Demo Topeng | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Demo Topeng Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:49 Rating: 4,5

Demo Topeng

AKU heran melihat banyak orang memakai topeng, beberapa hari ini. Mereka seakan ingin menyembunyikan wajah mereka. Menutupi kerupawanan atau kejelekannya. 

Atau mereka sedang menyembunyikan sesuatu di balik wajah mereka. Sesuatu berupa kegembiraan, kesedihan, kecemasan hingga semua mimik perasaan yang bisa terlukis di wajah. Tak ada yang tahu selain mereka sendiri yang memakai topeng itu. 

Bagiku, topeng adalah sebuah alat. Ya, alat untuk menyembunyikan sesuatu yang terlukis di wajah. Karena itulah, aku ingin membeli sebuah topeng. Bukan buatku tapi untuk ibu. 

Topeng itu nanti akan kupasang di wajah ibu yang sedang terbaring sakit. Agar aku tak bisa lagi melihat mimik kesakitan di wajahnya. Berganti sesosok wajah tersenyum seperti yang terukir di topeng. Membuat hati ini tak merasa selalu trenyuh. 

Tapi aku tak menyangka kios penjual topeng satu-satunya di kota ini mendadak penuh sesak. Antrean orang tampak mengular hingga ke pinggir jalan raya. Aku terpaksa berdesak-desak demi mendapatkan sebuah topeng. 

”Hallowen bukannya sudah lewat tapi mengapa orang-orang masih banyak yang membeli topeng?” tanyaku ketika berhadapan dengan penjual topengnya. 

”Mereka ingin demo topeng.” jawaban penjual topeng membuatku sedikit bingung. 

”Demo topeng?” 

”Iya, pada Jum’at Kliwon besok.” 

”Buat apa?” 

”Memprotes ucapan pemimpin yang tak pantas diucapkan.” Aku tertegun mendengar penjelasan penjual topeng. 

”Bukankah sudah ada permintaan maaf?” 

”Bagi mereka, permintaan maaf saja tak cukup. Harus diproses hukum.” Aku manggut-manggut.

”Masnya juga mau ikut demo besok?” Aku tak menjawab. Masih ada keraguan di hati ini. Padahal seorang teman sudah mengajakku, sehari yang lalu. Bahkan ia akan membiayai semua keperluanku selama ikut demo, tapi tetap saja aku belum bisa memberikan jawaban pasti. 

”Kalau Masnya ikut demo besok, saya berikan gratis satu topeng ini.” Aku mengangguk pelan. Kuterima topeng pemberiannya. Lalu membawanya pulang bersama topeng untuk adik yang sudah kubayar. 

”Ibumu sudah tiada.” 

Ayah berkaca-kaca memberitahu sebuah kabar duka ketika aku tiba di rumah. Dunia seakan runtuh begitu aku mendengar ibu meninggal. Ayah memelukku. Membiarkanku menangis di pelukannya. Hati ini tenang rasanya. Ayah melepas pelukannya. 

”Seharusnya aku berjalan lebih cepat.” 

”Atau mungkin berlari agar aku bisa lekas sampai ke rumah. Memasangkan topeng di wajah Ibu.” Kesal, aku melemparkan topeng yang kubeli ke dinding. Hancur berserakan. 

Lalu kubersimpuh di depan jasad ibu yang terbaring diam membisu. Sekarang, aku benarbenar tak bisa lagi melihat wajah kesakitan ibu menahan perihnya rasa sakit. Aku tak tahu harus bersyukur atau bersedih mengetahuinya. 

Topeng gratis pemberian si penjual, kupandangi sejenak. Perasaan sedih masih terlukis jelas di wajahku. Aku ragu apakah setelah memakai topeng itu perasaanku akan berubah senang atau masih tetap sedih. 

”Tak ada salahnya mencoba.” Segera kupakai topeng itu. Ada hawa aneh menjalar di hati. Lama-lama kusadari, perasaan ini tiba-tiba berubah senang. 

Aku pun tertawa lepas. Hingga ayah kaget melihatku lalu menegurku keras, ”Ibumu baru saja meninggal, tapi kenapa kamu malah tertawa? Benar-benar tak tahu sopan santun ! ”. 

”Aku ingin melihat Ibu di atas sana tersenyum melihatku tak bersedih.” 

”Alasan saja, lebih baik kamu pergi dari rumah ini” Kuturuti keinginan ayah. Aku pergi dari rumah. Menginap di rumah teman. Kepadanya, kuberikan jawaban pasti aku akan ikut demo esok hari. 

***
Seratus ribu lebih orang sudah berkumpul. Memadati jalanan utama dan protokol kota. Mereka semua memakai topeng. Termasuk aku. 

Aku tampak diantara mereka, para pendemo. Tapi tujuanku lain, aku hanya ingin menutupi kesedihan kehilangan ibu. Bersembunyi di balik wajah topeng yang tersenyum. Membuat orang-orang menyangka aku selalu bahagia, jauh dari kesedihan. 

Aku dan para pendemo bergerak menuju ke balai kota. Tak mengeluarkan sepatah katapun. Tanpa ada orasi maupun pertunjukkan teatrikal. 

Semua berjalan lancar hingga blokade satu pasukan keamanan menghadang di depan. Satu persatu pendemo kulihat mulai melepas topengnya. Mereka seakan menampakkan wajah aslinya. 

Kemarahan yang selama ini mereka tutupi terlontar keluar begitu saja. Merusak apa saja yang ada di samping kanan kirinya. Melempari pasukan keamanan dengan apa saja yang ditemui di pinggir jalan. 

Aku menyingkir pelan-pelan dari kerumunan pendemo yang sudah beringas. Topeng masih aku pakai. Aku memang tak berniat melepasnya sampai kapanpun.  

Tapi sebuah tangan yang entah darimana datangnya menarik topeng dari wajahku. Aku kaget. Topeng yang kupakai akhirnya terlepas. 

Kesedihan yang kucoba tutupi terlontar keluar. Aku menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung sendiri di tengah jalan. Tak ada yang peduli padaku. Tak satupun dari mereka yang mendekati hanya untuk sekadar menghibur atau memelukku. Mereka para pendemo terlalu sibuk dengan luapan kemarahan sendiri. 

Di saat-saat seperti ini, aku teringat ayah yang sudah mengusirku. Rasanya aku ingin ayah kembali memelukku. Satu pelukan yang tanpa kusadari lebih baik khasiatnya daripada memakai sebuah topeng di wajah. - g 

Yogyakarta, 2016 

Herumawan Prasetyo Adhie, lahir di Yogyakarta, 30 September 1981. Menulis cerpen, cerita anak, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan Prasetyo Adhie 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 6 November 2016


0 Response to "Demo Topeng"