Biara - Diameter Cinta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Biara - Diameter Cinta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:20 Rating: 4,5

Biara - Diameter Cinta

Biara

Dulu, sebagai hambar, kubakar dupa supaya
pakaianku harum dan indah. Kini, sebagai musafir
kubakar wajahku untuk melupakan dunia.
Ryonen

Betul, Guru, telah kubakar wajahku
supaya kau mantap mengajariku, melupakan
asal nama dan sekerat daging gelap dalam tubuhku.

Kumasuki biaramu dengan bibir gosong dan mata kosong
supaya kau tunjukkan aku lelaku sebiji batu
yang telah menempuh bara dan abu/

Tidak. Bara dan abu telah ditempuh burung-burung getun
ketika mereka mengumpulkan daun-daun majnun
untuk menyusun unggun.

Ketika burung-burung getun itu
mencari terbang yang lebih tenang
seperti debu atau bulu tanpa diganduli gaung dan gurung.

Ketika burung-burung itu membubung
Seperti mengusir sisa mendung. Tahan kaki-kaki airmu
lantaran rintikmu tak sederas rancak sepiku/
Tidak. Tidak, Guru. Sepi dan semua amsal sedih
kini gosong, setelah kubakar wajahku
dengan batang besi merah marong itu.

Ketika batang besi marong itu menyentuh wajahku
wahai, Guru, kubayangkan itulah sang neraka
yang pertama dan terakhir untukku.

Kubayangkan juga jenglot, begejil, dan hantu-hantu
jadi gosong, seperti codot-codot tua yang berduka
tatkala menguntit langkahku:

wahai, lihatlah wujud kami, telah kami tanggalkan
takir terang, agar kami menjadi pembeda
seperti sisi malam dan sisi siang.

Tidak. Begejil dan hantu-hantu tahu
tak ada malam dan siang sebetulnya. Mereka
cukup tengil menangkal tipu-daya si matahari.

Seperti semut dan lumut yang tak terlipur oleh tidur:
semut-semut terus merambat, mencari serbuk malam
yang membuat kulitnya legam.

Sedang lumut-lumut tumbuh dengan lembut
seperti berbulu bulan yang berombak
memantulkan wajah si matahari retak.
Sementara anjing itu, Guru, terus menyalak ke luas arsy.

Namun, dengan begitu, anak-anak ayam kian awas
kucing-kucing juga kian mawas.

Beriring gunjing merekalah aku sampai di biaramu
untuk kali ketujuh. Tapi kenapa kau tetap bengong
menatap gosong wajahku, Guru?

Enam puluh kali mataku melihat alur musim gugur
kini ajari aku mendengar gemerisik pohon-pohon
saat angin tak terhambur...

2016

Diameter Cinta

Aku mencintaimu, karena kerap kusesap susumu.
Kau yang tak bisa kusebut sebagai ibuku.
Kau yang tak bisa kusebut sebagai saudariku seibu.
Tapi, bukankah kau lebih dari itu?

Tidak. Tidak hanya kau.

Kepada semua sapi dan kambing di bumi
Aku juga menganggap mereka sebagai saudara.
Sebab siapa tahu, telah kucampurkan susu bundanya
Ke lipatan roti atau kental kopiku.

Tidak. Tidak hanya kepada sapi dan kambing itu.

Telah kuluaskan diameter cintaku
Kepada kawanan jin, begejil
Dan hantu-hantu
Sebab menurut nenekku
Satu dari kakek-canggahku
Pernah disusui jin penunggu kebun tebu.

Tidak. Tidak hanya kepada jin, begejil dan hantu-hantu.

Kugenapkan pula cinta dan seduluranku
Pada coro, tikus, cuwut, marmut
Trenggiling, kadal, bedindang
Gangsir, moring, kalajengking
Kalong, orong-orong
Dan beribu-ribu nyamuk itu.

Biarlah para nyamuk itu
Masih suka mencuri-curi darahku.

2016


A. Muttaqin, lahir di Gresik dan tinggal di Surabaya. Buku puisinya yang akan terbit bertajuk Dari Tukang Kayu sampai Tarekat Lembu. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A. Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 6 November 2016 

0 Response to "Biara - Diameter Cinta"