertuaku suka udang, itu jadi alasan lain --Orangtua, sering kelihatan sudah lama tidak bahagia.

Waktu masakanku sudah matang, mertuaku orang pertama yang aku tawari. Sepiring penuh, udang tepung saus pedas manis, dengan tambahan daun seledri, banyak daun seledri-seledri bagus buat obat darah tinggi. Piring itu aku taruh di sampingnya yang sedang asyik nonton Marimar, wajahnya terharu waktu itu. Aku bilang, sambil sedikit teriak, "ini buat bapak."

"Ha?" jawabnya.

"Buat bapak."

"Oh, iya iya. Makasi."

Waktu udang tepung saus pedas manis itu habis, mertuaku minta lagi. Dia memanggilku sambil teriak-teriak, "tambah," katanya sambil menyodorkan bekas piringnya. Matanya merah, hampir menangis, karena menonton Marimar. 

"Bapak mau lagi? Tunggu sebentar ya, saya bikinin lagi. Yang tadi habis," jawabku.

"Ha, Babi?" mertuaku bertanya dengan bingung.

"Babi? Babi apa?" tanyaku dengan lebih bingung lagi.

"Iya, lagi. Ambilin bapak udangnya lagi.

"Iya, tunggu ya, Pak. Dibikinin dulu lagi."

"Babi?"

"Babi apa, Pak?"

"Kamu bilang bapak dulu babi?"

"Astaga. Lagi pak. Lagi!"

"Babi, babi! Babi matamu. Kamu babi!"

"Bapak babi!"

"Iya, bapak minta lagi. Kamu malah bilang bapak babi!"

"Arghhhh....!!!!" Aku mengambil remote kemudian mematikan televisi. Kembali ke dapur, berjalan sambil sedikit ngedumel. Intinya, jangan pernah bilang 'lagi' ke orang tuli.

Versi anak laki-laki Benjor:

Bapak sudah tua. Karena itu sebulan yang lalu saya bawa tinggal di rumah sama-sama. Kalau diingat-ingat masa lalu, bapak orang yang paling banyak ngajarin soal hidup ke saya, selain guru dan ustaz-ustaz di musala. "Oranng harus bekerja keras dan tidur yang cukup," pesan bapak sewaktu saya kecil dulu. Dan akhirnya, saya jadi seperti sekarang ini, dengan kerja keras dan tidur cukup.

Bapak juga yang mengajarkan pada saya, kalau orang setidaknya harus punya iman yang cukup kalau nanti kerja keras dan tidur yang cukup membuatnya hidup cukup-cukupan.

Dan jadilah saya orang seperti sekarang ini, yah, kalau bisa tidak kedengeran takabur, iman saya rasanya cukuplah--untuk sekadar ibadah lima waktu saya masih bisa terus tepat waktu. Berdoa tidak pernah lupa, meminta dilapangkan rezeki, diberi kekuatan untuk bekerja keras, dan waktu untuk tidur yang cukup. Yang paling penting, menjaga lidah supaya tidak bicara kotor, kasar, atau yang lebih buruk dari itu. Karena lidah lebih tajam dari pedang, dan pedang lebih nyata membunuh dengan tajamnya dari sifat  malas, iri hati, takabur, atau 96 sifat buruk lainnya.

Tapi belakangan ini, bapak seperti lupa diri. Maksud saya, beda sekali sama waktu saya masih kecil dulu. Mungkin ini yang namanya sudah uzur, orang tua kembali jadi anak kecil lagi, Yah, bapak juga seudah tuli. Wajarlah, sudah tua begitu.

Waktu pertama datang, bapak langsung tertarik sama televisi di rumah. Maklum, di rumah bapak belum ada televisi, dan sebelumnya bapak enggak butuh-butuh juga televisi. Tapi namanya orang tua, mungkin penasaran kan, jadi sekarang kerjaan bapak setiap hari ya nonton televisi.

Bapak paling suka nonton opera sabun yang judulnya, kalau tidak salah, Marimar. Bisa seharian di depan televisi nunggu opera sabunnya mulai. "Cantik," kata bapak.

Saya juga bingung, karena toh bapak tidak pernah benar-benar ngerti orang-orang di televisi ngomong apa. Bapak tuli. Tapi bapak kelihatan enggak peduli juga orang di televisi ngomong apa.

Bapak cuma diam saja menonton. Kalau muka artisnya sedang besar-besarnya di televisi, bapak coba-coba mencium kaca televisinya. Berdiri dari tempatnya duduk terus maju, lengkap dengan suara "umm...umm,...," agak tidak pantas memang, apalagi ada anak-anak kecil.

Tapi itulah, namanya orangtua, agak susah ditegur. Yang paling parah, bapak manggil artis-artis itu 'pelacur kecil.' Entah dari mana bapak punya pengalaman sama pelacur, itu membuat saya menduga hal-hal menyedihkan.

Setiap ada acara di televisi yang ada wanita cantiknya, bapak bakal mencium kaca televisi lengkap dengan 'umm...ummm..."nya dan "pelacur kecil."

Banyak anak-anak, tapi maklumlah, namanya orangtua. Saya perbanyak baca istighfar saja.

Versi cucu perempuan Banjor:

Kakek datang sebulan yang lalu. Habis itu enggak pulang-pulang lagi ke rumahnya.

Kakek orangnya lucu. Orang ngomong apa sama dia didengarnya apa. Ibu jadi sering marah-marah sendiri di dappur --pernah ngaduk sayur sup semangkuk besar sampai mendidih. Tangannya diputer kenceng-kenceng sambil teriak "babi, babi, babi!"

Bapak jadi sering ngelus dada, lebih banyak baca istigfar, tapi mukanya kelihatan semakin menderita tiap hari. Aku sih senang aja kakek datang, rumah jadi lebih meriah, dan ibu jadi bisa hemat minyak tanah--semua masakan diaduk-aduk sekarang.

Versi cucu laki-laki Benjor:

Kakek datang. Seharian kerjanya nonton TV. Masakan ibuk jadi enggan enak. Baterai gembotku habis, bapak pergi beli tapi belum balik juga sampai sekarang. Ya udah.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bayu Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 13 November 2016

0 Response to "Benjor, Opera Sabun dan Cerita-Cerita"