Di Air Manis - Hujan di Steba - Ia Terus Meniup Pupuik Padi - Di Tepi Purus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Di Air Manis - Hujan di Steba - Ia Terus Meniup Pupuik Padi - Di Tepi Purus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:46 Rating: 4,5

Di Air Manis - Hujan di Steba - Ia Terus Meniup Pupuik Padi - Di Tepi Purus

Di Air Manis

Getar tali kapal mengirimkan resah
Musim kering yang sebentar basah
Tahun-tahun berjalan di balik kelimun
Dalam kumparan ombak pecah lamun.

Tapi wajahmu tak bersisa lagi di buih
Penghabisan ratap dari cerita yang lirih
Hanya hujan membangun altar di lautan
: Sepi ombak malas berlari dari kejaran

Nasib baik dan buruk bertemu di badan
Jarak yang tiba mengembalikan ke mula
Jauh badan dibawa iseng ketipak angin
Ingatan bagai air ini: sebentar jadi dingin.

(2016)

Hujan di Steba 

Tali-tali angin putus di Steba
Dari Ulak Karang tinggal pautnya.
Kusapu pandnag ke kekal cuaca
Sebelum selesai hari baru bermula.

Berapa jauh jalan sudah kita tempuh.
Tapi habis pangkal bersua pada akhirnya
Di Steba, mungkinkah tali-tali angin putus
Atau hanya benang halus kusut di jiwa?

(2016)

Ia Terus Meniup Pupuik Padi

Mungkin ia terus meniup pupuik padi
Karena los masih membukakan saku
Para pelancong yang tak mau pergi

Dan karena menahan pedih sembilu
Yang diarahkan pandang seseorang
Jelang jenjang membenamkan tubuh.

Atau mungkin ia hanya betah berdiri
Sebab tergiur kepada sepotong celana
Yang mulai lapuk pada hanger biru itu.

Lantas terus meniup pupuik padi ini
Karena selalu gagal memberi judul
Bagi lagu yang didengarnya sendiri

(2016)

Di Tepi Purus

Daun-daun apakah yang kaususupkan
Hingga gelasku merah membayang?

Aku bertanya pada goni-goni rebah
Bagaimana muasal kota, lalu gamang,
Tapi hanya panas juga dan air terjerang
Yang menyebut sekian abad berselang
Sebuah kapal karam di sini dan kelasi
Tinggal tulang mulai menegakkan tiang
Bagi latar sederhana dan setaut dendang
Mengunci tubuh hingga tak ingin pulang.

Hatta, kini aku pun tak akan bertanya lagi
Buku jari siapakah yang meninggalkan
Separuh kelat hari silamku di sasar nanti

(2016)

Boy Riza Utama lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 4 Mei 1993. Ia bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Boy Riza Utama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 19 November 2016

0 Response to "Di Air Manis - Hujan di Steba - Ia Terus Meniup Pupuik Padi - Di Tepi Purus"