Cinta Pedagang Nasi Uduk | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Cinta Pedagang Nasi Uduk Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:13 Rating: 4,5

Cinta Pedagang Nasi Uduk

DERING telepon di Sabtu senja itu mengejutkan hatinya. Nama yang muncul di layar ponsel tersebut adalah mantan muridnya yang pekan lalu baru saja diwisuda sebagai doktor hukum termuda di Universitas Indonesia, Depok. Sang murid mengundang beberapa guru SMA-nya, termasuk Khadijah.

"Doktor Faisla?" ujar Khadijah ragu-ragu.

"Assalamualaikum, Bu Khadijah," terdengar suara di seberang sana.

"Waalaikumsalam, Doktor," sahut Khadijah.

"Faisal, Bu. Atau, Ibu boleh memanggil saya Fai. Seperti waktu saya SMA, 12 tahun lalu."

"Faisal. Sekali lagi, selamat ya, kamu sudah menjadi seorang doktor bidang hukum termuda di UI. Ibu bangga," ujar Khadijah tulus.

"Terima kasih, Bu Khadijah. Bagaimanapun, semua ini tak lepas dari jasa para guru SMA saya, terutama Bu Khadijah."

"Ah, apalah saya ini, Faisal? Sudah tugas seorang guru mendidik murid-muridnya dengan segenap hati dan pikirannya. Sebab, bagi seorang guru, tidak ada kebahagiaan yang  lebih tinggi selain melihat murid-muridnya  sukses. Bukan sekadar secara materi, seperti gelar, kedudukan, pangkat, kekayaan, dan sebagainya. Lebih dari itu, sukses dalam arti bahwa murid-muridnya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat," tutur Khadijah.

"Itulah, Bu Khadijah, yang saya merasa sangat berutan budi kepada Ibu dan sampai kapan pun tidak mungkin bisa saya bayar."

"Ah, kamu berlebihan, Faisal."

"Tidak, Bu Khadijah. Saya diusir orang tua saya di Lampung karena sering terlibat tawuran, bahkan narkoba. Syukurlah, kakak tertua saya mengajak saya pindah ke Depok dan pindah sekolah. Kakak saya membawa saya ke beberapa SMA yang ada di kota Depok, namun semuanya menolak. Wajar saja, sekolah mana yang mau menerima murid pindahan yang tukang berantem dan terlibat narkoba pula? Hanya sekolah tempat Ibu mengajar yang ketika itu mau menerima saya."

"Saya masih ingat betul, guru pertama yang saya jumpai ketika itu adalah Ibu. Ibu wali kelas II IPS 1. Ibu memanggil saya ke kantor guru. Kata-kata Ibu selalu saya ingat, 'Faisal, Ibu tidak pedulu sehitam apapun masa lalu kamu. Ibu hanya peduli bahwa kamu bisa berubah  dan menjadikan orang tuamu bangga. Buktikan itu, dan Ibu bersedia  selalu berada di sampingmu."

Faisal terdiam. Khadijah menunggu. 

"Sepanjang hari, saya merenungkan kata-kata Ibu. Dan, saya berjanji dalam hati saya bahwa saya akan berubah. Saya akan memperbaiki diri saya. Saya akan belajar sungguh-sungguh agar menjadijuara. Saya ingin orang tua yang kemarin mengusir saya, suatu hari akan datang menghadiri wisuda SMA saya dengan bangga. Dan saya ingin kuliah S-1, S-2, hingga S-3. Alhamdulillah, Allah izinkan saya mencapai semua itu."

"Sejak pertama kali melihat kamu, Ibu yakin Faisal adalah anak yang baik dan sangat cerdas. Hanya potensi itu belum muncul karena Faisal terbawa pergaulan yang salah. Kalau sudah ditarik kembali ke relnya, Ibu yakin Faisal akan menjadi murid yang pandai dan baik. Ah, sekarang Faisal sudah doktor, Ibu masih S-1."

"Ibu memang S-1, tapi kehebatan Bu Khadijah setaraf, bahkan lebih tinggi dari S-3."

"Kamu berlebihan, Faisal. Tapi ngomong-ngomong, apa yang bisa Ibu bantu untuk seorang doktor nih?"

"Itulah, Bu. Saya mempunyai utang kepada Ibu yang harus saya tuntaskan."

"Utang apa, Faisal? Ibu merasa tidak pernah memberikan utang kepada kamu."

"Bolehkah saya bertemu Ibu di Margo City Ahad besok, bakda Zhuhur?"

"Bailah, Faisal."

"Terima kasih, Bu."

Selepas bertelepon dengan Faisal, Khadijah bertanya-tanya dalam hati. Apakah maksud Faisal?

***
Khadijah terlahir sebagai anak yatim. Ia anak satu-satunya. Untuk menghidupi anaknya, sang ibu berjualan nasi uduk. Ketika Khadijah duduk di bangku SD, ia mulai membantu ibunya berjualan nasi uduk. Hal itu terus ia lakukan sampai ia lulus kuliah di Unindra jurusan Bahasa Indonesia.

Saat ia kuliah, ada anak pengusaha yang sangat senang kepadanya. Ia menyatakan jatuh cinta kepadanya. Mereka bertemu  di sebuah acara antarkampus di Jakarta.

Namun orangtua pemuda tersebut tidak setuju. Apalagi, pemuda tersebut adalah  anak satu-satunya keluarga pengusaha kaya tersebut.

Orang tua pemuda itu bahkan datang  ke tempatnya berjualan nasi uduk dan menghinanya di depan umum. Sejak itu, ia trauma jatuh cinta.

Sampai akhirnnya, teman seprofesinya, seorang guru Agama Islam di SMA tersebut, datang melamarnya.

"Bu Khadijah, saya ini tidak punya apa-apa. Saya dari keluarga sederhana. Namun, saya punya cita-cita membina rumah tangga yang dijiwai oleh niat suci karena Allah. Rumah tangga yang insya Allah selalu diwarnai dengan syukur kepada Allah, amal saleh, dan saling mencintai dan menyayangi karena Allah. Kalau Bu Khadijah bersedia mendampingi saya mewujudkan cita-cita tersebut, saya akan senang sekali."

Tak butuh waktu lama bagi Khadijah menjawab lamaran tersebut. Sebulan kemudian, mereka menikah dengan perayaan yang sederhana di rumah Khadijah.

Ibunda Khadijah sudah meninggal dunia. Para pelanggan nasi uduk sering datang ke rumah Khadijah. Akhirnya, setiap Sabtu dan Ahad pagi dia berjualan nasi uduk untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Khadijah yang memasak nasi uduk, telur balado, serta semur tahu, tempe, dan telur. Sang suami menyiapkan gorengan berupa tempe, tahu, dan bakwan goreng. Khadijah melayani para langganannya dengan ramah.

Lima tahun pernikahan, Allah SWT belum memberikan kepercayaan berupa anak. Namun Khadijah dan suami selalu sabar sambil tak putus asa berdoa kepada Allah.

Ujian datang, sang suami meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas saat pulang menghadiri sebuah seminar pendidikan di UI.

Sudah empat tahun Khadijah menjanda. Beberapa lelaki datang kepadanya menawarkan pernikahan. Namun, ia menolaknya dengan sopan. Bagaimanapun, ia masih trauma terhadap orang kaya. Dan, di sisi lain, ia pun bertanya dalam hatinya, apakah mungkin ada lelaki lain yang sebaik almarhum suaminya.

***
Suasana Margo City setiap hari libur selalu ramai. Faisal mengajak Khadijah makan siang di Resto Hanamasa.

Seusai menikmati masakan Jepang tersebut, Faisal mengutarakan maksudnya mengundang Khadijah.

"Saya selalu terkagum-kagum perjuangan Ibu berjualan nasi uduk sejak SD sampai lulus kuliah menjadi sarjana. Terus terang, waktu SMA saya jatuh cinta kepada Ibu. Saya merindukan sosok seorang kekasih, seorang istri, dan seorang ibu bagi anak-anak saya kelak yang seperti Bu Khadijah. 

Namun, waktu SMA itu tidak mungkin . Bu Khadijah seorang sarjana dan seorang guru. Sedangkan, saya masih SMA. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Saya hanya menyimpan perasaan itu dalam hati saya.

Hari ini, saya mau menuntaskan cinta saya itu, Bu. Terus terang dan tanpa basa-basi, saya ingin melamar Bu Khadijah."

Khadijah terkejut. "Faisal, apakah sudah kamu pikirkan baik-baik? Ibu ini seorang janda dan usia Ibu sudah 37 tahun. Sedangkan, kamu masih muda, gagah, pandai, seorang doktor, dan juga seorang dosen. Kamu bisa mendapatkan wanita manapun yang kamu mau."

"Bu Khadijah, apakah salah kalau saya berusaha mewujudkan cinta SMA saya kepada seorang wanita idaman yang salehah bernama Siti Khadijah?"

"Ya ti... tidak salah, Faisal. Tapi apakah memang ini satu-satunya jalan tersebut?"

"Ibu selalu mengajarkan kepada saya untuk menjadi orang baik. Dan saya berusaha menjadi orang baik. Sekarang, saya mencari istri yang baik. Seorang pedagang nasi uduk yang hebat, seorang wanita yang penyayang, seorang wanita yang taat kepada Allah. Bukankah Ibu dulu pernah berkata, Ibu bersedia selalu berada di samping saya?"

Khadijah menunduk. Ia menggigit bibirnya. Tanpa disadarinya, butiran air mata menggenangi pelupuk matanya.

Faisal sabar menunggu. Ketika Khadijah menengadahkan wajah, Faisal  menyaksikan kilatan cahaya di sorot lembut matanya.

"Faisal, saya telah mengalami perjuangan hidup yang panjang dan berkali-kali jatuh bangun. Namun saya selalu yakin dan berprasangka baik kepada Allah. Bahwa Allah pasti akan memberikan anugerah-Nya yang terbaik kepada saya. Jika cinta ini memang jalan yang Allah pilihkan buat saya, baiklah, saya terima. Semoga saya dapat menjadi jalan bagi kamu untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat."

***
Upacara pernikahan digelar di sebuah masjid di Kota Depok. Banyak sekali tamu yang hadir. Baik dari kalangan guru-guru teman Khadijah, para dosen kampus tempat Faisal mengajar, maupun para kerabat dan sahabat kedua keluarga besar tersebut.

Faisal dengan bangga memperkenalkan istrinya sebagai wanita salehah yang dia kagumi sejak SMA dulu. "Butuh waktu 12 tahun mendapatkan cinta Bu Khadijah," ujarnya.

Keduanya baru saja usai emlakukan shalat sunah ketika Faisal menarik lembut tangan Khadijah ke atas ranjang.

"Bu Khadijah," ucap faisal lembut.

"Khadijah, Doktor Faisal," sahut Khadijah.

"Khadijah," ujar Faisal.

"Ya, Mas Faisal."

"Aku punya satu permintaan."

"Apa, Mas?"

"Bersediakah engkau membuatkan untukku nasi uduk yang paling enak sedunia besok pagi?"

Khadijah tidak menjawab. Dia hanya tersenyum yang teramat manis. Dan Faisal memang tidak memerlukan jawaban apa pun.

Di sebuah desa kecil, kutulis cerita ini, 2016.

Irwan Kelana, cerpenis, novelis, dan wartawan Republika.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irwan Kelana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 20 November 2016


0 Response to "Cinta Pedagang Nasi Uduk"