Hal yang Membanggakan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Hal yang Membanggakan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:06 Rating: 4,5

Hal yang Membanggakan

SEORANG tokoh dalam sebuah cerita yang saya buat, sungguh terpengaruh ujaran seorang tokoh di film Forrest Gump. Tokoh di film itu berujar, dalam hidup ini sebenarnya uang yang dibutuhkan hanyalah sedikit saja. Sebab selebihnya, yang penting adalah kebanggaan.

Tokoh dalam cerita yang sedang saya buat ini memang kemudian berpikir keras menafsirkan ujaran tokoh film itu. Penafsiran pertama, kebutuhan manusia akan uang memang hakikatnya tidaklah banyak. Per hari setiap orang pada umumnya, ambil contoh mudah, hanya perlu sekitar Rp 50 ribu saja untuk hidup. Maka, jika ada orang sampai korupsi miliaran, padahal ia punya gaji dan kelak uang pension, aneh juga. Betapa rakusnya orang itu. Sungguh, ia tidak memikirkan orang lain. Tidak memikirkan banyak orang yang menderita di luar diri sang koruptor itu.

Penafsiran kedua, soal kebanggaan menjadi hal penting, karena memang pada dasarnya setiap orang menjadi bernilai lebih di mata orang lain karena ada yang dibanggakan. Yang dibanggakan ini bisa saja prestasi atau hal lain yang berujung pada nama baik. Prestasi ini pun sungguh macam-macam: menjadi dokter yang baik, petani yang baik, wartawan yang baik, sastrawan yang baik, sales yang baik, pedagang yang baik, sopir yang baik, direktur yang baik, politisi yang baik, ulama yang baik, biksu yang baik, tukang ojek yang baik, guru yang baik.

Masih begitu panjang daftar kebaikan pada setiap profesi yang merupakan cerminan kebanggaan atau menjadi hal yang patut dibanggakan. Intinya: tokoh dalam cerita saya setuju bahwa setidaknya dengan kebaikan pada setiap profesi, akan membuat peluang kebanggaan atau hal yang dibanggakan bakalan muncul.

Tapi, persoalannya, ketika saya hendak menuliskan menjadi jalinan cerita utuh, tokoh dalam cerita saya itu bisa membelot. Ia menyalahi kesepakatan yang telah saya buat bersamanya. Ini sungguh aneh. Karena sebagai pencerita, sayalah yang memunyai kekuatan mengendalikan. Saya bisa men-delete dengan mudah jika alur yang saya tuliskan bergeser. Tapi, kenapa justru ia, tokoh yang saya buat di dalam cerita itu, yang bisa mengendalikan saya? Apakah ia tidak berdiri sendirian? Apakah ia jelmaan makhluk gaib dan diutus seorang dukun untuk mengendalikan saya? Benarkah ia bagian dari wangsit yang bisa turun dengan serta-merta dan menguasai siapa saja yang mendapatkan wangsit itu?

***
TOKOH di cerita yang membuat saya repot itu ujung-ujungnya mengantarkan saya pada seorang pakar sastra. Saya memang berterus terang pada pakar sastra itu agar mau membantu saya mengarahkan si tokoh yang saya buat sehingga ia tidak membelot. Jawaban si pakar sastra sangatlah mengecewakan. Katanya, saya malah dianggap sinting. Tentu saja saya jelaskan apa adanya. Jika tidak percaya, ia pun saya ajak mengetik sendiri di laptop milik asya. Benarlah, bahwa ketika ia mengetik seperti yang saya kehendaki, si tokoh di dalam cerita itu tetap membelot. 

”Lho, kenapa bisa begini, ya?“

”Kan saya sudah bilang, Pak. Saya mengalami problem mengarahkan alur sesuai yang saya inginkan. Saya tidak memrogram komputer menjadi seperti yang Anda rasakan sekarang.“

”Wah, ini memang ajaib.“

”Memang.“

”Jangan-jangan kita memang perlu dukun?“

”Lho, Anda itu pakar sastra, Anda kan ’dukun sastra‘? Kenapa masih perlu dukun yang lain?“

”Saya tidak memecahkan persoalan ini!”

***
KEMBALI saya menemui kekecewaan. Saya terus terang bingung mau minta bantuan ke mana. Sesuai saran teman, saya penuhi saja: saya tuliskan masalah itu ke status di media sosial. Sontak banyak teman memberi nasihat: ada yang cuma iseng, ada yang serius. Yang serius misalnya mengajukan solusi supaya saya menemui dokter jiwa. Artinya, proses penuntasan cerita itu didampingi dokter jiwa. Apakah iya? Karena itu merupakan saran yang saya anggap serius, tidak cuma iseng dan bergurau, maka saya pun kemudian mendatangi dokter jiwa. Saya ceritakan semua problem saya.

”Apakah Bapak bisa membantu?”

”Bisa.”

”Saya senang sekali mendengar kesanggupan Bapak.”

”Sudah, keluarkan saja laptop Anda. Sini saya bantu secepatnya.”

Dokter jiwa itu pun mengetik dengan cekatan.

‚“Nah, tuntas, bukan? Mudah sekali.“

Saya baca dengan seksama apa yang diketik dokter jiwa itu.

”Lho, kok tokohnya sekarang bisa menjadi menurut sama Bapak? Begitu Bapak yang mengetik, ia tunduk dengan Bapak.“

”Sudah saya katakan, saya bisa mengatasi.“

”Lantas?“

”Lho, ini sudah ending, sudah tamat ceritanya. Saya harus menemui tamu yang lain. Dan Anda harus membayar waktu saya yang saya gunakan untuk menuntaskan alur cerita Anda.”

Tentu saja saya bayar bill yang mesti saya berikan buat dokter jiwa itu. ia pun berpesan bagaimana dengan nasib karya itu di kemudian hari, misalnya dimuat di koran ia minta dikabari. Ia pun memberikan nomor ponsel. 

Selang sehari, tanpa saya edit lagi, saya kirimkan cerita itu ke sebuah koran. Selang satu minggu kemudian, dimuat. Saya adalah orang yang konsekuen, maka saya kabari dengan riang si dokter jiwa itu.

”Sudah dimaut, Pak. Silakan beli koran A.”

”O ya. Dengan senang hati.“

”Saya tidak perlu memberikan sebagian honor saya kepada Bapak, ya?“

‘”Tidak perlu. Silakan buat Anda semua.”

Tak saya sangka, ada yang mengunggah cerpen itu di media sosial. Dan mendapat banyak tanggapan. Begitu beragam. Rata-rata menyatakan ketakjuban. Satu-dua saja yang menulis status nyinyir. Mengolok-olok. Selebihnya, meskipun hanya basa-basi, tetap saja memuji.

Saya sungguh senang dengan respona pembaca, setidaknya yang saya dapatkan di media sosial. Ada di antara mereka yang menanyakan proses kreatif pembuatan cerita itu. Hal inilah yang saya anggap sebagai respons paling menarik. Maka, saya pun menjelaskan mengenai proses kreatif itu. Tak disangka lagi, ada yang berminat mau menerjemahkannya ke bahasa Inggris dan bahasa Braille. Wah, rupanya, apa yang saya tulis begitu mencerahkan banyak orang.

***
SETENGAH tahun kemudian barulah saya tahu bahwa cerpen itu sudah beredar di banyak negara dalam bahasa Inggris. Juga beredar di banyak sekolah tuna netra. Tentu saja, itu membuat saya bangga. Honor koran dari cerita itu tidak seberapa. Untuk hidup saya saja hanya cukup untuk tiga hari. Tapi, ternyata, apa yang saya buat sungguh berguna bagi banyak orang. Hal itulah yang juga membuat saya belakangan cukup sibuk membalas ragam komentar dan pertanyaan orang yang masuk ke inbox media sosial atau email. Ada yang secara terang-terangan ingin berjumpa dengan saya. Ada yang bertanya ini-itu. Pastilah yang saya suka yang ingin berjumpa itu. Apalagi dia perempuan. Saya segera penuhi permintaannya.

”Sebiji cerpen Anda bisa membuat heboh.”

”Saya curiga bukan karena cerpennya, tapi karena kisah pembuatannya.”

”Entahlah. Mungkin saja.”

”Saya iri dengan Anda.”

”Coba saja buat.“

”Bagaimana mau membuatnya? Tidak mudah meniru proses seperti yang Anda lakukan.“

”Masak sih?”

”Iya.”

”Terserah Andalah.”

Saya menangkap, orang tersebut ingin populer tanpa melalui proses yang alami. Dengan berbagai alasan, meski ia seprofesi dengan saya, saya percepat pertemuannya. Saya malas meladeni orang semacam itu. Saya mengharapkan ia bicara yang tidak membuat mual. Tapi, justru membuat saya mual. Sayang sekali.

***
SELANG setahun kemudian, baru saya tahu, cerpen itu beredar juga di rumah sakit jiwa. Menjadi bagian penting dari terapi pasien sakit jiwa. Dokter jiwa yang membantu saya menuntaskan cerpen itu dulu, memberi tahu soal beredarnya cerpen itu di rumah sakit jiwa tempat ia bekerja.

”Wah, lagi-lagi, ini kabar yang membanggakan saya, Pak.”

”Iya, saya juga bangga bisa membantu kamu. Kapan bisa main ke mari, saya akan pertemuan kamu sebagai penulis cerita itu kepada pasien-pasienku.”

“Kapan saja bisa, Pak. Tapi, soal peran Bapak, apakah hal itu juga akan diceritakan?”

”Diceritakan kan nggak apa-apa A.”

”Iya, segera, Pak.”

Ketika saya datang di rumah sakit jiwa itu, benarlah saya dipertemukan dengan banyak pasien. Tentu pertanyaan mereka lucu-lucu. Saya geli teramat sangat. Saya ngakak bukan kepalang. 

”Nah, mereka suka dengan cerita dan dirimu, kan?“

”Iya, Pak. Saya tidak menduga.“

”Kalau mau kau pun boleh tinggal di sini.“

”Maksud bapak?“

”Ya, tinggal di sini, bersama kami.“

”Dengan senang hati, Pak. Saya berutang budi kepada Bapak yang selama ini sudah membuat saya bangga dengan karya saya itu. Saya juga berutang budi kepada pasien-pasien Bapak. Merekalah orang yang saya rasa paling jujur pernyataannya sesudah memahami cerpen saya itu.“ • (k)

Jipangan, Oktober 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso 
[2] Pernah teersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 6 November 2016

0 Response to "Hal yang Membanggakan"